Angels and Demons: The Movie


Courtesy of: Wikipedia

Buku yang pernah “menyiksa” saya ini keluar juga filmnya. Menyiksa, karena saya membelinya sehari menjelang UTS, dan saya tak bisa lepas dari buku ini untuk membuka buku pelajaran. Mengasyikkan sekali menyusuri perburuan Robert Langdon dari Gereja Pantheon, Santa Maria del Papolo, lapangan Basilika Santo Petrus, Gereja Santa Maria della Vittoria, Piaza Navona, hingga Gereja Pencerahan di Gereja Saint Angelo.

Motivasi saya satu-satunya menonton film ini adalah ingin melihat secara nyata segala macam material yang dideskripsikan dengan begitu detail di buku Angels and Demons. Bagaimana rupa relief West Ponente, wujud nyata Ossuary Annex, sampai lukisan di kapel Sistina tempat para kardinal melakukan Conclave — rapat suci pemilihan Paus yang baru. Saya terlalu terobsesi dengan keinginan mencocokkan imajinasi saya dengan di kenyataan. Saya bahkan dua kali mencari referensi patung The Ecstasy of Santa Theresa, yang oleh Dan Brown disebut metafora untuk menggambarkan kenikmatan orgasme.

Tapi ternyata saya tak hanya mendapatkan itu saja. Jalan cerita di film telah banyak diubah meskipun tidak keluar dari tema yang ada di buku. Ini menjadikan film Angels and Demons tidak hanya menarik dinikmati oleh mereka yang belum membaca bukunya, tapi juga saya yang sudah membaca bukunya berpuluh kali.

Bagaimana dengan kecocokan antara imajinasi saya dan filmnya. Cukup dekat — sangat dekat malah. Vittoria Vetra (Ayelet Zurer) yang langsing dan cantik sedangkan Robert Langdon di imajinasi saya sedikit lebih muda daripada Tom Hanks. Sayangnya adegan terakhir waktu Langdon melihat penampakan Dewi Roma dalam sosok Vittoria Vetra terbungkus jubah kamar mandi tidak disertakan. =))

Dramatisasinya, bagi saya jauh lebih dramatis di buku, lebih menyentuh, pengaburan antara hitam sebagai wakil kejahatan dan putih sebagai wakil kebaikan dicampur-adukkan Dan Brown dengan sempurna. Di film, semua terlihat jauh lebih realistis tanpa mengurangi efek dramatisasinya. Memang kejadian Langdon jatuh di Sungai Tiber akan membuat film jadi seperti cerita yang tidak masuk akal, sehingga klimaks yang benar-benar baru dibuat di film ini. Mantap!

Pelajaran moral yang paling bisa saya tarik adalah: terkadang orang harus melakukan kejahatan untuk tujuan yang sebenarnya sangat mulia. Jadi siapa itu kebaikan? Siapa itu kejahatan? Siapakah Malaikat? Siapakah Iblis? Dan apakah itu dibenarkan? Semua dicampur aduk di film Angels and Demons. Anda harus memiliki pandangan terbuka agar bisa menikmatinya.

PS: Cineplex 21 Cilandak Town Square, 18 Mei 2009. Thanks kak!

Published
Categorized as Review

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

10 comments

  1. iyahhh 😀
    keren bgt filmya…
    wpun gw blm baca bukunya yg katanya lbii keren, bisa dibayangin lahh..
    filmnya ajah uda keren gni gmn bukunya ;p
    jd pgn ke vatican 😀
    overall, gw sukaaa bgt!! :))

  2. Aku belum selesai baca bukunya, jadi gak keikutan euforia pada pengen nonton filmnya … hehehehe … tapi pasti suatu saat kutonton lah 😀

  3. yup kern banget filmnya…gw baru tau ada gerakan itu..gw jadi sering nyari n nemuin hal baru…palagi tentang rencana penyatuan dunia…

  4. terkadang orang harus melakukan kejahatan untuk tujuan yang sebenarnya sangat mulia.

    tujuan mulia itu relatif dan subjektif, tapi kejahatan ya tetap aja kejahatan yang seharusnya tidak dilakukan atas nama apapun sbg pembenaran.

  5. bener banget,,
    sampe hari ini aku dah dua kali nonton film itu d bioskop,,,
    pengalaman kedua nonton tetep aja deg2an,,,
    yang belom nonton, silahkan penasaran,,,!!!!

  6. agak “datar” kalo menurut saya alur ceritanya..
    mestinya, secara tersirat bisa dijelaskan, kenapa “si water” (air) itu yg selamat.
    (itu loh satu2nya uskup yg selamat/berhasil diselamatkan dari bahaya maut setelah ditenggelamkan ke dalam kolam air mancur dlm keadaan terikat).

    saya berharap, ada sekit filosofi di sana, mengingat, sejarah roma katolik itu, penuh dengan simbol, semantik, dll yg menarik untuk dikaji terutama mereka yg menyukai ilmu semnatik (termasuk saya) 🙂 apakah karena “air” adalah kehidupan? seperti yg tertulis di injil, atau memang penulis naskah-nya punya filosofi sendiri?

Leave a Reply to ridho Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *