Demi Waktu

Ada hal yang menarik ketika saya membaca salah satu buku yang ditulis oleh Dr. Quraish Shihab1 ketika membahas tentang surat Al-Ashr. Kata ‘ashr hanya ditemukan sekali penggunaannya dalam Al-Qur’an, yaitu Wal ‘ashr, demi masa. Ternyata secara etimologis, kata ‘ashr atau masa ini berasal dari akar kata yang berarti “memeras atau menekan dengan sekuat tenaga sehingga bagian yang terdalam dari sesuatu dapat keluar dan nampak di permukaan”.

Untuk kesekian kalinya, saya mengangkat tema waktu di blog saya ini. Untuk kesekian kalinya lagi, setiap kali saya ingat tentang waktu, saya ingat surat favorit saya ini. Cekak aos. Singkat padat.

Jika pepatah Inggris mengatakan time is money, bagi saya, waktu adalah kesempatan. Waktu adalah modal awal kita untuk melakukan segala sesuatu. Setiap dari kita diberi jatah modal yang sama: 24 jam sehari. Dan kesempatan itu bisa kita jadikan apa saja semau kita: mau jadi uang, ilmu, relasi, dsb.

Seberapa produktif kita memanfaatkan waktu, semua tergantung dari kita dalam memanfaatkan waktu. Astaga, tidakkah kita menyadari kalau kepentingan kita begitu banyak? Bagaimana harus membagi waktu dengan efektif dan efisien?

Ketika saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan formal saya ke jenjang S2, saya sadar bahwa waktu saya telah habis. Pagi hingga sore bekerja, kemudian malam kuliah. Dalam kuliah saya kembali berkutat dengan materi-materi yang sangat padat, yang sebenarnya sangat menarik untuk dikaji dan dipelajari, sayangnya, tidak banyak waktu untuk mengupas setiap detail bahan kuliah dengan mendalam.

Padahal, saya masih ingin melakukan sesuatu yang masih saya rindukan: mengajar. Darah guru mengalir terlalu deras di tubuh saya karena kedua orang tua saya guru dan kakek-kakek saya juga guru. Ketika di kampus saya mendengar ada akses untuk bergabung ke lembaga NGO (Non-Government Organization) — LSM, saya sebenarnya ingin bergabung. Mungkin bisa mengajar anak-anak SD, menerangkan persamaan linier matematika, atau sekedar mengenalkan Linux Ubuntu.

Tapi apa daya? Saya mungkin masih punya Sabtu dan Minggu, tapi saya takut tidak bisa mengejar ketertinggalan saya di kuliah jika dua hari itu tidak saya pakai untuk belajar materi kuliah. Saya agak lambat dalam menyerap materi sehingga perlu waktu yang lebih panjang untuk bisa mengerti. Rasanya, semakin banyak subjek yang dipelajari, saya merasa semakin bodoh. Setiap subjek memiliki detail, dan kita tentu tidak mungkin menguasai setiap detail yang banyak itu.

Begitulah, semoga keluhan saya ini sedikit banyak bisa menginspirasi Anda yang mungkin masih memiliki banyak waktu luang. Atau terlalu lama bersantai-santai. Atau sibuk keluyuran dari wall ke wall. Marilah kita produktif, 24 jam itu terlalu cepat kawan. Seminggu itu sekarang lewat begitu cepat. Mungkin, panjang satu minggu sepuluh tahun yang lalu rasanya sudah sama dengan panjang satu bulan di masa sekarang.

Wal ‘ashr, innal insaana la fii khushr illa…

1 Lentera Hati. Dr. M Quraish Shihab, M.A, Penerbit Mizan: 1994

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 comments

  1. Serasa ditampar, om… matur nuwun sanget untuk tulisan ini.

    Eh cita-cita gurunya tetap tho? Semoga tercapai deh, tak doain dari sini. Tapi D40nya buat saya aja tho. Toh nda dipake quququ

  2. Konon sabda rasul, “Waktu adalah pedang”. Menurut saya ini yang paling tepat. Kalo kita pintar menggunakan, manfaatnya besar sekali. Kalau tidak ya dia bisa membunuh kita.

    Di film Batman ’89, Joker (Jack Nicholson) berkata, “So much to do, so little time” 😀

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *