Review: Arok Dedes, Pararaton yang Dirasionalkan

Judul Buku: Arok Dedes
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Tebal: 561 halaman

Anda semua pasti tahu siapa pendiri kerajaan Singhasari: Ken Arok. Anda juga pasti tahu siapa Empu Gandring dan buah karya kerisnya yang melegenda yang menggegerkan wangsa Rajasa. Yup, kisah berdirinya salah satu kerajaan besar di tanah Jawa, Kerajaan Singhasari, diajarkan di buku-buku sejarah waktu kita duduk di bangku sekolah.

Salah satu sumber sejarah yang digunakan buku sejarah di sekolah adalah kitab Pararaton, sebuah kitab berisi kisah raja-raja Jawa. Dulu saya sempat terbersit pertanyaan, apakah mungkin seorang pendiri kerajaan besar adalah seorang perampok yang suka mengacau keamanan. Jika benar, kenapa ia bisa mengurusi negara besar, bahkan setelah Tumapel takluk, Kerajaan Kediri di bawah kekuasaan Sri Kertajaya pun dikalahkannya. Bagi saya tidak mungkin seorang rampok tanpa pendidikan politik dan otak yang luar biasa bisa menjadi seorang raja besar.

Tetapi memang ketika saya membaca terjemahan kitab Pararaton, seorang Ken Arok memang demikianlah adanya digambarkan seperti apa yang ada di buku sejarah. Jadi saya tidak bisa menyalahkan buku sejarah. Hal yang ditekankan oleh Pararaton adalah bahwa kemenangan Ken Arok atas Tunggul Ametung dikarenakan kesaktian keris Empu Gandring yang konon ditempa dari batu meteorit dengan sepenuh jiwa raganya. Kesaktian itu terbukti dari betapa kutukan Empu Gandring yang benar-benar berbisa: tujuh turunan Ken Arok bertikai dan terbunuh oleh keris yang sama.

Alternatif Cerita yang Rasional

Pararaton sendiri sebenarnya tidak bisa secara penuh dijadikan sumber sejarah [wikipedia] karena mencampur fakta dan fiksi. Celah ini dimanfaatkan oleh Pram untuk menghadirkan sebuah alternatif cerita sejarah mengenai kudeta politik Ken Arok terhadap Tunggul Ametung yang merupakan awal dari berdirinya Kerajaan Singhasari.

Ken Arok, digambarkan sebagai seorang yang jenius. Ia adalah seorang Sudra yang memiliki semangat Satria dan berwawasan Brahmana. Dalam usia yang masih sangat muda, ia menguasai sansekerta dengan sempurna. Ia lulus dari asuhan Dang Hyang Lohgawe dengan predikat cum laude. Arok, namanya, diartikan sebagai Sang Pembangun.

Tidak ada cerita kesaktian aji-ajian keris. Yang ada adalah sebuah permainan politik. Membangun kekuatan militer sebagai gerombolan pengacau yang memusingkan pemerintah tapi dekat dengan rakyat. Membangun jaringan intelijen hingga ke jantung kehidupan pribadi Tunggul Ametung. Menghembuskan isu. Memanasi kubu-kubu. Menghasut tokoh-tokoh ambisius untuk menggulingkan Tunggul Ametung. Mengadu domba hingga akhirnya kudeta terjadi.

Pada saat yang menentukan itu, Ken Arok tampil sebagai pembela Tunggul Ametung. Sudah ada yang bisa dicap sebagai pemberontak dengan meyakinkan. Penyelesaian yang gemilang itulah membuat dewan brahmana mengangkat Ken Arok sebagai akuwu Tumapel yang baru. Legitimasi penuh dari rakyat karena Ken Arok dekat dengan rakyat — sebagai simbol perlawanan sang akuwu yang semena-mena.

Mungkin kau lupa. Jatuhkan Tunggul Ametung seakan tidak dari tanganmu. Tangan orang lain harus melakukannya. Dan orang itu harus dihukum didepan umum berdasarkan bukti tak terbantahkan. Kau mengambil jarak secukupnya dari peristiwa itu.

Ken Arok telah sukses melakukan kudeta khas Jawa. Licik dan cerdik. Dari tangannya langsung, ia tidak pernah bertempur secara fisik melawan penguasa. Namun tangannya berlumuran darah dari hasil strateginya. Kunci suksesnya adalah ia berhasil memanasi kubu Gerakan Gandring, yang sejak lama memang sudah memiliki niat merebut kekuasaan. Kubu Gandring tidak pernah menyadari bahwa mereka telah dijadikan umpan bidak yang melenakan lawan. Mereka sempat tertawa penuh kemenangan ketika Tunggul Ametung telah terbunuh. Ketika lawan termakan umpan, aktor yang sesungguhnya muncul menyelesaikan permainan.

Sebuah Metafora?

Roman sejarah ini sempat dilarang keras di zaman Orde Baru. Roman ini “sukses” mengantarkan Pram keluar masuk penjara selama hidupnya. Tentunya ini menimbulkan pertanyaan, apakah Arok Dedes adalah metafora kudeta tahun 1965? Misteri Gerakan 30 September itu sampai sekarang masih simpang siur penuh kontroversi. Saya sadari memang ada beberapa kemiripan, utamanya ketika menjelang Tunggul Ametung terbunuh. Waktu itu salah satu petinggi militer kepercayaan Tunggul Ametung (Panglima-panglima Kuda bersaudara) terbunuh secara misterius dan santer terdengar isu bahwa ada pengkhianatan yang dilakukan oleh Kebo Ijo, seorang kepala prajurit yang dipercaya ada di pihak Kubu Gandring. Kalau ini adalah metafora, Pram telah sukses melakukannya.

Mana yang Benar?

Jadi, mana yang benar? Ken Arok menurut versi Pararaton atau versi Pram? Kalau saya pribadi lebih suka citra Ken Arok versi Pram. Seorang pendiri dinasti Rajasa (ia bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi), pendiri kerajaan besar, harus memiliki segala kualifikasi yang digambarkan oleh Pram. Saya tidak percaya seorang rampok kecil yang suka merampok rakyat dan memperkosa bisa mengurusi sebuah negara besar. Saya lebih suka ide bahwa Ken Dedes lah yang jatuh cinta kepada Ken Arok karena kecerdasannya (mengingat ia juga seorang brahmani — anak Mpu Parwa) ketimbang Ken Arok yang bernafsu mendapatkan Ken Dedes.

Tentu saja, fiksi karya Pram ini tidak bisa dijadikan literatur resmi. Namanya juga fiksi, rekaan penulis saja. Tetapi di lain pihak, Pararaton juga tidak bisa dijadikan pegangan melihat kualitasnya yang mencampurkan fakta, fiksi, mistik, dan mitologi. Lagipula, seperti roman-roman Pram lainnya, Arok Dedes adalah cara yang mengasyikkan untuk belajar sejarah. Tidak hanya cerita politik saja di roman ini, namun juga detail kebudayaan pada saat itu, detail pakaian Ken Dedes (mahkotanya pita bertabur permata), friksi-friksi antar kasta, pertentangan mencolok antara pemuja Syiwa dan Wisnu, dan masih banyak lagi.

PS: Terima kasih untuk Mas Prabowo yang merekomendasikan buku ini di forum komentar di artikel review Anak Semua Bangsa. Foto dicomot dari Goodreads.

Published
Categorized as Review

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

15 comments

  1. Saia lagi tertarik dengan pendapat om Galih jika sebenarnya sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah dahulu itu lebih bersifat menghafal tanggal dan tokoh, bukan latar belakangnya.. Saia setuju itu.

    Jadi tertarik untuk menyingkap tokoh-tokoh sejarah lainnya nih.. Thank you for this review! :mrgreen:

  2. Betul sekali mas Dhodie. Padahal jika dirasakan, akan sangat mengendap jika kita diajarkan untuk mengenal pola dan latar belakang kehidupan pada saat itu ketimbang sekedar menghapalkan nama dan tanggal. Lebih cepat hilangnya. Nama dan tanggal hanya untuk kebutuhan mendapatkan nilai 10 saja, tetapi tidak untuk diresapi.

  3. Saya baru beli bukunya waktu diskon besar2an Gramed Grand Indo kemarin mas Galih, tapi malah belum sempat baca 😛

    Katanya ada lagi buku Pram yang bagus, Arus Balik. Yang ini settingnya jaman2 awal Demak. Kalau ini diterbitkan ulang, saya beli juga ahh…

    Kayaknya sama2 suka sejarah nih. Dulu waktu sekolah termasuk pelajaran favorit (karena seperti baca dongeng) yang anehnya, teman2 lain koq pada nggak suka?

  4. banyak yang mencatat sehingga banyak versinya karena masing-masing punya sudut pandang (baca: kepentingan) yang berbeda…

    tapi buku ini tetap bagus untuk dibaca untuk memperkaya wawasan sejarah kita

  5. Ya, Pram memang jago dalam membuat novel fiksional yang pijakannya medan sejarah. Kita semua takkan pernah tahu mana yang lebih mendekati kebenaran: Arok-Dedes Pram atau Pararaton yang anonim penulisnya. Toh Pararaton ditulis pada abad ke-16, 3 abad setelah masa Ken Arok; jadi pada masa Mataram Islam zaman Sultan Agung. Yang jelas, dari mereka kita belajar bahwa kudeta merangkak adalah budaya turun-temurun di Jawa. Dan saya setuju bila Arus Balik dinilai sebagai salah satu karya agung Pram.
    Sampurasun

  6. kebetulan sy ada rencana akan membuat dokumentr tentang ken arok, dan akan menjadi trilogi. doain ya biar terlaksana, dan sy sngt butuh info info,

  7. Novel Arok Dedes memaksa kita untuk melepaskan doktrin tentang Ken Arok yang selama ini kita kenal melalui pelajaran sejarah. Di tangan Pramoedya, kita tidak akan menyangka bahwa cerita Arok Dedes adalah fiksi. Kemampuan merangkai cerita fiksi yang dilatar belakangi sejarah merupakan salah satu hal yang saya suka dari Pramoedya.

  8. Buat saya fiksi pram justru yang paling mendekati kebenaran sesuai analisa anda….. dan Ken Arok masuk kelingkaran kekuasaan sebagai perwira militer juga….. emang sejarah terus berulang dinegeri ini ya…. maksudnya jika pengen tahu peristiwa 1965, dari buku ini udah keliatan kok…itu sebabnya pemerintahan orba sangat tidak suka pram…dengan bukunya ini.

  9. wah… cerita Arok-Dedes versi Pram ini kalo difilmkan pasti bagus banget…
    maksudnya film seri hehehe
    apalagi ceritanya yg masuk akal pasti lbh disukai penikmat film…
    memang saya selalu cari cerita ken arok yg rasional daripada yg bnyak mitos2 sperti ken arok punya kekuatan yg memiliki cahaya di dahinya atau ken arok yg ditolong ular jadi2an… dan juga ken arok yg titisan dewa wisnu.
    saya lbih suka ken arok yg punya semangat yg tinggi dlm meraih cita2nya yaitu melalui kecerdasan otak… itu memaNG sgt MASUK AKAL… mengingat dia adalah sosok Pemimpin yg berhasil.

  10. DUSTA SEJARAH
    KISAH KEN AROK, PERANG BUBAT & SUMPAH PALAPA
    (Analisa Penelusuran Isi Kitab Pararaton)
    Bagian I
    Created : Ejang Hadian Ridwan

    Mohon maaf hanya diambil dari bagian akhir Artikel:

    Dari statistik yang coba dikumpulkan, berdasarkan nama-nama orang atau para pelaku dalam Kitab Pararaton, terlihat hampir 85% nama-nama dalam nuansa yang biasa dalam pelafalan dan keseharian orang-orang Sunda, dari jumlah nama yang ada. Sekitar 55% nama-nama dalam nuansa yang biasa dalam pelafalan dan keseharian orang-orang jawa. Maka, ada selisih 30% adalah ada nama-nama yang biasa dipakai oleh kedua suku bangsa itu.

    Berdasarkan data ini, dicoba untuk disimpulkan bahwa yang membuat kitab Pararaton adalah mereka yang kental sekali atau paham/fasih berbahasa Sunda. Dilihat dari daftar jumlah para pelaku yang terlibat dalam kitab Pararaton sungguh fantastis, terlihat dengan jumlah total lebih dari 200 nama, dengan nama-nama berbeda, walau pun dalam kitab Pararaton sendiri sering mengambil nama alias, artinnya 1 orang bisa mendapat nama 2 atau lebih nama, atau bisa juga 1 orang hanya mewaliki 1 nama.

    Statistik ini memberikan ukuran jumlah nama, bukan jumlah orang, untuk sebuah buku yang hanya berjumlah 35-an lembar dengan format tulisan misal Tahoma dan skala font 11, sungguh fantastis bisa menghasilkan lebih dari 200 nama, sementara isi dari kitab pararaton sendiri bersifat semi fiksi, artinya si pengarang akan ada kesulitan besar dalam membuat dan menyesuaikan nama-nama tersebut sesuai urutan waktu kejadian dan tempat, dan diyakini akan muncul deviasi atau penyimpangan dari pemilihan-pemilihan nama-nama itu.

    Penyimpangan-penyimpangan nama itu adalah keuntungan untuk para penganalisa, soalnya kecendrungan nama yang diberikan akan sangat terpengaruh oleh latarbelakang si pengarang atau pembuat, keuntungannya itu yaitu untuk menganalisa identitasnya walaupun hanya secara garis besar.

    Dilihat dari nama-nama yang muncul dan hasil prosentase yang coba dilakukan, terlihat nama-nama dalam nuansa Sunda yang paling dominan, seperti yang tadi disampaikan, bahwa si pembuat adalah mereka yang paham dan terbiasa dengan nama-nama keseharian dari orang Sunda.

    Dalam hal ini bukan bermaksud untuk mengatakan bahwa ini rekayasa dari orang-orang suku Sunda, tapi bisa jadi oknum, yang mungkin dari para sastrawan Sunda atau pihak lain yang sangat paham tentang adat dan kebiasaan dari orang Sunda.

    Bahkan satu hal yang tidak dipahami logika sama sekali, mengapa Raja Majapahit yaitu Maharaja Sri Rajasanegara hanya terkenal dengan sebutan Hayam Wuruk, dan nama ini berasal dari kitab Pararaton, bukan terkenal dengan nama aslinya.

    Kata hayam dalam bahasa Sunda mempunyai pengertian ayam dan wuruk dalam bahasa Sunda mempunyai pengertianya adalah jago lebih kearah jagoan atau jantan secara pertarungan atau perkelahian, kalau disatukan artinya adalah ayam yang jagoan dalam hal bertarung atau berkelahi, itulah pengertian Hayam Wuruk yang menjadi sebutan nama bagi pemilik kerajaan besar Majapahit. Hayam dan wuruk adalah kata yang dalam pelafalan dan arti dalam bahasa Sunda yang sudah biasa.

    Seluruh bangsa Indonesia sangat fasih kalau ditanya tentang nama raja Majapahit, pasti dengan sepontan mereka menjawab Hayam Wuruk. Ini membuktikan sebegitu besar pengaruh kitab Pararaton untuk untuk memberikan warna sejarah kebangsaan.

    Nama Hayam Wuruk selain dari kitab Pararaton tidak ada nama referensi dari bukti sejarah lainnya, selain dari kitab kidung Sunda yang dicurigai merupakan penguat keberadaan kitab Pararaton, tapi spesifikasi atau khusus untuk mendukung terjadinya peristiwa perang Bubat, tetapi untuk bukti sejarah lainya yang bisa dipertangugjawabkan nama Hayam Wuruk belum ada bukti otentiknya. Menurut catatan sejarah penerbitan kitab Kidung Sunda sendiri tidak lama berselang setelah kitab Pararaton diterbitkan.

    Satu hal lagi, ada beberapa nama yang ditemukan yang biasanya nama-nama itu terdapat dalam kehidupan masa kini suku Sunda (red, penulis asli Sunda juga), seperti : Cucu, Kebayan, Tita, Tati, dan Macan Kuping. Paling tidak nama-nama itu, nama-nama yang diperkirakan muncul dan biasa tersebar pada kisaran abad sekarang ini atau satu abad sebelumnya paling tidak.

    Apakah ini salah penerjemahan atau memang begitu adanya. Kalau memang begitu adanya berarti kitab ini belum lama diciptakan atau dibuat, masih dalam kisaran 1 sampai dengan 2 abad sebelumnya atau sekitar abad 19 dan abad 20.

    Analisa lainya yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas yaitu mengenai perihal status dan motif yang mendasari kitab ini ditulis. Diakhir naskah kitab Pararaton terdapat petikan sebagai berikut :

    ” Demikian itulah kitab tentang para datu. Selesai ditulis di Itcasada di desa Sela Penek, pada tahun saka: Keinginginan Sifat Angin Orang, atau: 1535.

    Diselesaikan ditulis hari Pahing, Sabtu, minggu Warigadyan, tanggal dua, tengah bulan menghitam, bulan kedua.

    Semoga ini diterima baik oleh yang berkenan membaca, banyak kekurangan dan kelebihan huruf hurufnya, sukar dinikmati, tak terkatakan berapa banyaknya memang rusak, memang ini adalah hasil dari kebodohan yang meluap luap berhubung baharu saja belajar.

    Semoga panjang umur, mudah mudahan demikian hendaknya, demikianlah, semoga selamat bahagia, juga sipenulis ini.”

    Kalau dilihat dari tahun saka 1535, tahun yang dinyatakan sebagai perlambang “Keinginginan Sifat Angin Orang”, dan bisa jadi ini adalah bahasa isyarat (secret code) yang ingin coba disampaikan pengarang untuk menyatakan bahwa ketika dia menulis pada dasarnya adalah atas dasar perintah atau keinginan orang lain, yaitu dengan mencoba menafsirkan maksud dari “sifat arah angin” yang bisa saja dapat diartikan bahwa tulisannya yang dibikin, harus berdasarkan keinginan seseorang, sekelompok orang atau pihak tertentu.

    Si pengarang memberi tanda atau kode isyarat sebagai informasi tersirat, karena bisa jadi apa yang ditulis merupakan kebohongan besar atau jauh dari kebenaran, walau pun ada fakta sejarah yang sama, disitu juga pengarang ingin memberitahukan bahwa dia bukanlah penulis yang layak.

    keterbatasan keilmuan dan sumber sejarah yang dimiliknya, yang juga dalm kondisi masih dalam tarap belajar atau baru saja mempelajarinya, ini artinya memang dia sadar apa yang ditulis dengan kemampuann yang dimilikya itu akan banyak celah untuk dipertanyakan kebenaranya.

    Tapi kemampuan dia paling utama yang sangat diperlukan pada waktu itu adalah kemampuan menulis, membaca dan berbahasa satra kuno, sesuai dengan tujuan yang diperlukan oleh untuk kitab itu supaya kelihatan bukan hal yang direkayasa.

    Kata-kata terakhir adalah ucapan doa panjang umur, seolah-olah bahwa ada bayang-bayang ketakutan, bahwa dengan menulis kitab Pararaton itu dia sadar akan resiko yang akan dihadapi setelahnya. Bisa jadi si pengarang dibawah bayang-bayang ancaman kematian, yaitu dari pihak yang menyuruh.

    Hal ini sejalan dengan teori pembuktian, maksudnya untuk menghilangkan jejak, karena si pengarang tahu bahwa ada kepentingan besar atas kebohongan sejarah yang dibuat, sehingga kata-kata ” juga si penulis ini” pada akhir kalimat adalah penegasan dari doa panjang umur yang dia panjatkan diawal kalimat, kemungkinan ini timbul akibat rasa ketakutan itu.

    “Demikian itulah kitab tentang para datu” petikan ini sering diartikan, bahwa kitab Pararaton sebagai kitab yang berisi kisah para raja Wangsa Rajasa. Kata “datu” sendiri tidaklah biasa digunakan oleh orang-orang yang mempunyai latar belakang kesukuan Sunda atau Jawa, ini adalah istilah dalam bahasa Melayu.

    Terlihat bahasa sastra yang digunakan adalah bahasa campuran bukan bahasa asli, dan bahasa campuran dengan melayu hanya terjadi pada abad-abad yang belum lama. Bisa jadi ini untuk mengkaburkan dan memberikan alibi bahwa orang Melayu yang membuat, tehnik memberikan jejak palsu.

    Untuk sementara itu yang bisa disampaikan penulis, nanti lebih jauh akan dibahas mengenai urutan waktu mulai dari penemuan dan asal muasal kitab Pararaton ini diterbitkan. Urutan waktu dan asal usul kitab bisa dijadikan bahan untuk menhanalisa lebih jauh, latar belakang pembuatan dan kesimpulan yang merupakan justifikasi tentang kitab Pararaton ini. (bersambungke bagian II). dalam bagian II akan terdapat kesimpulan tentang kebohongan atau dusta sejarah kisah ken arok, perang bubat & sumpah palapa
    di http://menguaktabirsejarah.blogspot.com/
    Wassalam
    Penulis
    Ejang Hadian Ridwan

  11. Itu semuanya rekaan fiksi dari pararaton maupun dari karyanya Pram. Dedes Arok itu enggak pernah ada di jumpai prasasti ilmiah manapun kayak Minak Jinggo Damarwulan Roro Jonggrang Bandung Bondowoso semuanya adalah rekaan fiksi berdasarkan cerita tutur rakyat aja dan nggak pernah nyata. prasasti Mula Malurung yang aslinya nama pendiri Singosari adalah Sri Rangga Girindra Bhatara Siwa nama2 dari pararaton yg berbau dongeng ametung kebo ijo gandring enggak pernah ada di Prasasti mula malurung tersebut. ditambah prasasti mula malurung dikeluarkan oleh Kertanegara dan Wisnuwardhana 2 Raja Singosari yang mampu mengeluarkan prasasti atas keberadaan sejarah mereka . Si Arok Dedes nggak pernah mengeluarkan prasasti apapun dari kesejarahan mereka.
    Jadi Prasasti mula malurung juga ditulis kalau pendiri Singasari bukan seorang berandalan dan tidak di bahas kematiannya dibunuh oleh bodyguard-nya Anusapati jadi semuanya yang ditulis pararaton itu bullshit dongeng semua

Leave a Reply to Prabowo Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *