Cat Pagar yang Menyelamatkan Saya

FLICKR
Lokasi: Stasiun Duren Kalibata, Jakarta Selatan
Canon Ixus 860 IS | Canon Zoom Lens 4.6-17.3 mm

Beginilah mungkin cara engineer menyelesaikan masalahnya hahaha. Saya pergi ke Bogor untuk sebuah keperluan dengan kereta KRL Ekonomi AC Tanah Abang – Bogor dan kembali dengan kereta terakhir, KRL yang sama. Saya naik dari stasiun Duren Kalibata dan turun di stasiun kecil bernama Cilebut, satu pemberhentian sebelum stasiun Bogor — setelah Bojong Gede.

Saya sangat jarang naik KRL, terakhir adalah waktu ke Kebun Raya Bogor, itupun naik Pakuan Express yang tidak berhenti di stasiun-stasiun kecil. Jadi masalah saya adalah: saya tidak mengenali bentuk stasiun dimana saya harus turun. Pas berangkat, saya berdiri di dekat pintu agar bisa melihat papan nama stasiun sehingga waktu saya lihat papan bertuliskan Bojong Gede, saya tahu pemberhentian berikutnya saya harus turun.

Masalah terjadi pada waktu pulang. Kereta terakhir berangkat dari Cilebut pukul 21:04, praktis saya tidak bisa melihat papan nama setiap stasiun. Kaca jendela gelap tidak bisa diintip. Saya hanya bisa melihat sebatas ketika pintu dibuka, dan itu sangat singkat. Kalau saya tidak turun terlalu awal, bisa jadi saya turun terlalu jauh.

Langkah pertama, saya mengandalkan GPS di Nokia N95 saya. Sialnya, mulai stasiun Depok, dia kehilangan kontak satelit dan tidak bisa tracking posisi saya. Nokia Maps, Google Maps, MGmaps, sama saja, ngak ngok tidak bisa tentukan posisi. Saya tidak bisa lagi mengetahui stasiun mana, entah Lenteng Agung, entah Pasar Minggu.

Untunglah saya ingat di pagi waktu berangkat tadi, saya foto-foto suasana stasiun Duren Kalibata, seperti yang biasa saya lakukan ketika bepergian untuk membunuh waktu. Jadi saya keluarkan Ixus dari saku celana, mereview foto-foto tadi dan menghapalkan ciri-ciri stasiun Duren Kalibata. Ciri yang saya hapalkan adalah pagar yang bercat oranye kombinasi kuning, bangku bercat biru, dan latar pohon-pohon (bukan toko/jalan raya). Saya kaget ketika tepat saat kereta berhenti, ciri-ciri itu langsung muncul di pintu yang terbuka. Saya lompat keluar dan memang saya turun di tempat yang tepat. Hahaha…

Saya geli menyadari bagaimana saya memecahkan masalah. Mungkin akan lebih menyederhanakan persoalan jika saya bertanya ke petugas bahwa ini telah sampai mana, dan berapa kali berhenti lagi untuk tiba di tempat tujuan saya. Tapi ya inilah mungkin pola pikir seorang engineer yang terbiasa berpikir deduktif dan analitik. Terstruktur, terpola seperti kode program komputer saja, hahahaha… :))

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

14 comments

  1. Jiahahahaha sama aja…

    Yang lebih gampang nginget Duren Kalibata itu (kalo dari Bogor) saat melewati bypass, ada sirene lampu merah yang meraung-raung.

    Kalo saia saking lamanya jadi anak kereta, dari baunya aja udah bisa nebak sampe stasiun mana (lmao)

  2. hehehe… jenius!!

    Jadi inget dulu saya pernah terlantar di Cileduk tanpa tau jalan (walaupun punya alamatnya sih), hape ketinggalan, dan tak satupun nomer telpon yang saya hapal. Dan daripada saya nyari2 alamatnya dengan resiko kesasar, saya nyari warnet terdekat, membuka fecebook dan mencatat nomer hape teman saya itu, lalu pergi ke wartel menelepon dia dan minta jemput ๐Ÿ˜€ *ribed tapi efektif*

  3. Subhaanallaahi wabihamdihi Subhaanallaahil รขโ‚ฌหœadhiimรขโ‚ฌยฆ

    Salam Ramadhan Al Mubarok 1430 H
    Salam Hangat Selalu dari AbulaMedia.com

  4. Wuahahaha…sama donk ama aku.. Aku juga ga suka naek KRL yah gitu, ga ada tanda2 stasiun pemberehentian mana aja.
    Btw, waran stasiun Duren Kalibata itu sama loh kek St. Tanjung Barat. Untung kamu gak keliru :p

  5. Saya mah paling anti tanya2 di jalan. Mending telpon orang yg kenal daerah situ. Tp emang, butuh lebih banyak biaya. ๐Ÿ˜€ harusnya saya lebih banyak bergaul dengan orang daripada mesin *sigh*…

    –budiw

Leave a Reply to Galih Satria Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *