Cukuplah Cerita Robert Langdon Sampai Di Sini Saja!


*gambar dari wikipedia

Judul Buku: The Lost Symbol
Penulis: Dan Brown
Penerbit: Bentang
Jumlah Halaman: 705 halaman

Meskipun saya adalah fans buku-buku thriller Dan Brown, namun di sini saya harus katakan bahwa The Lost Symbol tidak lagi se-spektakuler petualangan Langdon yang lain. The Lost Symbol masih bagus, saya merelakan diri untuk tidak tidur semalaman untuk menghabiskan buku ini. Tetapi bagi saya yang sudah mengenal baik Robert Langdon di Angels and Demons dan The Da Vinci Code, saya merasa bosan.

Basis ide ceritanya sama. Slow start, cerita dibuka dengan pembukaan basi ala Dan Brown: mimpi. Langdon bermimpi naik bukit dengan sesosok perempuan di Angels and Demons (sosok itu di ending cerita menjadi Vittoria Vetra), Langdon sedang tidur ketika ditelpon Max Kohler di pembukaan The Da Vinci Code. Dan lagi-lagi, Langdon sedang tidur ketika ditelpon asisten Peter Solomon di The Lost Symbol. Memangnya Dan Brown tidak bisa membuat pembukaan cerita dengan lebih kreatif?

Riset tentang Mason nampaknya dirasa Dan Brown masih kurang ter-eksplorasi di dua buku awalnya, sehingga ia perlu membuat satu buku khusus yang membahas persaudaraan ini. Sehingga, saya melihat ada beberapa perulangan penjelasan simbolisme masonic di tiga buku Langdon ini. Mungkin bagi pembaca yang belum mengikuti petualangan Langdon, The Lost Symbol akan sangat menarik, tetapi bagi yang sudah, jangan kaget jika ada pembahasan-pembahasan simbol dan fenomena yang diulang di buku ini.

Karena masih itu-itu saja, petualangan profesor yang beranjak menua ini pun mudah ditebak. Bahkan motif si antagonis dalam menjalankan misinya yang membuatnya harus berhadapan dengan si tokoh protagonis, saya sudah bisa meraba-rabanya sejak awal. Dan Brown harus membuat sesuatu yang baru di luar Robert Langdon, seperti ketika dengan jenius bercerita di Deception Point dan Digital Fortress.

Oke, saya belum mengulas jalan cerita buku ini. Jadi ceritanya, setelah terkenal dengan petualangan seru di Vatikan, kemudian mengulas sejarah agama yang kontroversial melalui lukisan-lukisan Leonardo Da Vinci di Paris, Robert Langdon mengobrak-abrik ibu kota Ameria Serikat, Washington DC, melalui petualangan yang tak kalah mendebarkan. Setting utama yang diambil adalah Gedung US Capitol, dengan Freemasonry sebagai titik bahasan utama.

Seperti yang dijanjikan Langdon dalam salah satu kuliahnya di Harvard, Washington DC adalah kota yang penuh simbol, kuil, terowongan, ruang bawah tanah, lukisan-lukisan, seperti Eropa. Nyaris semuanya dideskripsikan dengan mendetail (kekuatan novel-novel Dan Brown — deskripsi, setting dan penokohan yang detail). Dan yang menarik, Washington DC menyimpan rahasia yang — seperti kebanyakan rahasia terbaik lainnya — tersembunyi mencolok di depan mata. Rahasia-rahasia itulah yang membawa Langdon kembali terjebak dalam sebuah petualangan semalam yang menantang maut.

Entahlah, meskipun saya menghabiskan buku ini dalam semalam saja, menurut saya ini adalah buku terburuk Dan Brown. Bagaimana menurut Anda? Sudah baca buku terakhir Dan Brown ini?

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

6 comments

  1. setuju banget.. emang terasa pola bercerita n alurnya tidak berbeda dgn A&D n Davinci code. karenanya jadi agak ga seru.. tapi tetep salut deh, buku setebal itu hny mnceritakan kejadian satu malam..

  2. pdhal udah aku bela2in beli yg hard cover limited edition….
    ahh ternyata..

    malah pas serunya waktu tau kalo mal akh tnyt anaknya sapa tuh.. yg tangannya dipotong ya ?

    begitu mudah dilupain. kurang berbekas. symbol2nya tdk bgtu mengena. rugi juga udah bli yg hardcover..

    at least.. cukup kecewa 🙁

Leave a Reply to Nanang Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *