Tentang Film Ketika Cinta Bertasbih

SPOILER ALERT!

Saya memiliki kenangan yang membekas tentang novel Ketika Cinta Bertasbih, sehingga saya menyempatkan diri untuk menontonnya. Saya pernah menggunakan kata-kata di penutup sebuah pernyataan cinta yang berbunyi, … ketika cinta bertasbih di hatiku. Aih… aih.. cooo cweeeet…

Tentang Alur Cerita

Agak aneh rasanya ketika orang datang ke bioskop dan disuguhi cerita yang bersambung. Artinya, keseluruhan jalannya alur cerita film tanpa dihiasi oleh klimaks dan antiklimaks/penyelesaian! Ketika cerita sudah akan memasuki konflik cerita utama — di mana Anna menikah dengan Furqan dan Azzam memulai kehidupannya sebagai pengusaha di Indonesia, cerita malah dihabisi dengan tulisan To be Continued! Dua jam cerita mengalir, sama persis dengan yang ada di buku. Cukup membosankan.

Sebelum menonton, saya sudah menebak-nebak kira-kira bagian mana dari novel yang akan dilewati. Saya menebak bagian kisah cinta Tiara-Fadhil yang tragis akan dilewati, lalu detail-detail kecil Azzam dengan Eliana. Ternyata saya salah. Alur cerita bergerak sangat lambat, semua yang ada di buku dicopy-kan ke film. Yeah, kalau memang jadi dua seri, pembuat film tidak perlu bingung meringkas ceritanya.

Tapi bukan berarti secara keseluruhan filmnya jelek. Karena didukung cerita novelnya yang kuat, versi filmnya menambah visualisasi pesan yang dibawa novel KCB dengan baik. Karakter sentral film ini, Khairul Azzam, digambarkan dengan lebih baik di film. Karakter Azzam yang di novel cenderung serius, pemurung, angkuh terhadap prinsip, di film menjadi Azzam yang ceria, namun tetap tidak meninggalkan prinsip-prinsipnya yang adiluhung sebagai pemuda muslim yang jempolan.

Bagian yang paling inspiratif mungkin adalah ketika Tiara menikah dengan pria yang tidak — atau belum — dicintainya. Kisah cinta yang tragis karena dua orang yang saling jatuh cinta tidak bisa bersatu lewat pernikahan karena kesalahan melangkah dan mengambil keputusan. Yang patut dicermati adalah bahwa Fadhil — lewat nasihat Azzam — berani untuk ikhlas dan tidak mau mengambil langkah yang gegabah untuk merebut kembali Tiara. Ini adalah jalinan cerita cinta yang lebih realistis ketimbang model cerita cinta ala Snow White dimana ada seorang Knight in the Shining Armor melarikannya ke istana nun jauh di sana.

Tentang Anna Althafunnisa

Oki Setiana Dewi memerankan Anna Althafunnisa — saya lebih suka melafalkan tha dengan a bulat daripada tho –dengan sangat baik. Cantik, pandai, berwawasan luas, pintar berorganisasi, ramah, santun dan lembut hati. Saya yakin akan ada banyak pria langsung mendambakan punya isteri seperti Anna, dan tiba-tiba saja ada banyak wanita yang ingin seperti Anna. Model jilbab Anna saya kira akan segera menjadi tren. ๐Ÿ˜€

Bagi saya, Anna di film kurang charming dibandingkan dengan imajinasi saya. Anna di imajinasi saya justru lebih mirip Cut Mala atau Ayatul Husna. Kalau keduanya disuruh memakai jilbab lipatan, lalu disuruh bersikap lebih lembut daripada karakter yang dibawakannya, itulah Anna di imajinasi saya. Seperti adegan Husna di acara bedah bukunya yang memakai jilbab kain lipatan. He he he… si Lia adiknya Husna juga manis ๐Ÿ˜€ *halah

Penutup

Saya akan lebih menyukai film ini jika semua konflik diselesaikan dalam satu seri saja. Rasanya aneh jika menonton film tanpa ada klimaks dan ketika emosi penonton sudah dibentuk, cerita malah dipotong seenaknya oleh pembuat film. Mungkin akan lebih baik jika alurnya meniru model film Angels and Demons saja. Alur ceritanya sedikit diubah tanpa menghilangkan pesan utama.

Cineplex 21, Setiabudi Building, Jakarta

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

15 thoughts

  1. Mas Galih, bukannya film2 terkenal juga mengambil format bersambung dan penonton kita tenang2 aja?

    – The Lord of The Rings
    – The Golden Compass
    – Harry Potter

    2 yang terakhir memang ada klimaks yg diselesaikan di tiap judulnya. Tapi u/ LOTR juga nggantung koq cerita di ep. 1 & 2-nya.

  2. film ini bikin oleh seorang sutradara terkenal dan kenamaan di indonesia.. menangin ffi… tapi apa daya … saya sangat–sangat …kecewa…

    editannya kurang ok..antara satu adegan ke adegan lainnya ga alami.. music scoringnya kayak nonton film taun 80-an.. padahal kan ada sekarang yang bikin music scoringnya live gitu dr orkestra.. kaya film indonesia lainnya kan udah gitu tuh.. mereka pada bikin music scoringnya di bangkok..

    n akhirnya bersambung.. padahal belum dapet tuh konfliknya di yang pertama… mending dibikin satu film, tp adegan2 di film pertama yg ga penting di buang aja..
    tetep aja.. mo lebih islami ato ngganya k dua film itu, yang penting mah acting is acting…

    trus agak kecewa dengan covernya.. mengapa harus ada cap asli mesirnya sih??? kayaknya sang produser n sutradara ragu kalo itu emang bener2 syuting di mesir.. ga penting banget soalnya…
    trus kalo filmnya tentang planet mars emang syutingnya harus di planet mars???

    sekali lagi… acting is acting… hehehe…

    maaf ya kepada temen2 yang tak sependapat dg saya… kita kan negara demokratis.. jadi boleh donk kritik buat kemajuan perfilman indonesia..:)

  3. @yudha_ht:
    Kira-kira begitu

    @Fenty:
    Loh, nyari apa ini fent? (unsure)

    @Prabowo:
    Betul sekali Pak Prabowo, tapi film-film itu masing-masing seri memiliki satu konflik tersendiri yang diselesaikan, sedangkan konflik utamanya terus didevelop. Kalau yang ini, subkonfliknya (Tiara-Fadhil) tidak terlalu didevelop, sehingga akhir ceritanya benar-benar nggantung menunggu konflik utama diselesaikan di seri 2.

    @aRuL:
    Ah, vulgar sekali bahasa Azzam ya? :))

    @nduk pitri:
    Rata-rata komentar orang memang begitu, mirip sinetron

    @resty:
    Terima kasih tambahannya, Mbak Resty ๐Ÿ™‚

  4. aQ daH noNtoN fiLmรƒยก…. tp gK asiK cauSe To bE coNtiNued cieH…..
    buT aQ sK kaRkteR yG d miLki aNnA kReeeeN…. aQ jD inGin sPrti diA…. ha..ha..ha..

    y udH deCh gUd luCk aZa bwT KCB seAsoN 2….

  5. aku belum nonton KCB…. tp liat comment temen2… nggak jd aja ach nonton nya….
    baca buku nya lagi ajah…… biar udah berkali2 jg…..

  6. saatnya anda menjadi sutradara……….
    segala kekurangan yang ada, tapi semoga tetap memberi pengetahuan baru…ada izzah dan azzam yang harus qt dukung……………..

  7. padahal Q udh nunggu gmn kelanjutan ceritanya c anna m azzam di indonesia,,,eh palah bersambung….tp…cukup menyentuh jg c alur ceritanya. tapi nih kalo bisa jgn bersambung lagi ya ceritanya….

  8. bagus….tapi knp mesti bersambung, aneh…ada temen bilang kok ga sebagus novelnya ya???tapi buat pu3 sama bgsnya kok, cuma yang agak kecewa kenapa mesti to be continue????….gpp ditunggu lanjutannya yah!!!

    islam selalu memberi yang terbaik, krn agama rahmatan lil allamin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *