Buku Mencerminkan Kepribadian Kita

Dalam kasus pembunuhan berencana di novel Pembunuhan di Mesopotamia (Murder in Mesopotamia), Hercule Poirot mencoba menggali dan mengenal korban pembunuhan, Mrs. Leidner, dengan cara melihat-lihat koleksi bukunya. Hanya dengan dari koleksi buku Mrs. Leidner, Poirot bisa melukiskannya sebagai seorang yang mandiri, berkemauan keras, dan cenderung memiliki keinginan untuk menjadi pusat perhatian.

Jika Anda suka membaca, mungkin Anda setuju dengan saya bahwa Anda akan memilih buku yang Anda suka untuk dibaca. Sedikit banyak, kita memilih buku yang membangkitkan minat dan ketertarikan. Saya menyukai cerita yang misterius dan dramatis, oleh karenanya rak buku saya banyak bertumpuk novel-novel thriller pembunuhan dengan variasi yang macam-macam. Agatha Christie memasukkan unsur psikologi. Sidney Sheldon menyajikan drama yang cepat yang memilukan. Sandra Brown memasukkan unsur romantisme yang tragis.

Meskipun sering dibilang melankolis, saya tidak terlalu menyukai novel-novel yang terlalu romantis dan girly macam seri Twilight. Dan entah kenapa hingga sampai saat ini saya tidak bisa tahu dimana enaknya baca seri Harry Potter yang sangat terkenal itu.

Disadari atau tidak, koleksi buku kita juga mencerminkan tingkat kecerdasan. Misalnya, orang yang koleksinya chiklite, teenlite, chicken soup tentu dinilai berbeda dengan mereka yang koleksinya sastra seperti Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana. Berbeda lagi dengan yang koleksinya buku-buku — asli bukan terjemahan — karya Dickens.

Mungkin setelah ini Anda bisa mengamati koleksi di rak buku Anda, atau membuka account Anda di Goodreads.com dan perhatikan apakah pendapat saya ini salah atau benar. Mari sharing di komentar di bawah atau trackback di blog Anda sendiri. 😉

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

16 thoughts

  1. oia ini statistik setelah mengamati koleksi buku saya: masih ada 15 buku lumayan tebel dengan aneka topik, mulai sains sampe engineering, yang masih utuh di dalam plastic wrapper, lalu ada tumpukan majalah FHM, audiopro, tabloid RUMAH, buku-buku tulisan imelda akmal (aplikasi arsitektur), buku-buku dengan tema komputer (kebanyakan tulisan richardus eko indrajit sama onno w purbo, ANTI gregorius agung), beberapa buku dengan topik agama (kebanyakan bukan beli sendiri tapi hadiah), 1 deret buku tentang motivasi dan pengembangan diri, tak lupa buku tentang kucing ;). oia, ada 4 qur’an yang semuanya sudah berdebu! (doh, ketok ndak tau diwoco)

    masih banyak lagi… [hampir 50% belum saya baca sampe habis, cuman skimming aja]

  2. Hmmm… Fantasai, sci-fi, novel2nya pramoedya ananta toer, freakonomics, blink, tipping point, outliers, dan what a dog saw-nya Malcolm Gladwell, the las godfather.

    Belum termasuk ebook yang dibaca kayak buku soal Micro Expression dari Paul Ekman.

    Masih belum kebayang aku orang kayak apa. 😛

  3. Aku ga terlalu suka novel terjemahan. Buku terjemahan yang sudah aku baca dan bagus menurutku cuma Harry Potter dan bukunya Dan Brown.
    Lebih menghargai buku dalam negeri, bagus-bagus kok 🙂

  4. @Fenty:
    aku nggak bilang begitu, harus dilihat secara keseluruhan minatnya terhadap buku-buku. aku cuma bilang nggak suka baca harry potter, dan pembaca teenlit itu berbeda dengan pembaca sastra-sastra berat. itu dua hal yang berbeda (di paragraf beda pulak) :p

  5. Saya sudah melahap buku-2nya Agatha Crietie sejak kelas 6 SD, saya rasa membaca buku tebal bukan masalah buat saya apalagi kalau penulisnya sangat imaginatif dan cara bertuturnya enak . . . kadang saya juga suka baca macam teenlit atau chicklit itu hanya semacam selingan karena bacaan seperti itu sering banyak bercerita soal percintaan picisan yang gampang ditebak akhirnya gimana . . . oya saya sendiri ga punya koleksi buku, lebih suka minjem 😉

  6. Sederhananya mungkin orang-orang yang maunya melahap novel-novel yang ringan saja menggambarkan pribadi yang nggak suka ribet.. maunya easy going. Dan sebaliknya 😀

  7. Saya suka baca blog orang. Rasanya seru membaca apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan orang lain. Kalau itu artinya sifat saya gimana?

    Oya, mau komentar tentang HarPot. Saya pertama kali baca yang ke-6. Sebelumnya saya tidak tertarik sama sekali. Yang membuat saya tertarik adalah penggambaran karakter HarPot yang ternyata punya sisi keras kepala dan ngeyel dan bisa membuat teman-teman akrabnya berkata dalam hati “percuma bicara dengannya”. Ternyata tokoh utamanya bukan orang sempurna, beda dengan novel anak muda yang seringnya mengangkat tokoh utama yang perfect.

  8. kalo, yang penting ada yang dibaca? termasuk yang mana lih? soalnya kalo ndak baca sesuatu sebelum tidur, jadi susah tidurnya.

  9. kalo aku sih yang penting aku suka, nggak peduli orang bilang apa, nyatanya mereka nggak berani kasih koment ke aku walau aku suka baca harpot, karna orang menilai kita dari kita menilai / menghargai orang lain bukan dari koleksi buku kita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *