Inikah Wajah Demokrasi Kita?

Catatan Perjalanan Mudik Pemilu (1)

Ada banyak hal yang terlintas saat saya mudik libur panjang Pemilu 2009 ini. Tiba-tiba saya merasa menjadi seorang yang peduli terhadap kondisi sosial masyarakat Indonesia yang sebelumnya sama sekali tidak.

Saya yang kehabisan tiket Gajayana terpaksa naik kereta Sembrani ke Surabaya dulu. Astaga keadaan Gambir sore itu nyaris menyamai suasana mudik lebaran. Dan para penumpang berdiri di gerbong tua tapi katanya kelas eksekutif itu penuh sesak. Setiba di stasiun Pasar Turi Surabaya, saya melanjutkan perjalanan ke terminal Bungurasih dengan taksi Blue Bird. Merasakan nikmatnya menjadi orang kaya yang berhak mendapatkan privilege khusus karena bebas finansial.

Sampai Bungurasih saya terhenyak. Penumpang terlantar karena pagi itu bus sedikit sekali yang beroperasi. Ketika sepotong bus Harapan Jaya tiba di terminal kedatangan, orang berhamburan menyerbu bus itu, berebutan pintu masuk yang sempit, berebutan mendapatkan tempat duduk.

Sampai di sini saya dihadapkan pada sebuah dilema. Kalau saya tak ikut berebut, tak mungkin saya mendapatkan bus sampai sore. Tidak ada yang mau antri. Tidak ada yang mau memperhatikan seorang ibu muda yang sedang menggendong bayi delapan bulan yang terhimpit di belakang. Bahkan ini masih di terminal kedatangan, bukan di terminal keberangkatan di mana orang seharusnya naik.

“Maaf… maaf…,” desis saya sambil merangsek mendesak masuk bus. Saya tak punya pilihan lain. Sampai di dalam bus saya lebih menjerit lagi karena banyak ibu-ibu menggendong bayi sambil berdiri, sementara tidak ada seorang pun mengalah untuk memberikan tempat duduk kepada mereka yang lebih lemah.

Saya memilih untuk tidak duduk dan mencari ruang yang sedikit longgar di belakang. Ah, saya menemukan tempat yang nyaman. Di tangga pintu belakang, di pojok depan toilet bus. Saya bisa duduk di situ, sementara hembusan AC di atas mengurangi udara pengap bus yang penuh sesak. Jarak Surabaya – Tulungagung sejauh 100 km yang masih harus ditempuh saya habiskan meringkuk di sudut itu sambil menghabiskan majalah Marketing edisi Maret 2009. Ternyata definisi kenyamanan tergantung sudut pandangnya. Nyaman adalah saat saya duduk di dalam taksi Blue Bird setengah jam lalu. Nyaman adalah saat saya meringkuk di sudut bus yang penuh sesak.

Demokrasi?

Beginikah wajah bangsa kita yang katanya adalah negara demokrasi terbesar di dunia setelah Amerika dan India? Kenyataannya, orang tidak lagi memikirkan orang lain. Hanya kepentingan diri sendiri yang menjadi landasan perbuatan di atas segala landasan. Jadi jangan heran dan jangan protes kalau anggota dewan korupsi. Mereka punya kesempatan kok. Saya dan Anda pun akan berbuat sama jika mendapat kesempatan itu.

Saya jadi ingat kata-kata Anthony Cade alias Pangeran Nicholas Obolovitch, raja Herzoslovakia yang didukung Inggris dalam novel The Secret of Chimneys-nya Agatha Christie. Konsep setiap orang adalah saudara dalam demokrasi adalah sesuatu yang baik. Tetapi masih agak sulit memahaminya ketika tidak ada orang yang mau memberi jalan untuk seorang ibu di terminal Bungurasih.

Mungkin demokrasi belum saatnya diterapkan di Indonesia. Mungkin sistem monarki justru lebih cocok. Raja Hayam Wuruk buktinya bisa mengantarkan Majapahit dalam masa kejayaannya di seluruh Nusantara. Atau yang lebih dekat, saya jadi merindukan sosok diktator kuat semacam Presiden Soeharto. Tidak mengapa saya jadi tidak bisa ngeblog secara bebas lagi, asal membawa keadaan masyarakat yang lebih baik, lebih bisa saling toleransi, dan menghormati satu sama lain.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

18 comments

  1. beh itu kamu foto pake kamera dslr ta sat?

    aku juga heran bus harjay selalu ramai dikerubuti penumpang. ndak perlu lama, penumpang udah nunggu soalnya. mirip bus aneka jaya surabaya pacitan, selalu penuh sejak 1 jam sebelum berangkat.

    masalah demokrasi, no comment!

  2. @DETEKSI:
    Kamera HP.

    @LuXsmaN:
    Hehehe, bukan soal pemilunya yang bikin orang mudik, tapi soal liburan panjangnya. Orang mah ngga peduli ama pemilu 😉

    @Anang:
    Ben iso dipangan dadi dipotong2 :p

  3. btw lapo kok sembrani?
    contact person ku di gambir opo wis ketangkep pulisi gak iso supply ticket maneh ndut?
    bwuahahauahuahua
    suwe gak contact sih aku..

  4. @ceznez:
    saya maksudnya? please read this one:

    Saya memilih untuk tidak duduk dan mencari ruang yang sedikit longgar di belakang.

    Meskipun saya bisa duduk, tapi saya memilih untuk tidak duduk. Kalau saya duduk saya tak akan menulis ini. 🙂

  5. klo menurut saya sich, rakytindonesia belum bisa mengartikan demokrasi itu secara bijak, mereka mengartikannya berdasarkan keuntungan mereka sendiri…..!!!

    jadi beginilah demokrasi ala indonesia…..:D

  6. Salam kenal, ikut ngoment ya…

    Tul banget, kalo urusan pelayanan publik negara ini paling ngga care. Waktu naik kereta ekonomi dari Ps Minggu ke Gambir, nyawa ini seolah tak lebih berharga dari nyawa kambing. Tapi untuk kembali ke rezim otoritarianisme seperti zaman Orba, NO WAY…

    Berapa banyak nyawa rakyat Aceh melayang dan pemuda yang dipenjara karena dituduh simpatisan GAM tanpa melalui proses preadilan. Berapa banyak kekayaan alam Papua yang dirampok tanpa menetes sedikitpun ke tanah asal. Berapa banyak petani cengkeh di Sulawesi, Nusa Tenggara dan Sumatera yang miskin sejadi-jadinya karena harga komoditas yang dimonopoli oleh perusahaan keluarga Cendana. Berapa banyak tanah ulayat di pulau Batam yang dirampas oleh negara dengan dalih pembangunan bangsa. Berapa banyak migas di Kepulauan Natuna dan Anambas yang dijual ke Singapura tanpa secercahpun disisakan untuk penduduk lokal hingga mereka tetap miskin dan terisolir dan lain-lain dan lain-lain….

    Kini lewat desentralisasi dan demokratisasi semuanya berubah perlahan tapi pasti. Namun sayang prosesnya tersendat karena ulah para komprador dan bad Guys yang mengendap-ngendap dalam perburuan jabatan publik. tapi itulah proses, dan tugas semua elemen bangsa untuk berkontribusi membenahinya agar proses yang agak stagnant tidak terlalu lama, termasuk kita para blogger yang punya gaya dan caranya tersendiri.

    John Dewey mengatakan Democracy is imperfect, but the answer to a defective democracy is more democracy, not less…

  7. di bungurasih yg paling saya benci adalah calok2 itu mas, setiap baru turun dr taxi disaat mudik kekampung, bah calok2 sialan bagiakan ikan teri ada makanan untukknya.

  8. Lih … nek nang jkt kuwi wes umum, bahkan … ibu hamil pun susah cari tempat duduk … Oh … Jakarta … !!.
    Ini kujumpai di KRL (maklum .. sabendino numpak KRL .. KRL mania oyeee). Padahal di KRL express yg notabene penumpangnya adalah org2 yg berpendidikan yang kerjanya di kantoran … kok ya oooooo … tega bener.
    Memang ada kursi khusus ibu hamil, manula, ibu punya balita, tapi ada cowok2/bpk2 ato mbak2 ‘pura2 tidur’ susah dibangunin yg duduk di tempat itu, ato parahnya menyuruh kita cari kursi yg lain. Nggak semua si penumpangnya gitu … tapi kebanyakan penumpang spt itu.
    Kadang di KRL ekonomi (klo nggak penuh looo, di hari libur) itu orang2nya lebih manusiawi .. padahal notabene penumpang ekonomi kebanyakan ‘wong cilik’. Knp ‘wong cilik’ lebih punya ati ?? …. Kok jd sharing ya … he he he (Pengalaman pribadi naek KRL Express dan Trans Jakarta dengan kondisi hamil tapi harus berdiri lama).

  9. SAY NO TO DEMOCRAZY AND DEMOCRACY….
    APAKAH MANUSIA MAKHLUK LEMAH LAYAK BUAT HUKUM??
    KRN ALLAH SANG PEMBUAT HUKUM
    MAKA HUKUM SIAPAKAH YANG LEBIH BAIK DARI HUKUM ALLAH??

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *