Layakkah Kita Mendapatkan Hari Kemenangan?

Seorang kawan memposting di plurk-nya, “Sekian hari menuju hari kemenangan”. Nampaknya dia sudah menghitung mundur menyiapkan datangnya hari lebaran yang tinggal beberapa hari lagi ini. Tiba-tiba saja, sebuah pertanyaan menyeruak di benak saya, “Layakkah kita diberikan kemenangan?”

Bagaimana kita mengklaim menang perang jika secara pribadi kita tetaplah sama dan tidak ada perubahan signifikan? Berapa malam kita sholat malam — atau bahkan — apakah sholat wajib sudah tidak ada yang bolong?

Bagaimana kita bisa dengan bangga menyerukan takbir Allahu Akbar Walillahilhamd jika di jalan raya kita masih serobot sana serobot sini, klakson menyalak di mana-mana. Di mana letak kesabaran yang seharusnya ada ketika berpuasa?

Sungguh, di Jakarta ini, saya benar-benar merasa ironis dengan keadaan lalu lintas. Menjelang berbuka puasa, semua orang berebut pulang ingin segera berbuka puasa di rumah. Tetapi mereka yang berpuasa ini tidak saya temukan nilai puasanya di perilaku berlalu lintas. Tidak ada perbedaan. Mereka sama sekali tidak berusaha menahan diri untuk tidak mengklakson ketika jalannya diserobot, ketika lampu hijau menyala, ketika ada pengendara yang lain menghalangi jalan.

Bagaimana kita bisa merayakan kemenangan jika di malam-malam terakhir, dimana pahala yang sudah diskon diobral lagi, justru shaf-shaf sholat malam di masjid semakin sedikit, sementara mal penuh sesak macam pasar tumpah saja. Persiapan mudik lebaran.

Mudik, momen ini saya rasa telah melenceng terlalu jauh dari semangat puasa Ramadhan. Semangat mudik tidak lagi menjadi semangat bersilaturahmi, tetapi momen yang tepat untuk unjuk kesuksesan dan status sosial di hadapan keluarga dan teman-teman lama. Kalau tidak, kenapa orang bela-belain beli baju baru, handphone baru, mobil baru? Kenapa mal penuh sesak? Dari mana kita bisa berkata: inilah hari kemenangan?

Imam Al-Ghazali menyebutkan, ada tiga golongan orang yang berpuasa. Orang biasa, khawas (khusus), dan khawasul khawas (khususnya khusus). Saya kira kalau hanya lapar dan haus, kita telah bisa menaklukkan, apalagi sekadar dari pagi hingga sore. Tetapi apakah kita telah memenangkan dari pertempuran untuk bersabar, menjaga pandangan, menjaga ucapan? Apakah kita tidak ingin menjadi golongan yang khawas?

Ada quote menarik dari Mario Teguh tentang puasa ramadhan. Seharusnya ibadah puasa tidak lagi menjadi ajang pembelajaran, tetapi justru pembuktikan dari 11 bulan sebelumnya berproses untuk memperbaiki diri. Karena adalah mustahil jika proses perbaikan diri itu berhasil hanya dalam waktu sebulan saja. Ketika proses itu telah dijalankan, bukan tidak mungkin malam Lailatul Qadar itu jatuh di malam pertama Ramadhan baginya. Apa yang tidak mungkin bagi Allah azza wa jalla?

Saya pribadi merasa, rasanya tidak pantas jika saya merasa menang dalam ramadhan kali ini. Ibadah sholat saya masih amburadul, bacaan belum benar, saya masih suka bergunjing, saya masih suka melirik wanita yang bukan mahrom saya… Saya hanya berharap bisa memperbaiki apa yang saya masih bisa perbaiki di ujung hari-hari terakhir ramadhan ini. Semoga Allah mengampuni. Semoga Allah menerima. Semoga proses ini tidak berakhir ketika ramadhan selesai, tetapi terus berlanjut hingga insya Allah tahun depan dipertemukan kembali dengan ramadhan.

Amin…

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

15 comments

  1. Bener banget Mas.. Kalo udah terperangkap di jalanan Jakarta… arrgghhh tobat deh, males polll. Mending saya buka di kantor atau di mana daripada stress sama orang-orang yang nggak mau ngalah.

    Masih malam ke-25, at least Khusnul Khatimah dalam skala kecil hehe.. Met berburu Al Qadr!

  2. eh aku liat tret itu :p

    aku ngerasa kaya’ gitu setahun yang lalu, sekarang kok gak bisa dalem ya 🙁

    semoga tahun depan kekhusyukan itu datang 🙂

    bakal kangen sama Ramadhan lagi deh

  3. ya gini ini, aku juga ngerasa, prestasi ramadhan sekarang menurun ketimbang tahun lalu. lha terus menangnya dimana…

    mudah2an tahun depan masih dikasih umur buat memperbaiki, amin…

  4. bener aku juga merasa begitu…..sampai kapan aku bisa bener bener merasakan hari kemenangan…
    padahal aku rindu akan hari itu…tapi apakah aku pantas??/

  5. Salam
    Setiap insan layak dapat kemenangan jikalau puasanya sungguh2 dengan niat hanya untuk menyembah kepada Alloh dan ikhlas menjalankanya akan mendapat nilai 9, sedangkan yang mengerjakannya hanya niat tanpa didasari ikhlas akan mendapat nilai 7.
    Mudah2an kita semua mengerjakanya dengan sungguh2 dan ikhlas kepada Alloh dengan dasar hanya menyembah, kita akan mendapat nilai 9
    Salam

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *