Tentang Kata “Which Is”

Udara dingin sedang menyelimuti Jakarta malam itu. Hujan deras menyusul tanpa ampun mengguyur kawasan Pancoran dan sekitarnya. Tetapi bagi saya, malam masih panjang. Di sebuah sudut ruang 303 gedung ILP Pancoran Jakarta Selatan, guru Bahasa Inggris saya, Ms Rina, sedang menjelaskan kalimat majemuk Bahasa Inggris yang menggunakan konektor from which.

Seketika itu pula, saya teringat oleh fenomena berbahasa yang cukup mengusik saya sejak tiga tahun yang lalu. Saya amati, para profesional khususnya di Jakarta ini cukup suka memakai bahasa campur-campur. Setengah Bahasa Indonesia, setengah Bahasa Inggris. Saya tidak tahu apa motifnya, tetapi saya sering menjumpai ini. Misalnya,

Kita membutuhkan barang kelas A yang harus didatangkan dari Singapore, which is itu sangat sulit kita lakukan.

Ini menarik. Which is. Saya kira, kalau kita konsisten menggunakan Bahasa Indonesia, kalimat di atas sebaiknya,

Kita membutuhkan barang kelas A yang harus didatangkan dari Singapura yang mana itu sangat sulit kita lakukan.

Penghubung yang selalu dipakai adalah which is. Padahal, di Bahasa Inggris sendiri, konektor banyak sekali macamnya tergantung konteks. Which is, who is, where, from which, in which, dsb. Artinya, kalau andai kalimat di atas dijadikan Bahasa Inggris, belum tentu penghubung which is itu tepat penggunaannya.

Lingua Franca

Banyak sekali unsur-unsur yang merusak (atau justru memperkaya?) bahasa kita. Paling sering saya temukan adalah penggunaan Bahasa Inggris. Mungkin Bahasa Inggris terdengar lebih enak di telinga ya? A New Day Has Come rasanya pas banget jadi judul blog saya ketimbang Suatu Hari yang Telah Tiba yang terdengar jadi aneh.

Mungkin karena Bahasa Indonesia adalah berkembang dari bahasa pergaulan (lingua franca) sehingga sangat fleksibel dalam struktur gramatikal dan mudah menerima pengaruh dari bahasa lain.

Memang rasanya jadi aneh jika dalam pergaulan kita menggunakan bahasa baku. Nggak usah jauh-jauh, saya merasa blog ini menjadi sangat resmi, sopan, kaku, nyungkani (segan), dan mau tidak mau itu mencitrakan saya. Tetapi itu semata-mata agar saya tetap bisa melatih dan menjaga Bahasa Indonesia saya dengan baik dan benar. Saya tidak terlalu piawai berbahasa dengan baik, oleh karena itu saya menulis dengan bahasa yang baik untuk melatih kemampuan berbahasa.

Saya pikir, kita sulit bisa menguasai Bahasa Indonesia baku dengan baik sekaligus Bahasa Indonesia gaul (loe gue ala orang Jakarta). Karena lidah saya adalah lidah Jawa yang tidak bisa direparasi lagi untuk mengeja gue dengan fasih, saya memilih untuk menjaga Bahasa Indonesia saya agar tetap rapi, terstruktur dengan baik, dan tidak terlalu melenceng dari kaidah. Sudah Bahasa Inggris berlepotan, Bahasa Indonesia sama saja. Secara tidak mampu dua-duanya, akhirnya yang ada adalah bahasa campur-campur nggak jelas seperti penggunaan kata which is itu tadi. 🙂

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

25 thoughts

  1. hehehe campur2 itu supaya kedengeran hebat sat.. tapi sering ada yang nyerocos pake bahasa inggris jebule jembret kabeh..

    kalo niatnya buat belajar sih oke.. tapi kalo niatnya pamer ya malah diketawain orang..

    [untungnya ada google translate xixixix]

  2. hehehe, kadang2 sulit menemukan bahasa indonesia yang tepat, lih, jadinya pake bahasa inggris, seperti … “aku wonder aja” secara kalo panjang, “aku bertanya-tanya” hahahaha …

    tapi emang mesti dibiasakan berbahasa indonesia yang baik dan benar kok 🙂

  3. Gimana kalau pakai penghubung ala prancis aja: qui, que dan ou.

    *cara mbalas orang sok2an pakai Inggris tapi belepotan: Ngomong Inggris campur Prancis :P*

  4. @budiono:
    kalo berprasangka baik, mereka kadung terbiasa berbahasa inggris (jadi kek cinthca lawra dong)

    @fenty:
    ah yang sulit dibahasakan misalnya istilah-istilah asing seperti printer driver, cache (tembolok). kalau wonder kan bertanya-tanya lebih umum dipakai (hmm… kok terjemahanku plurker bangets ya…)

    @hedi:
    jadi bukan pengayaan bahasa ya?

    @dnial:
    eh bien, kalau mau cari contoh yang bagus, hercule poirot bahasa inggrisnya terpatah-patah dan selalu dicampuri dengan bahasa prancis. ^^

  5. tentang lidah jawa. ini juga kadang jadi masalah. masalah kalo sedang menggunakan akses jawa dengan orang yang sesama jawa di tengah orang yang bukan jawa.
    langsung di teror atau minimal di lirik kok pede-pedenya pake bahasa jawa, hoho.

    meski kadang bener2 lingu franca yang dipake, ya jawa ya indo ya inggris (bingung dewe, hehe)

    1. Banyak orang malu dengan aksen jawa nya,, takut di bilang medok lah katrok lah,, lha wong kalo dasar e jowo yo piye neh,, hehe kalo saya sih berusaha pede aja… Saya juga malah ttp mempertahankan ke “medok” an saya hihihi

  6. Intinya jangan setengah-setengah yak.. ya kalo mau ngomong sok English, be prof in that ^_^ . Tapi saya mah kepengen menggalakkan berbahasa Indonesia yang baik ^_^

  7. itu namanya motivasi belajar mas… kalw full 1 bahasa susah… jd campur” lama” akan bisa… apa lagi ada yg ralat kalaw salah.. pasti cpt ngerti..

  8. hai…
    kita punya perhatian yg sama nih. Terlepas dr berbagai alasan mengapa seseorg bicara dgn campur2 bahasa ind-english, saya jg heran atau prihatin(?) dgn bnayak nya lirik2 lagu khususnya rap/hiphop mnggunakan bahasa campur aduk begitu. Kebebasan berekspresi yang malah tdk menunjukkan kemandirian bhs ind, menurut sy. Oya, apakah kamu bisa beri saran artikel/buku atau apapun itu yg bisa menjawab keprihatinan sy td?

    trims
    salam
    dian

  9. Kenapa sih sekarang banyak orang mengucapkan kata ‘secara’ sebagai awal kalimat? Misal: “secara dia tidak biasa pulang cepat hari ini”. Kok rasanya tidak tepat ya? Risih mendengarnya..hehe.

  10. aku sendiri mengartikan itu sebagai belajar ya. positif positif^^. Aku salah satu orang yg suka “sok” berbahasa inggris. Bukan pamer, tp ya supaya dikira turunan bule aja. Lha sama aja yak?? hehehe.. Apalagi kalau sekalian pake kontak lens.. biru unyu unyu gitu.

  11. Hmmm mungkin mikirnya terlalu negatif kali ya.. Biarin mereka mau berekspresi dgn bahasa mrk yg campur2.. Gada salahnya toh.. Kalo td ada yang komen ga menghargai bahasa nya sendiri.. Yaaa kita gabisa muna kalo bahasa inggris adalah bahasa penting di dunia..

  12. hehe, mmm hai, mau komen boleh ya hihi, krn baru beres baca artikel ini, dan baca semua komennya, jadi tertarik untuk ikut komen. Saya satu dari sekian banyak orang yang berbicara “campur-campur” kadang pake bahasa jawa, english, kadang sunda, kadang indonesia, semua kemampuan bahasa yang saya gunakan masih pas-pasan, tapi kenapa saya tetap percaya diri? karena saya pikir, kenapa tidak untuk sambil belajar walaupun bahasanya masih casciscus, karena bisa itu karena terbiasa, dan walaupun sudah sangat jago teknik penggabungan kalimat dan pengucapan suatu bahasa, lalu org tersebut tidak praktek langsung dengan lawan akan sama saja kan?

  13. wah agan (nama saya galih juga!) pengamat fenomena ini juga ternyata… sejak mulai kuliah program internasional (2 bulan terakhir) saya mulai mengamati fenomena ini… kalau menurut saya itu adaptasi, terbawa-bawa secara refleks/nggak sengaja, saya 2 bulan lalu juga gitu… sekarang Alhamdulillah udah tau kapan harus pakai bahasa Inggris kapan harus pakai bahasa Indonesia.

  14. Ga apa bahasa campur2, entar jadi benar2 bisa bahasa inggris, khususnya era MEA ini, kita dah jauh ketinggalan, saya sering nonton canel Alzazirah, anak2 kecil afrika yg kurang gizi, kotor karena negara miskin, mereka belajar campur2, bahkan bahasa inggris 100% yg dipake gurunya di dalam kelas, aku jadi terinspirasi sekali melihat kenyataan susah mau belaja bahasa. Nah apalagi kita yg bisa dikatakan cukup makan, sehat, kaya barangkali, maka belajarlah, jangan kita membatasi diri kepada satu ilmu, saat ini sudah saatnya belajar inter disiplin ilmu, karna org bule asli pun tidak semua bicara persis sesuai grammer, itu tadi, kalo semua bicara sesuai grammer, malah keliatan sok, kalo pergaulan sehari2 go head aja, tpi kalo official meeting maka kita harus sesuai tata bahasa yg baik dan benar, nah untuk menuju hal ini perlu proses, dan kesalahan itu merupakan salah satu proses menuju baik dan benar berbahasa. Pokoknya just do it, practice make perfict guys….!!!

  15. Bahasa Indonesia dicampur campur inggris nanti lama kelamaan seperti negara tetangga kita,bukan terlihat keren justru terlihatnya aneh .dan kalau orang bule ngedenger org yg ngomongnya campur2 bahasa indonesia-inggris pasti bilang : “ngomong apaan sih lu,ga jelas banget” wkwkkwk

  16. Saya sekarang ini sering menggunakan bahasa campur² juga, sperti bahasa Indonesia, Inggris, Sunda dan juga Jawa. Apa itu salah? Niat saya belajar kak, soalnya kata guru saya kita seharusnya juga bisa practice dalam kehidupan sehari-hari supaya bisa jago, dan jangan malu bila diketawain orang atau bahkan dibilang norak. Itu gimana menurut kakak²? Tapi saya pede aja kak dengan bahasa campur² walaupun hanya di chat what’s up aja, bahkan saya sama temen² kelas sering main English time jadi dalam 30 menit kita menggunakan bahasa Inggris dan itu seru banget.

Leave a Reply to dnial Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *