Pelajaran Sosial dari Lalu Lintas Jakarta

Harus saya akui, di belantara lalu lintas Jakarta, saya bukanlah pengendara motor yang baik. Saya sama saja dengan biker-biker lain yang menyebalkan. Suka zig-zag di sela-sela mobil yang berbaris rapi karena macet, menyalip dari kanan dan kiri, menyerobot lampu merah (walaupun tidak sering). Prestasi “terbaik” saya adalah menghantam spion mobil karena salah memperkirakan lebar celah yang cukup untuk badan Jupiter bisa menyusup. Dosa satu-satunya yang belum pernah saya lakukan adalah memakai jalur busway.

Seperti yang pernah saya katakan, jalanan Jakarta yang semrawut adalah pelajaran sosial yang sangat berharga. Ternyata arus kuat bisa menyeret kerikil-kerikil kecil dan menghanyutkannya. Maksud saya, dulu saya adalah pengendara motor yang baik. Ternyata pelan-pelan, saya tergilas mengikuti sistem yang telah menjadi kewajaran. Adalah aneh jika biker tidak berjalan zig-zag dan menunggu lampu hijau menyala. Anda akan diserang klakson. Ini memberikan pelajaran penting: jangan anggap remeh sistem yang kacau dengan menganggap Anda bisa memperbaiki sistem, salah-salah Anda yang terseret di dalamnya.

Semua hal itu membuat saya semakin sabar menghadapi lalu lintas Jakarta. Jika diserobot atau dirugikan, saya tersenyum dan tak membuat klakson saya menyalak kencang. Saya tak pernah lagi mengumpati pengendara lain. Karena mungkin saja besok saya yang ada di pihak pengendara itu.

Jumat pagi kemarin, di perempatan lampu merah fly over Pramuka arah ke Salemba, lalu lintas begitu sibuk. Seperti biasa, motor berjejal-jejal saling berebut celah yang ada untuk menuju ke paling depan. Beberapa gerombol motor menyikat jalur kiri untuk menuju ke depan, termasuk saya. Kalau sudah di depan, biasanya selalu ada celah untuk menyusup balik ke jalur tengah. Sial bagi saya, celah itu sudah habis terisi. Saya tetap di jalur kiri, sambil berjalan pelan-pelan mengulur waktu berharap lampu hijau segera menyala.

Saya berhenti akhirnya. Tetap di jalur kiri di sisi paling kanan. Saya lirik ruang sebelah kiri saya masih muat untuk sebuah mobil meskipun sangat ngepas. Tak sampai sepuluh detik, sebuah Avanza cokelat meraung-raung di belakang saya. Rupanya ia tak bisa lewat. Lampunya dikedip-kedipkan. Saya tahu maksudnya, mengintimidasi saya agar segera memberi jalan. Saya cuek. Telinga ini sudah terlalu tebal. Percuma orang ganti klakson yang paling kencang sekalipun. Telinga biker itu sudah tuli dengan isyarat klakson.

Semenit kemudian, lampu hijau menyala. Saya menyingkir ke jalur tengah. Saya mendengar ada orang berteriak. Saya menoleh. Ternyata sopir Avanza itu telah menurunkan kaca mobilnya. Bapak-bapak umur 40 tahunan. Astaga, betapa marahnya dia. Wajahnya merah padam, “Hoee!!! Lu punya otak gak sih?!?” teriaknya sambil mengacungkan jari tengah ke saya. Saya buka kaca helm dan tersenyum sambil melambaikan tangan. Meminta maaf maksudnya. Tapi saya tahu, senyum saya diterjemahkan sebagai senyum yang paling menyebalkan oleh bapak itu.

Wah, saya jadi bertanya-tanya. Apa yang menyebabkan kita begitu mudah naik darah di jalan? Kesalahan pengendara lain seakan sangat merugikan kita sehingga kalau perlu ia dicegat, diberi makian sampai puas, dan ditampar kalau perlu. Di jalanan, berbagai orang dengan bermacam ragam latar belakang, temperamen, pendidikan, dan tingkat kesabaran bercampur menggunakan jalan yang sama. Sayangnya, sebagian besar adalah orang-orang pemarah. Mengacu pada paragraf 1, sebaiknya kita belajar dan tetap berusaha untuk tidak terseret arus. Tetap berusaha menjadi pengendara yang baik dan santun.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

9 comments

  1. jangan anggap remeh sistem yang kacau dengan menganggap Anda bisa memperbaiki sistem, salah-salah Anda yang terseret di dalamnya.

    betul. betul. betul. 😀

  2. itu baru studi kasus kecil di jalan raya sat, gimana dengan pemilu ini? banyak sekali partai, ibaratkan seperti kendaraan, ada yang roda-4 atau partai besar, ada yang roda-2 bermotor atau partai sedang, ada yang roda-2 pancal ibarat partai kecil, atau yang naik angkot ibarat partai gurem. semua ingin menuju senayan. ada banyak jalan memang, tetapi jalannya saling berhimpit, tumpang tindih, bahkan beririsan..

    nanti kalo sudah sampe senayan? lebih parah lagi!

  3. Opini pribadiku, mas Galih: Yang harus mendapat prioritas di jalan (selain yang standar seperti ambulans dan pemadam kebakaran):
    1. Bus kota. Alasan: Sekali angkut, dia telah membawa banyak penumpang. Coba kalo penumpang2 ini membawa kendaraan sendiri, berapa banyak akan bertambah beban jalanan
    2. Mobil yang membawa banyak penumpang. Minimal 3 orang lah.
    3. Motor. Alasan: Hanya sedikit memakan ruang di jalan. Ruang yang dipakai 1 mobil roda 4 setara dengan 4 motor.

    Cuma ya itu tadi… tenggang rasa tetaplah di jaga.

    Yang paling tidak perlu dapat prioritas: Jeep/sedan/colt atau apapun kendaraan non-pengangkut-barang yang hanya dinaiki oleh 1 orang.

    Jadi gimana bapak2 umur 40 tadi mas Galih? Sendirian nggak naik mobilnya? Kalo sendirian, cueki aja. Salah sendiri egois, ruang 4 motor dipakai 1 mobil. Bikin jalanan macet.

    Hehe… sori, ini pendapat ngawur 😀

  4. Jangankan yang pengguna kendaraan bermotor, lih. Aku yang tiap hari jalan kaki ke kantor aja pusing dengerin klakson mobil dan motor. Gila, lampu masih merah klakson udah kenceng banget sahut2an. Udah ga ada bedanya ama preman. Ada yang bilang kalo peradaban suatu negara/kota dapat langsung dilihat dari pengguna lalu lintas.

  5. Tapi khan emang mas Galih ndak seharusnya di jalur itu. Dah gitu cuek2 aja hehehe..

    Anggep aja bad luck ga bisa ke tengah 🙂 Lupain aja bapak2 itu dan kejadian ini.

    Kalau ada begini lagi, sebisa mungkin positive thinking aja. Sapa tahu orang itu lagi mau nemeni istrinya mau melahirkan.. Atau mau ke bandara, ngejar pesawat karena ada kerabat yang meninggal.. Atau mau beli obat buat anaknya yang sakit.. *

    Well, who knows… 🙂

    (*) Atau sekedar sakit perut, buru2 mau ke toilet. Sayang khan joknya kotor. Itu mobil kantor pinjeman, mau dipake pergi sama cewe yang akhirnya didapatkan stelah 5 tahun menjomblo hehe..

  6. duh,bingung mw comment apa nih mas..
    aq org baru bwt dunia ky gni c, jd msh grogi-an..
    halah..
    he..

    aq stuju bgt tuh ma posting nya, aq pun merasakan hal yang sama..
    aq tuh selalu mematuhi smw peraturan lalu lintas dg baik n bnr loh..
    (ya.. wlwpun aq blum pny SIM,he..)

    tp, smnjk aq prnh kena tilang gr2 gak sengaja nyelonong pas lmpu mrah,
    aq jd suka se enak2nya d!!
    udh gt,skrg jd suka emosi-an gitu aq nya..

    hwahaha…
    mang kyny klo lg di jln adlh cobaan terberat..
    aplg klo lg puasa..
    bisa kluar smw d isi kebun binatang dr mulutQu..
    ;D

    oy mas,tny dunx..
    cari modif blog itu gmn c?
    biar g monoton gt..
    he..

    thx a lot y,mas..
    lam knal..

  7. wah, anda bijaksana sekali. saya malah baru pada tahap, saya aling baik dalam berkendara dan semua orang selain saya di jalan adalah brengsek. tapi, setelah membaca tulisan anda ini, saya juga mikir. tak mungkin melulu melakukan pembenaran diri, dan menyalahkan orang lain., karena toh, memang jalan penuh dengan beragam orang yang berbeda-beda.

    tapi, saya tetap akan berusaha menjadi orang baik di jalan. juga dengan terus berusaha bisa memahami orang lain.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *