Service Oriented Architecture, Masa Depan Kita

Saya tersenyum getir waktu membaca milis JUGI (Java User Group Indonesia) yang sedang ramai membicarakan masa depan Java yang popularitasnya semakin turun. Kalau Anda masih terjebak dalam fanatisme sempit, semacam Java versus PHP, .net Framework, Ruby, dan seabrek alternatif teknologi yang lain, come on, wake up bro!

Memang harus saya akui sebagai fans sejati Java, dunia Java telah memasuki masa jenuhnya, dimana ada banyak sekali pilihan teknologi — terlalu banyak. Anda bisa menulis “Hello World” dengan 30 cara yang berbeda di Java. Mau cara apa? JSP, Struts, JSF, Spring, Hibernate, Ibatis, EJB, Annotation, IceFaces, Seam? Artinya teknologi ini sudah memasuki masa mature-nya, dan siap digantikan oleh teknologi baru yang lebih menggoda.

Oh tidak, saya tidak berpikir sampai di situ saja. Seharusnya kita sudah mulai berpikir bagaimana melakukan integrasi antar sistem terdistribusi dalam platform yang berbeda-beda. Sekarang, setiap perusahaan memiliki sistem terdistribusinya. Semakin lama platform semakin beragam, dan ujungnya biaya maintenance yang semakin mahal. Proses bisnis semakin bergantung dengan keberadaan sistem IT, tetapi biayanya pun semakin mahal karena semakin kompleksnya jejaring antar aplikasi.

Service Oriented Architecture, tidak hanya datang membawa sebuah solusi arsitektur aplikasi yang lebih baik, namun juga sebagai performance management bagi para pembuat keputusan. Dengan sudut pandang per servis yang diberikan, biaya perawatan sebuah sistem IT bisa dibebankan pada setiap pihak yang berhubungan dengan servis yang digunakan.

Melihat tren para vendor besar, tren ke arah SOA juga telah terlihat nyata. Masing-masing memiliki jagoannya masing-masing. Oracle, IBM, dan Weblogic. Ini artinya, dengan investasi besar di SOA, mereka percaya pada SOA sebagai masa depan seperti dulu Oracle berjargon, “Because we believe in Java”. Di dunia open source pun, salah satu vendor terbesarnya, Apache Software Foundation, juga telah membuat tool-tool SOA-nya.

Jadi, apakah kita akan masih berkutat pada fanatisme sempit macam Java versus MS .net? Tantangan ke depan kita adalah bagaimana membuat dua platform ini berkomunikasi dan bekerja sama dengan baik. Salah satu medianya adalah SOA. Sudah saatnya kita ngomong tentang Web Service, BPEL, atau ESB (Enterprise Service Bus). Untuk masa depan. 🙂

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

4 comments

  1. Bukannya cuma memindahkan fanatisme ya,, yang tadinya mau pakai framework apa jadi mau pakai service bus apa.. OSB? JMS? AMQP? *sori sotoy* Hehehe.

    Salam kenal, blog yang menarik.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *