Gouverneurs Kantoor

Dua tahun yang lalu saya memulai hunting landscape pertama saya di Jakarta. Pagi-pagi, meluncur dengan Suzuki Tornado ke pelabuhan Sunda Kelapa mengejar sunrise. Sempat jatuh tersungkur gara-gara ada lubang di depan Mangga Dua Square. Setelah matahari sepenggalah, saya melanjutkan ke kawasan kota tua Jakarta, dengan ikon utama Museum Fatahillah ini.

Nikon D40 di tangan saya masih hitam mengkilap. Inilah kamera DSLR saya yang pertama. Lensa satu-satunya adalah lensa kit jarak menengah 18-55 mm. Agak aneh rasanya mendengar suara autofokus yang unik — saya terbiasa memfokus dengan cermin belah di Nikon FM-10. Lalu suara klik shutter dijepret, sungguh suatu sensasi tersendiri. Warna-warni khas Nikon yang hangat di layar LCD yang lebar — D40 adalah pelopor LCD terlebar saat itu — membawa efek yang menyenangkan. Itulah salah satu kesenangan hobi fotografi.

Dua tahun kemudian, saya kembali mendatangi lokasi ini. Tidak ada yang berubah. Museum Fatahillah selalu fotogenik untuk difoto. Pagi atau sore, langitnya selalu biru cantik, tidak seperti langit Jakarta yang umumnya berwarna abu-abu kusam tercampur kabut smog kemerah-merahan. Nikon D40 di tangan saya tidak lagi mengkilap, tetapi temannya sudah banyak. Beberapa lensa dan beberapa filter. Hmm… kapan ya dia punya adik D300 ha ha ha… :))

Foto dua tahun yang lalu:

Bermain Bola  Museum Fatahillah (2)

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

7 comments

  1. @yudha_ht:
    tepat sekali mas 😉

    @juminten:
    hehehe, nggak bisa diulangi lagi yang kayak gitu 😀

    @investpanas:
    amatir saja oom

    @fenty:
    thanks fent 😀

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *