Idola Cilik dan Punahnya Lagu Anak-Anak

Hari ini, Paton dan Debo tampil untuk kali terakhir untuk membuktikan siapa di antara mereka berdua yang pantas menjadi Raja Idola Cilik 2. Dan sekali lagi penampilan spektakuler para finalis ini membersitkan pemikiran di benak saya dengan judul Punahnya Lagu Anak-Anak.

Praktis, semua peserta Idola Cilik melantunkan lagu-lagu hits yang sebenarnya target marketnya adalah remaja ke atas. Mereka menyanyikan lagu-lagu Seventeen, ST 12 dan Peterpan dengan sangat baik nyaris tanpa cacat cela. Tapi apa nggak kasihan kalau mereka disuruh menghayati, menjiwai, dan mengekspresikan apa yang belum pernah mereka ketahui rasanya?

Apa yang harus aku tunjukkan
untuk membuat kau menyayangiku?
Inilah aku yang memilih kau untukku…

Untuk Mencintaimu – Seventeen

Saya sempat berpikir tadi, apa faktor yang membuat lagu anak-anak itu punah. Dan pikiran saya lagi-lagi mengkambinghitamkan sinetron sebagai biang keroknya. Entah mulai kapan, sinetron hampir selalu menggunakan nama tokoh utama sebagai judul dan mencomot single yang sedang hits sebagai sound track. Tidak ada lagi karya-karya “apik” ala Chossy Pratama di Tersanjung — sinetron terakhir yang mewakili era sinetron klasik bernama Tersanjung dan Noktah Merah Perkawinan.

Lha, sinetron kan selalu ditayangkan di jam prime time di mana seluruh keluarga sedang berkumpul dan menonton televisi. Tampaknya sinetron sudah terlalu menyihir ibu-ibu untuk tidak bisa lepas darinya. Sebut saja Alisa, Muslimah, Abi, pasti mereka akrab dengan nama-nama ini.

Efeknya? Berapa banyak keluarga yang mematikan televisi di jam tersebut untuk memberikan kesempatan anaknya untuk belajar? Akhirnya si anak belajarnya tidak fokus dan ikut menonton sinetron. Tanpa disadari, lagu-lagu soundtrack sinetron tersebut juga diakrabi anak-anak.

Dengan industri musik anak-anak yang semakin lesu — karena pembajakan dan kualitas yang semakin tidak jelas, mau tidak mau segala kondisi itu membuat musik dewasa juga merangsek masuk ke pasar musi anak-anak yang kosong. Karena musik dewasa sekarang juga sederhana — mengikuti tren gaya Peterpan dan Ungu, musik itu mudah diterima di telinga anak-anak. Lain kalau karya musik dewasa masih serumit karya-karya Fariz RM, Ebiet G Ade, God Bless, Chrisye, atau Emerald di jalur jazz, mungkin agak lebih susah dicerna anak-anak.

Tapi kesimpulannya tetap saja: lagu anak-anak telah punah dari gemerlap blantika musik Indonesia.

Published
Categorized as Musik

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

17 comments

  1. Pokoknya Cakka ganteng !!! hahahahahaha …. *gak nyambung*

    Udah banyak deh yang posting beginian, tapi mau bilang apa ? gimana kalo kamu membuat terobosan dengan menciptakan lagu anak2 ?? 😕

  2. Betul.. ndut
    sepakat.. sejak munculnya idol2 an trus akademi2 an..
    aku yo wes sering ngomong koyo ngene.. tapi gak pernah di anggep, yah at least ga pernah di anggep/dipahami karo orang2 terdekat ku.. dan mereka masih terus nonton dan menyuprot.. dan kadang sampek sms.. hakahakahakahakahaka

    lagu yg dibawakan oleh anak yg malang ini adalah lagu2 orang dewasa…
    lagu remaja… lagu yg walaupun mereka bisa menyanyian dg baik akan tetapi sangatlah tidak pantas..
    dimana kak seto yg katanya pembela anak2 pada kasus ini…?
    huh omong kossong!!!, ternyata kak seto juga cuman perlu publisitas kasus2 yg penting, dan kasus2 yg kontroversial saja yg di pedulikan nya…

    kejamnya dunia dunia pertelevisian dan panggung hiburan… ndut

    dan pernahkan awakmu perhatikan ndut..?
    dengan sangat tidak tau malunya mereka di akhir acara atau setiap akhir episode
    si pembawa acara atau siapa juri kah ato entah comentator menyebutkan / menayangkan sekian juta sms untuk dukungan dll…
    berapa juta untuk si A berapa juta untuk si B…
    dimana di akhir dari pesta usai dan acara panggung2an ini, kasihan sekali nominal hadiah dan nilai kontrak kepada peserta2 idol2 an ini sangatlah kecil..
    yang sebenarnya sudah bisa di bayar mahal dengan nominal dari penghasilan berjuta2 masuknya sms premium (eh maap premium gak sih..?)
    belum lagi iklan dan lain.. (selama acara berlangsung)

    tapi tidak semuanya masuk untuk penyelengara dan honor para artis2 yg menjadi bintang tamu serta juri yg sebenarnya mereka hanyalah badut…
    komentar dan apa yg di sampaikan nya tidak bermutu..
    yg di undang jd juri adalah artis2 yg mulai tidak laku mulai surut karirnya.. tapi pengen nampil di tipi…

    mahalnya sebuah ketenaran yo ndut,,?

    yuk mengenang masa indah kecil e awake dewe ae ndut,….
    dimana masih terdengar sayup2..

    Abang..tukang bakso marilah kemari.. aku mau beli….
    Susan2.. susan.. kalo gede kamu mau jadi apa..?, dsb.

    hakakakahahakakaahahahakaka
    sorry ndut numpang ngeblog.. secara aku gak nduwe blog dewe saiki

  3. Bener OM……

    DAHULU waKtu saya masih kecil, lagu ciptaan PAPA T. BOB laris manis…….
    sekarang dimanakah PAPA T. BOB???????

    apa PAPA T. BOB sudah tidak punya ide untuk lagu anak-anak lagi????

  4. ini yang namanya pemaksaan diri yang dilakukan terhadap anak2 usia belia.

    Memang secara kualitas lagu2 yang dinyanyikan oleh para idola cilik boleh dibilang bagus…. namun disatu sisi ada ketidaksesuaian dengan pasar yang menjadi milik anak2 tersebut.

    suara mereka OK. Namun sayang gak sesuai banget dengan lagu yang dinyanyikan oleh anak2 itu….

    mungkin hal ini pula yang mengakibatkan si Ulfa menjadi ingin cepat2 nikah dengan syek puji… bisa khan ??

  5. Bikin lagu anak itu susah. Harus gampang dinyanyikan, ada pesannya, tapi tidak boleh menggurui. Siapa yang bisa bikin lagu kayak gitu?
    Di sisi lain, pencipta lagu nggak dapet bayaran banyak. Memang kalo mau kreatif, harus ada imbalannya dong. Dan kreatif bikin lagu anak itu susah. Nggak heran Ibu Sud sampai nggak bisa bikin lagu anak lagi. Eh, itu sih karena sudah meninggal ya? Hehehe..

  6. setuju sekali…keprihatinan saya pribadi semakin bertambah, karena saat ini sudah di karuniai seorang putera. mungkin temen² ada yang bisa membantu dimana saya bisa mendowload lagu anak² … terima kasih

  7. wah, sy juga setuju. emang mreka kurang pantes nyanyiin lagu orang dewasa/remaja. mreka belum bisa mengekspresikan apa yang mreka blom ketahui. Tapi, lirik yg dinyayikan menurut sy sudah dibuat sedemikian rupa hingga mreka dapat memahami dalam kapasitasnya n kehidupannya sebagai anak-anak. misalnya saja lagu Demi Cinta, pada liriknya sudah diganti jadi Demi KIta.
    kalau saja misalnya mreka disuruh nyanyi lagu abang tukang bakso atau susan-susan. wah lagu itu terlalu mudah bagi mreka. Ini kan kompetisi. Dan disinilah saya setuju kalau lagu anak-anak di indonesia udah mulai punah. Idola cilik juga bisa dijadikan sbg solusi, buktinya lagu baru yg ada di album Gapai Bintangmu dan Gapai MImpimu masih termasuk lagu anak-anak kan. inilah pengayaan lagu anak-anak di indonesia. waktu dengarin salah satu stasiun radio khusus anak, mreka (anak-anak) juga banyak bgt yg request lagu tsb.

  8. Sebenarnya aku dah buat lagu untuk anak-anak. But, bingung realisasikannya ke mana untuk memunculkan kembali lagu anak-anak di belantika musik Indonesia. Insya Allah lagu-lagu tersebut cepat di cerna sama anak-anak Indonesia deh…Gimana nih, punya chanel gak untuk menjadi produser lagu-laguku ?

  9. tolong dong…… kt hrs bs melestarikan lagu2 anak2 disetiap moment apapun kayak happy song msk anak dibawah 10 thn udah mengenal lagu2 percintaan yg seharusnya g pantas mereka yag menyanyikannya. bagaimana dgn perasaan ortu mereka dong..???? anak kecil nyanyi ya,,, lagu anak2 dong!!!

  10. lagu anak-anak memang semakin terpinggirkan. pemerintah sendiri rasanya tidak ada waktu buat memikirkan kebutuhan anak-anak. mungkin perlu ada wadah yang superior buat memenuhi kebutuhan anak-anak yang kadang kala si anak sendiri tidak tahu apa kemauannya.
    mau lagu anak-anak? kunjungin aja klubbayi.blogspot.com
    lumayan loh buat koleksi anak-anak kita

  11. sebenarnya hal itu tidak semata-mata karena pengaruh sinetron sih. tapi yang juga tidak kalah parahnya adalah karena lagu-lagu remaja sekarang yang memang cenderung seperti lagu anak-anak. kebanyakan musisi kita tidak lgi memperhatikan kualitas dari musik itu sendiri, tpi lebih ke arah materi. musik telh masuk dunia industri. dan asal lagu itu easy listening dan populer, maka musik itu dianggap bagus. hal ini bisa kita lihat dari budaya latah musisi kit yang cenderung mengambil aliran musik yang seragam, dengan bahasa yang hampir seragam pula. dan itulah musik kita

    untuk koleksi lagu-lagu anak, klik saja http://anakcerdasindo.blogspot.com

Leave a Reply to yudha_ht Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *