Belajar Sejarah dengan Lebih Mengasyikkan

SEBUAH REVIEW TENTANG BUKU “ANAK SEMUA BANGSA”

Judul Buku: Anak Semua Bangsa
Jenis Buku: Roman Sejarah
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara

Anda masih ingat gaya bercerita buku-buku teks Sejarah waktu kita SD, SMP, dan SMA? Bergaya objektif, kronologis, dan penuh tanggal-tanggal yang wajib kita hapalkan karena selalu muncul di ujian.

Mungkin memang itu satu-satunya cara para penulis buku teks yang digunakan di sekolah-sekolah untuk mempertahankan keobjektifannya dan “tidak memihak”. Tetapi hal ini membuat sejarah menjadi kering — kehilangan coraknya. Kita tidak tahu seperti apakah keadaan emosi suatu zaman. Kita tidak bisa menyatu dan ikut merasakan apa yang dialami tokoh-tokoh sejarah di masa itu. Kita hanya tahu bahwa Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Tetapi kita tidak pernah tahu apakah beliau sempat tidur sejak diculik pemuda ke Rengasdengklok, lalu merancang naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda, lalu dengan terburu-buru merumuskan Undang-Undang Dasar untuk negara yang baru saja berdiri itu.

Di buku Anak Semua Bangsa, kita bisa melihat sudut kehidupan yang lain yang diceritakan buku teks sejarah tentang zaman kebangkitan nasional. Jika buku teks mengetengahkan tokoh sentral seperti Ki Hajar Dewantara, Douwes Dekker, dan dr. Cipto Mangunkusumo, Pramoedya memulainya dari tokoh fiktif bernama Minke, seorang pribumi yang tak pernah dicatat sejarah manapun.

Minke berasal dari kelas masyarakat yang jarang dipotret oleh buku sejarah. Ia termasuk pribumi yang beruntung karena bisa bersekolah di HBS, sekolah bikinan Belanda yang waktu itu cukup ngetop di ranah Eropa. Karena terpelajar, ia menjadi penulis di sebuah harian berbahasa Belanda, sesekali menulis dalam Bahasa Inggris, sangat Eropa-minded dan cenderung tinggi hati karena kedudukan dan kecerdasannya.

Berawal dari kacamata seorang yang sama sekali tidak memiliki kepedulian terhadap bangsanya sendiri — bahkan ia tidak mau menulis dalam bahasa Melayu sama sekali — kita diberikan gambaran seluas-luasnya tentang corak, emosi, dan budaya masa-masa itu tanpa batas. Mengikuti Minke berproses dari Eropa-minded menuju ke kesadaran cinta tanah air dan pentingnya kemerdekaan, kita merasa dekat dan rasanya masa tersebut begitu dekatnya.

Anak Semua Bangsa hanyalah sebuah potret kecil kehidupan Minke. Roman ini merupakan bagian kedua dari Tetralogi Buru: Bumi Manusia, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah. Saya sendiri tidak tahu tetralogi ini sehingga saya mendapati telah mengambil seri keduanya dari rak buku di Gramedia padahal belum membaca seri satunya.

Roman ini masuk dalam kategori berat untuk dibaca, apalagi ia menceritakan kebangkitan nasional dari sisi yang berbeda, sehingga saya rasa buku ini tetap tidak cocok untuk anak-anak sekolah. Buku teks yang konvensional masih lebih baik untuk memberikan dasar pengetahuan bagi mereka. Mungkin roman ini sesuai untuk mereka yang telah matang dalam menyikapi sejarah dan ingin memperkaya khasanah pengetahuan tentang masa-masa kebangkitan nasional.

Published
Categorized as Review

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

8 comments

  1. hahaha buku ini saya sudah baca….
    saya butuh beberapa kali membolak balikkan halaman sebelumnya utk tetap terjaga alur pembacaan 😀 hehehe
    anyway bagus banget nih buku, mengajarkan byk filosofi hidup jg 😀

  2. Coba baca Arok-Dedes, mas Galih. Dulu buku ini sulit sekali didapat, baru-baru ini aja dicetak ulang. Saya sendiri belum baca sih, tetapi kalimat pengantar di sampul belakang lumayan menggoda. Intinya, kalau mau berbuat makar, jangan terang-terangan. Diam-diam saja sambil siapkan pihak yang akan dikambinghitamkan. Provokatif sekali, pantas dilarang di jaman Orde Baru.

  3. @aRuL:
    betul sekali daeng arul, benar-benar buku yang bagus

    @hedi:
    hehehe, baru sekali ini om beli bukunya pramoedya 😀

    @Prabowo:
    thanks mas, Ken Arok Ken Dedes, segera berburu nanti sore 😀

  4. biasanya buku nasionalisme ini harusnya banyak dibaca oleh para pelajar dan mahasiswa/i, sementara sekarang banyak yg doyan dengan novel atau yg sejenisnya…mudah2an aja peluncurannya sukses yaa

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *