Tentang Empat Bulan Belajar Piano

Tidak terasa, empat bulan perjalanan saya belajar piano. Jari-jari masih kaku, dan saya adalah orang yang paling malas melakukan penjarian. Latihan penjarian itu membosankan, hanya tang ting tung dari kiri ke kanan lalu balik lagi sampai bosen. Tapi memang terasa sekali manfaatnya untuk melemaskan jari. Memaksa jari-jari bekerja keras karena setengah jam saja sudah bisa bikin kelingking gemetar tak mampu lagi mencet tuts piano. Dan saya ingat pesan Pak Dimitri Mahayana waktu beliau mengajari saya secara singkat teori-teori piano jazz: bahwa penjarian itu penting agar kita selalu melangkah maju.

Tetapi paling tidak, apa yang saya dambakan waktu tercetus pikiran untuk belajar piano sudah sebagian terwujud. Memainkan lagu-lagu pop slow sederhana, bermain untuk sekedar melepas penat dan mengisi waktu di hari sabtu dan minggu. Saya sering melamun tentang malam yang hening sambil diiringi dentingan piano yang lembut. Seperti lagu yang saya mainkan tadi, medley lagu-lagu lama Koes Plus: Desember dan Maria. Kadang-kadang, juga untuk curhat juga, misalnya lagu Cinta Dalam Hati-nya Ungu yang bisa saya nyanyikan dengan penuh penghayatan. :))

Meskipun suasana malam hari itu buat saya paling cocok diiringi musik jazz yang lembut bernada-nada kromatik dominan 5 dan 9, saya masih jauh dari itu. Kedua tangan saya masih belum terlalu bisa diajak kompromi, utamanya ketika jari kiri memainkan nada 1/8 dan jari kanan memainkan nada 1/16. Dan proyek besar saya juga belum selesai, yaitu menyelesaikan satu partitur lengkap First Love-nya Utada Hikaru. Masih mandek di bagian ref-nya.

So far, piano jauh lebih menyenangkan daripada gitar, he he he…

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

9 comments

  1. @geblek:
    hahaha… ditunggu mas 😀

    @detx:
    tidak ada kata terlambat untuk belajar, hanya sekadar ingin membuktikan kalau belajar piano itu bisa kapan saja 🙂

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *