Melatih Mata untuk Melihat Objek Secara Fotografis

Sebuah malam yang kering, menjelang tengah malam, di lorong hotel Novotel Bogor, kawan saya bertanya sebuah pertanyaan bagus,

“Galih, kalau kamu memandang lorong ini, seperti apakah hasilnya jika kamu menempatkannya dalam sebuah foto?”

Ini pertanyaan seorang lulusan S2. Cerdas. Ia hendak berdiskusi tentang komposisi, sebuah komponen terbesar yang menunjang bagus tidaknya sebuah foto. Kemudian saya mengamati lorong tersebut dan saya menjawab:

Lorong ini kekuatannya ada di lampu yang menerangi. Jadi aku harus membuat titik fokus perhatian (point of interest)-nya di situ. Lalu, lampu ini hanya ada di satu sisi, kalau aku mengambilnya di tengah, hasilnya kurang manis karena terkesan tidak seimbang antara kanan dan kiri. Kalau kamu ingin mengambil dari tengah, agar komposisimu tidak mati (dead center), bikin efek simetris di sana, dan lorong ini tidak memungkinkan untuk itu.

Sebuah foto adalah media untuk melukiskan alam tiga dimensi ke dalam bidang dua dimensi. Karena ini adalah lorong, maka aku akan memakai perspektif untuk membuat efek tiga dimensi. Jadi aku akan bergeser ke kiri dan mengambilnya dari sudut bawah.

Jadi begitulah, bagaimana sebuah konsep dibuat dalam sebuah foto. Dan konsep sangat tergantung kepada kepekaan Anda membaca pemandangan di depan Anda dan membayangkannya jika ditempatkan dalam bingkai foto.

Kelemahan sekaligus keunggulan foto dibandingkan mata kita sendiri adalah bahwa foto memiliki jangkauan pandang yang terbatas. Kita bisa menoleh, mendongak, untuk mengenali keadaan sekitar yang mana foto tidak bisa melakukan itu. Di situlah tempat fotografer bermain-main dengan komposisi. Di dalam terminologi fotografi lansekap, adalah tugas fotografer untuk menonjolkan sisi yang cantik dari suatu tempat dan menyembunyikan sisi yang jelek — sementara mata kita bisa mengenali keduanya sekaligus. Saya sering diprotes teman-teman bahwa tempat yang saya potret sebenarnya tidak seindah apa yang ada di dalam foto. Tetapi di situlah seninya!

Bagaimana cara melatih kepekaan mata kita untuk membuat komposisi? Menambah jam terbang dengan terus memotret. Dan memotretlah dengan keterbatasan. Saya sedang menyukai kembali memotret dengan kamera saku dan sementara meninggalkan DSLR untuk melatih sense terhadap komposisi.

Apa yang seru dengan kamera saku dalam hal hubungannya dengan komposisi? Pertama, rasio panjang dan lebarnya nyaris seperti persegi. Sulit membaginya menjadi tiga bagian komposisional suci the rule of three. Kedua, panjang focal lens yang sangat nanggung. Tidak wide, tapi juga tidak tele. Saya memilih Canon Ixus 120 IS karena lensanya paling luas (28 mm ekuivalen), tetapi masih saja saya belum bisa maksimal mendapatkan efek perspektif yang saya mau seperti di lensa 18 mm atau bahkan 10 mm.

Jadi tunggu apa lagi? Hunting yuk…

Published
Categorized as Fotografi

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

14 comments

  1. @fahmi!:
    hehehe.. thank you om

    @DETEKSI:
    setuju mas det

    @wisata riau:
    betul… salam kenal juga 😉

    @nra:
    halah halah, kayak komen di blog seleb aja @_@

    @nanakiqu:
    asik banget, mau coba?

    @hedi:
    kalo mau dikejar terus gak bakalan tamat mas 🙂

  2. @Alfaro Lamablawa:
    hehe… terima kasih, seni kan memang olah rasa 😀

    @ceriaselamanyah:
    ayo semangat semangat!

    @dhodie:
    bereeeeeeesss hahaha…

    @Juis:
    Stenly 😀

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *