Memperkenalkan: IR Shell

MEMBACA EBOOK DI ATAS PLAYSTATION PORTABLE

Meskipun belum bisa dikategorikan sebagai kutu buku, tapi pada dasarnya saya suka membaca. Tiga kotak rak buku kecil merk Olympic dari Carrefour itu sudah penuh. Mayoritas dipenuhi oleh novel, sedikit diwarnai oleh non-fiksi, dan tanpa textbook. Ini yang buat saya sedikit ironis, artinya saya sudah agak malas meng-update ilmu — sementara perkembangan teknologi informasi terus berlari. Padahal, rak buku waktu kuliah dulu fifty-fifty, fiksi dan textbook saling berbagi tempat sama rata.

Sekarang, mayoritas buku teks saya adalah berbentuk ebook dalam format PDF atau CHM. Saya download dari flazx, entah legal atau tidak, saya kira sih itu ilegal hehehe, tapi ya bagaimana lagi, harga buku teks impor rata-rata di atas Rp. 500.000 (belum beserta ongkos kirim FedEx dari Amazon), sedangkan buku teks karya anak bangsa bukan jadi tambah pinter, malah jadi ter-indoktrinasi.

Masalahnya, saya agak kesulitan membaca teks-teks panjang di layar monitor komputer. Selain cahayanya yang melelahkan, saya tidak bisa membaca dalam posisi paling favorit: sembari tengkurap atau telentang di atas kasur. Cara baca yang tidak baik buat mata ha? Tapi begitulah keadaannya. Kalau begini, masak laptop harus dipegang di atas kepala sambil tiduran? Berat bo’.

Mungkin saya belum cerita, bahwa beberapa waktu yang lalu saya beli PSP 2000 (Playstation Portable) sekadar untuk memenuhi keinginan masa kanak-kanak. Flashback ke sekitar tahun 1997, saya merengek, merajuk, melakukan segala daya upaya untuk membujuk Ibu membelikan saya Play Station. Kokoh bagai gunung Arjuna, Ibu tetap berkata pendek,

“Tidak. Tidak, dan sekali lagi Tidak! Kamu akan cepat bosan. Daripada buang-buang uang buat beli PS, mendingan kamu minta makanan apa saja Ibu akan belikan.”

Ya sudah, gagal. ๐Ÿ˜€

Damn! She was damn right! Maafkan aku Ibu, lagi-lagi beliau benar. Setelah saya menyelesaikan beberapa seri Need for Speed, kotak merah itu hanya menjadi teman sempurna di perjalanan mudik. Selebihnya, teronggok berdebu di sudut meja tulis. Ibu benar, main game memang membuat cepat bosan.

*

IR Shell yang menyelamatkan PSP merah itu menjadi barang penghias meja. IR Shell adalah semacam operating system yang berjalan di atas arsitektur mesin PSP. Ia menghadirkan sebuah shell komputer yang menjadi pondasi aplikasi lain untuk berjalan di atasnya. Seperti Windows, Linux, dan Mac di PC, IR Shell berjalan di atas PSP.

Mendukung fitur multitasking, IR Shell menghadirkan sebuah komputer mini di genggaman kita. Lebih praktis dari laptop mini berlayar 7 inchi favorit para gadgeter pemburu hotspot di kafe-kafe karena PSP sudah mendukung Wifi alias Wireless Network sehingga bisa untuk browsing Facebook di hotspot di kafe-kafe.

Tapi fitur yang paling saya sukai adalah kemampuannya menghadirkan ebook reader. Ini benar-benar mengakomodasi gaya membaca saya yang sambil tiduran. Jadi saya bisa telentang sambil mengangkat PSP di depan muka sambil menggerakkan joystick-nya. Scroll ke bawah, serong kiri, serong kanan, hahaha…

Tentu saja, kalau bosan membaca dalam sepi, tinggal mainkan MP3 player yang juga secara default didukung oleh IR Shell sambil meneruskan membaca. Atau kalau sudah benar-benar capek baca, alihkan perhatian dan tonton film favorit Anda. Film? Yep, ini PSP bung, asal format videomu adalah MP4, Anda sudah bisa menikmati di layar lebar 16:9-nya yang luar biasa.

PS: Thanks to Pak Poen, pelopor PSP sebagai ebook reader di dunia komunitas kantor… @_@

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

5 comments

  1. Daripada buang-buang uang buat beli PS, mendingan kamu minta makanan apa saja Ibu akan belikan.รขโ‚ฌย

    Pantesan…. ๐Ÿ˜›

    Btw, tuh PSP kapan dibuat ngegame yak? ๐Ÿ˜›

  2. Oh gitu ya, mas.
    Saya baru tahu kalau PSP bisa dioprek kayak PC.
    Trims buat infonya. ๐Ÿ™‚

Leave a Reply to Fajar Herdian Akhzan Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *