Paradoks

Matahari yang terik mulai condong di langit Kalimantan Timur. Kami baru saja melintasi tugu titik nol derajat lintang di jalan antara Muara Badak – Bontang. Sinarnya yang keemasan mampu menembus hembusan AC mobil yang digeber dalam tingkat dinginnya. Mesin Ford Everest 4 wheel drive menggerum seram berusaha menaklukkan jalanan tanah berbatu terjal — menyusuri pipa gas yang diluncurkan dengan tekanan 700 psi dari Badak Plant. Air pun jika diberi tekanan sebesar ini akan setajam belati.

Kota Bontang, sebuah kota kecil berkontur bukit sedang bermandikan cahaya menyilaukan ketika kami memasuki kota ini. Rasanya seperti memasuki negeri dongeng di cerita Alice in the Wonderland. Bagaimana tidak, dua jam kami dihajar jalanan tanah berbatu, mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke samudera, tiba-tiba saja sebuah jalan beraspal mulus berkilauan terbujur lurus terhampar di depan kami.

Seperti memasuki kompleks kastil negeri impian ketika kami melewati gerbang kompleks PT Badak NGL yang dijaga super ketat. Kalau saja kami tidak membawa password berupa badge berlogo bulat merah-hijau-biru-putih yang menunjukkan salah satu pemasok gas perusahaan ini dan ditambah mantra “urusan pipeline“, kami mungkin tak pernah bisa masuk. Perumahan yang penuh fasilitas, jalanan lebar dan bersih, kanan kiri jalan dihiasi rumput hijau, bunga aneka warna, dan danau kecil, Anda tak akan pernah menduga ini adalah kompleks perusahaan jika Anda tidak mendongakkan kepala dan melihat instalasi Gas Plant raksasa dengan empat flare api-nya yang menyala-nyala.

Itu paradoks pertama. Bontang tampil sebagai kota yang kaya raya karena beberapa perusahaan besar ada di sana. Gas dan batubara yang menghidupkan cahaya kota ini sehingga demikian berkilaunya. Paradoks, karena begitu Anda keluar, Anda akan bertemu lagi dengan hutan Kalimantan yang setengah gundul, dengan sesekali rumah-rumah kayu reot para transmigran yang herannya kok mereka bisa dan betah hidup seperti itu.

Paradoks kedua. Sepulang dari PT Badak NGL, kami menyempatkan diri mampir ke stasiun satelit gas launcher di KM-53. Sebuah tempat yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya bahwa saya akan menginjakkan kaki di situ. Terletak di puncak bukit, dengan jalanan sempit yang terjal. Mobil yang boleh masuk hanya yang berlisensi stiker kuning — izin masuk jalan perintis.

Matahari sudah menjelang tenggelam. Pukul 17:00 WITA. Di pos kecil yang dikepung rerimbunan pohon, kami disambut ramah oleh dua orang operator. Mereka bekerja 24 jam memastikan bahwa plant bekerja dengan baik dan aman. Jangankan kantor pusat di Wisma Mulia Jakarta nan mewah itu, Badak Camp pun mungkin belum pernah mereka kunjungi. Ditemani segelas teh dan kopi (saya memilih segelas air mineral dingin), saya ngobrol sekadar berbasa-basi,

“Bapak asli sini ya?” tanya saya.

“Oh, saya tinggal di sini dari kecil mas, cuma saya lahir di Jawa, umur dua tahun saya baru di sini…,” jawab bapak itu sambil menghembuskan rokoknya.

“Jawa-nya mana pak?”

“Tulungagung mas…”

Mak plenggong…, saya melongo beberapa saat. Astaga… betapa sempit dunia. Di lokasi seterpencil ini, jauh berkilo-kilometer, kok ya saya bertemu dengan orang yang memiliki tempat lahir sama dengan saya. Kalaupun Jawa, bukankah masih ada ribuan tempat selain Tulungagung? Di tempat seluas Kalimantan, saya terbentur paradoks bahwa betapa dunia ini sempit sekali dengan dialog pendek yang sederhana tadi.

Paradoks.

Lokasi: Bontang, Kalimantan Timur
Kamera: Canon Ixus 120 ISย 

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

11 comments

  1. @Mizzy:
    adowh sukma, kan yang diceritain bapak-bapak…

    @detx:
    ndak serem apane?

    @dhodie:
    istilah bahasa jawa om… itu melukiskan ekspresi ketika terpana sampai mulut membuka tanpa sadar ๐Ÿ˜€

Leave a Reply to hedi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *