Pemilu, Dari Pengabdian Hingga Pemborosan

Catatan Perjalanan Mudik Pemilu (2 – Habis)

Saya geleng-geleng ketika menyaksikan bagaimana para Panitia Pemungutan Suara (PPS) di setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS) bekerja. Setiap TPS memiliki sekitar 300-an pemilih yang akan menggunakan hak pilihnya di tempat itu. Paling tidak ada empat surat suara. DPR Pusat, DPRD I, DPRD II, dan DPD. Setiap surat suara yang sah harus ada minimal satu tanda tangan ketua KPPS. Belum lagi berkas-berkas berita acara dan sebagainya yang ribet.

Ini jelas pekerjaan pengabdian yang besar. Honornya sungguh tidak sebanding dengan beban pekerjaan dan besar risiko yang harus ditanggung para panitia pemungutan suara. Risiko?

Pemungutan suara adalah masalah yang sangat sensitif. Hal-hal teknis begitu mudah dibelokkan ke politis. Jadi sudah jelas, para ksatria-ksatria berseragam putih itu sangat berisiko dijebloskan dalam penjara dengan tuduhan memanipulasi suara — padahal mungkin itu hanya kesalahan sepele karena kesalahan administrasi saja.

Kebetulan ibu saya adalah ketua KPPS dari TPS 04 sehingga saya bisa menyaksikan jalannya pemungutan suara dan sedikit jeprat jepret dengan agak bebas. Sebelum acara pemungutan suara dimulai pun, ibu sudah sibuk menandatangani bermacam-macam berkas administratif. Pagi hari, sampai mimiren beliau menjelaskan tata cara pencontrengan yang sangat rumit untuk ukuran peserta TPS 04 yang mayoritas berlatar belakang buruh tani.

Menjelang siang hari, setelah menyambut kedatangan saya yang baru tiba dengan satu pelukan hangat, ibu mengumpulkan tim pemungutan suara menyiapkan proses penghitungan. Kemudian kotak suara dibuka, kertas suara dibuka satu per satu, memelototi kotak-kotak yang ada goresan contrengan. Ternyata proses “mencari contrengan” ini tidak mudah. Sementara, daftar para Caleg ditempel memenuhi dinding dengan paku. Panitia juga lagi-lagi harus mencari posisi Caleg yang mendapat suara untuk diberi tanda. Ibu baru pulang ke rumah pukul 23:00 malam.

Pemilu yang Tidak Go Green

Dunia sudah nyaris kiamat karena kehabisan pohon-pohon yang ditebang untuk kertas. Dan coba lihat berapa juta hektar hutan yang dibabat sia-sia untuk kebutuhan kertas Pemilu ini? Setiap surat suara berukuran sekitar A3, dan ini “hanya” dipakai untuk menulis coretan kecil yang disebut contreng. Setelah itu, mungkin berjuta-juta lembar kertas ini teronggok tak berguna di ruang arsip kantor kecamatan. Tak boleh didaur ulang atau dibuang, haram menurut Undang-Undang resmi kearsipan negara kita.

Seharusnya, sistem IT yang paperless bisa diaplikasikan untuk mendukung gerakan Go Green. Sayangnya, untuk ukuran negara kita, hal ini masih mustahil. Sistem contreng saja sudah membingungkan orang, apalagi kalau disuruh memegang mouse dan meng-klik pilihannya. Sementara, sistem IT untuk rekapitulasi penghitungan suara saja kacau balau.

Yeah… semoga biaya yang sangat besar ini membawa manfaat. Meskipun saya agak pesimis Pemilu ini bisa mendapatkan senator-senator parlemen yang berkualitas. Kualitas seperti apa kalau Calegnya diwarnai dari orang-orang nggak jelas dan artis jadi suara mayoritas? Entahlah. Semoga saya salah.

Lokasi Foto: TPS 04 Ds. Sanan, Kec. Pakel, Kab. Tulungagung, Jawa Timur
Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM 

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

10 comments

  1. bahkan sampai ada petugas KPPS yang meninggal karena terlalu lelah. sementara kita yang tinggal nyontreng aja banyak protes dan mencaci maki..

    yang tidak ikut nyontreng juga ikut mencaci..

  2. Semoga benar pemilu ribet ini tidak membuat negeri ini tambah ribet ya lih. Ak juga jadi saksi, melihat kaya apa kerja mereka. Salut buat pengabdian mereka. Pahlawan pemilu ya.

  3. Yang saya tertarik justru kemeriahan pulangkampungnya/mudik. Sudah lama ga merasakan berjejal-jejalan mudik sampai duduk deket toilet, trus nyampe rumah disambut peluk hangat ibu…Kok mirip keadaan saya dulu waktu masih bujang ya mas Galih(sekarang sdh sulit mau pulang karena sdh ada buntut/perlu biaya cukup besar untuk mudik). Mungkin ini salah satu alasan saya tertarik membaca ulasan/tulisan mas Galih, terus menulis ulasan-2 seperti ini mas Galih. Thanks

  4. ya memang gak Go Green!!!
    untungnya di kampus saya sudah mulai sistem pemilihan dengan komputer…
    meskipun sekedar pemilihan ketua OSIS…
    hehehe…

  5. Indonesia bangsa yang besar, tetapi sebagian calegnya tidak berjiwa besar,..

    smoga smw pemborosan yang dikeluarkan,. benar-benar akan menghasilkan eksekutif,dan legislatif yang baik,..sehingga Indonesia menjadi lebih maju,…

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *