Review: The Chosen Prince, Pangeran Pilihan

Judul Novel: The Chosen Prince, Pangeran Pilihan
Penulis: Risma Budiyani
Penerbit: DIVA Press

Bagi kita yang berusia mulai 25 tahun ke atas, dan masih single, tentu saja sangat mengakrabi bagaimana “tekanan” lingkungan sosial terhadap diri kita. Anda akan menemukan pertanyaan-pertanyaan umum di pesta pernikahan teman, atau bahkan ketika silaturahmi ke keluarga besar di hari raya idul fitri. Daftar pertanyaan ini sebenarnya hanya basa-basi, tetapi setelah sekian lama diterpa pertanyaan-pertanyaan itu, kita akan merasakan betapa menyakitkannya.

Let say ambil beberapa contoh: Kapan menikah? Kok belum punya calon? Apakah terlalu tinggi standarmu? Kenapa kamu pilih-pilih?

Inilah yang dialami Jasmine, si tokoh utama dalam novel The Chosen Prince ini. Ia adalah gadis muslimah yang cerdas, yang sehari-harinya mengalami kehidupan yang relijius. Konflik yang dialami biasa juga dialami oleh anak-anak muda yang sedang mencari jati diri dan kedewasaan berpikir. Ia terlanjur jatuh cinta kepada seseorang bernama Saiful Malook dan patah hati karena sang pria meninggalkannya.

Ia terlanjur membentuk konsep mahligai cinta yang ideal adalah seperti yang ia bangun mimpinya dengan Saiful Malook. Saiful Malook lah pria satu-satunya! Tak ada yang lain! Segalanya adalah dia! Nah, dalam perjalanan berusaha kembali menyembuhkan luka-lukanya dengan Saiful Malook, muncul dua orang pria baik-baik yang mencintainya: Rashid dan Mike Carlos.

Sampai di sini dia dihadapkan dengan pilihan-pilihan di tengah-tengah tekanan sosial yang sedang menghantamnya kiri dan kanan. Harus diakui, ia belum menemukan sebentuk cinta ideal yang telah ia bangun serupa cinta kepada Saiful Malook. Apakah itu yang dimaksud dengan terlalu memilih-milih? Apakah ia harus mengikuti tekanan sosial dimana umur akan bertambah tanpa ampun sedangkan apa yang ia cita-citakan belumlah datang? Apakah benar pernikahan bisa tanpa cinta yang telah ia impikan?

Gaya Penulisan

Novel ini jelas inspiratif, khususnya bagi para lajang yang sedang dirundung kegelisahan karena sang pangeran belum datang menjemput, sementara waktu terus menggelinding tanpa ampun, dan pertanyaan-pertanyaan dari kiri-kanan semakin tajam mengiris perasaan.

Risma Budiyani membawa alur cerita dengan pembawaan orang pertama dan orang ketiga. Tetapi ia tidak konsisten di satu tokoh saja. Tiga tokoh sentral saling bergantian menceritakan perasaannya dari bab ke bab. Selagi “aku” berarti Jasmine, di bab depan, “aku” bisa berarti Rashid atau Mike. Atau tiba-tiba saja, bab berikutnya, sang penulis ikut campur dalam posisi orang ketiga serba tahu.

Sayangnya, menurut saya, meskipun Jasmine, Rashid, dan Mike adalah tokoh rekaan penulis yang sangat berkarakter, saya tidak melihat karakter masing-masing mereka ketika mereka bercerita. Jadi, kalau tidak tahu konteks yang sedang dibicarakan, tidak bisa dibedakan mana gaya bercerita Jasmine, Rashid, dan Mike. Padahal, secara logis, dengan karakter ketiganya yang berbeda, mereka pasti memiliki gaya bercerita yang berbeda pula. Saya bahkan beranggapan bahwa yang bercerita dengan kata ganti “aku” itu adalah Risma Budiyani sendiri, bukan Jasmine, Rashid, atau Mike.

Kalau tidak salah ingat, saya menemukan model bercerita lompat-lompat begini di novelnya Agatha Christie: The Man in the Brown Suit. Tetapi di sini saya benar-benar bisa membedakan mana cerita Anne Beddingfeld mana cerita Sir Eustace Pedler. Gaya bercerita mereka berbeda. Lagipula, Sir Eustace Pedler bercerita dalam catatan hariannya yang kelak diberikannya kepada Anne, jadi sebenarnya, penulis tetap berada pada titik Anne, tidak pernah melompat. Kalau di novel The Chosen Prince, penulis melompat-lompat sehingga terkesan buku itu adalah buku tiga orang (bahkan empat — karena ada gaya orang ketiga serba tahu) yang digabung menjadi satu.

Penutup

Saya suka novel ini karena dalam beberapa hal memberikan sedikit jawaban atas beberapa pertanyaan saya selama ini. Kisah cinta Rashid kepada Jasmine, dalam beberapa hal menjawab pertanyaan kenapa saya dulu ditolak dan cinta ideal yang dibangun Jasmine akan Saiful Malook adalah impian yang saya pernah bangun tentangnya, dan karenanya saya harus bersusah payah menyembuhkan luka. Kisah cinta antara Mike dan Jasmine, memberikan saya gambaran bagaimana seorang wanita menangani sebuah lamaran, dan ketika sholat istikharah yang dipanjatkan setiap malam tidak memberikan ketetapan hati kepada seseorang, maka seorang pria itulah yang harus ditolak.

Begitulah cinta.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

12 thoughts

  1. jd inget sodara perempuan saya yang umurnya 26 tapi ga punya pacar.. setiap hari introspeksi diri melulu.. dia pikir ada yang salah sama dirinya dia, padahal mah ga ada. untung akhirnya sang pangeran datang *halah*..

    malem ini, acara lamarannya dia. 30 oktober nanti kawinannya.. nanti saya kasi buku ini aja buat kado pernikahannya dia.. 😀

  2. @aRuL:
    benar sekali mas arul, menyangkut ranah pribadi 😀

    @hedi:
    amin amin… doanya mas.. ^^

    @Excalibur:
    dingge kado mantan2 sing arep rabi yo ra opo2 kok kem 🙂

    @Fenty:
    selamat membaca fent ^^

    @elia:
    kayaknya emang cocok 😀

  3. Buku baru Mbak Risma ya? baru tau dia dah nerbitin buku lagi setelah Surat Cinta Saiful Malook yang kisah nyata itu. Baca deh buku pertamanya Lih, bagus juga kok.

  4. alhamdulillah buku ini bener2 banyak memberikan hikmahnya. mohon doanya yah tahun 2010 saya meried… gara2 buku ini jadi bersemangat 😀

  5. Buku ini benar-benar bagus dan sangat inspiratif, dan sangat dekat dengan dunia nyata, karena banyak orang yang mengalaminya,,,
    Bravo Mbak Risma, ditunggu buku-buku berikutnya ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *