Tentang Java Jazz Festival 2010

mayahasan2.jpg

Maya Hasan and Friends
Lokasi: JIEXPO Kemayoran, Jakarta Pusat
Canon Ixus 120 IS

Akhirnya setelah dua tahun berturut-turut tidak kesampaian nonton, tahun ini saya berkesempatan menonton pergelaran tahunan festival musik Jazz yang diselenggarakan di JIEXPO arena PRJ Kemayoran Jakarta. Acaranya meriah, meskipun dengan berbagai catatan keluhan, tetapi acara inti — pergelaran musik jazz-nya itu sendiri sangat menarik.

Entah sengaja atau tidak, saya ternyata memilih venue yang boleh dikatakan kurang populer dibandingkan dengan stage lain. Saya memilih melihat Maya Hasan (harpa) berkolaborasi dengan Fariz RM dan John Paul Ivan (gitaris Boomerang), padahal di stage lain ada Elfa’s Singer. Kemudian waktu orang hiruk pikuk antri masuk ke stage Babyface, saya memilih menyaksikan Om Bubi Chen, legenda piano jazz Indonesia, beraksi.

Saya pikir akan cukup sulit melihat Maya Hasan mengingat alat musiknya yang sangat spesifik dan tidak populer: harpa. Kemudian juga Bubi Chen dalam usianya yang sudah 74 tahun. Kesempatan untuk mendengarkan teknik improvisasi elemen-elemen chord jazz-nya akan semakin langka di tahun-tahun ke depan.

Pencitraan

Salah satu hal yang patut dipuji adalah bagaimana usaha pencitraan musik Jazz di Indonesia yang menurut saya berhasil — jika yang dijadikan parameter adalah antusiasme penonton terhadap Java Jazz Festival. Musik jazz yang kental saya kira sulit mendapatkan apresiasi yang luas tanpa adanya usaha pencitraan yang telah dilakukan.

Citra musik jazz yang menyasar segmen pasar menengah ke atas saya kira juga berperan. Orang yang menyukai musik jazz selalu dianggap memiliki selera musik yang baik — kesannya high class. Ini penting untuk anak-anak muda yang memerlukan identitas. Jika datang ke festival jazz terbesar membuatmu terkesan punya selera musik tinggi, mengapa tidak? Cukup hadir di sana, segera sebarkan status di Facebook dan Twitter, kemudian segera upload foto-foto yang diambil dari BB terbaru dengan pose senarsis mungkin di dekat tulisan “Java Jazz Festival”.

alay.jpg

Mungkin ini juga salah satu sebab panitia menghadirkan musisi yang tidak melulu jazz murni. Kehadiran Elfa’s Singer, Andra and the Backbone, dan Gigi barangkali untuk melayani penggemar yang sebenarnya tidak terlalu suka musik jazz murni. Beberapa musisi jazz juga ada yang memodifikasi musiknya sehingga menjadi musik pop dengan unsur-unsur jazz kental, bukan jazz murni.

Yang jelas, untuk tiket terusan seharga Rp. 150.000 untuk menikmati berbagai macam jenis musik, saya kira harganya sangat sesuai. Memang kita tidak akan melihat seluruh venue (pada kenyataannya, saya hanya melihat dua stage secara utuh, satu hanya lima belas menit), tetapi dengan banyak pilihan, acara semacam ini menjadi sangat menarik. Tahun depan, saya harap bisa hadir di Java Jazz Festival 2011.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 comments

  1. Tahun depan, saya wajib hadir! *sigh padahal tahun ini udah ancer-ancer pengen nonton JJF*

    Andra and The Backbone nyanyi opo tho? *gak kebayang*

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *