Jalan-Jalan ke Mercusuar Anyer

Mercusuar Anyer, hanya sejauh selemparan batu saja dari kota Cilegon, kota yang dipenuhi pabrik-pabrik kimia yang menyemut mengelilingi industri utama kota ini: Krakatau Steel. Saya kemari karena diundang kawan lama saya, Je-Es, untuk menghadiri acara walimatul ursy-nya. Aries Setiawan, (dulu) computer geek yang siapa sangka bisa menaklukkan hati seorang mojang geulis untuk menjadi isterinya. Tanpa banyak cingcong, tanpa tanda sebelumnya, he’s got the girl.

Berhubung saya ini suka keluyuran, rasanya sayang kalau sudah sampai Cilegon tak diteruskan ke Anyer. Ditemani para konco plek: Antie, Daniel, Santi, dan Farida, saya larikan mobil ke sana. Kawasan pesisir barat pulau Jawa ini dipenuhi oleh deretan cottage-cottage yang dikelola perusahaan partikelir yang anehnya sepi pengunjung. Seperti kawasan yang pernah jaya di masa yang belum lama berlalu. Saya menduga keadaan ini berlanjut terus sampai pantai Carita dan akhirnya Ujung Kulon.

Karena tidak menemukan kawasan yang agak ramai pengunjung, saya akhirnya mengikuti insting untuk berbelok karena melihat ada dua mobil diparkir — saya tak menemukan satu mobil pun ditempat sebelum ini. Siapa sangka kalau insting saya mengantarkan pada titik nol kilometer jalan Anyer Panarukan? Hehe, nice instinct buddy, gumam saya sambil terkekeh-kekeh.

So, what are you guys waiting for? Let’s take some picture, and climb up the lighthouse! Here we are…

Terbuat dari lempengan besi disambung dengan las dan sekrup, mercusuar yang dibangun tahun 1885 ini masih gagah perkasa menantang angin.

Suasana ketika kami mulai mendaki tangga mercusuar ini.

Pagar bambu untuk membatasi dek yang telah keropos. Mercusuar tua ini memang sudah banyak yang keropos. Saya bahkan mengajak untuk turun sebelum sampai rumah lampu melihat kondisinya yang kurang aman untuk melanjutkan pendakian.

Tangga menuju rumah lampu. Pintu ke ruang kaca dikunci sehingga kita hanya bisa sampai ke berandanya saja.

Inilah prasasti titik 0 km Jalan Anyer-Panarukan hasil karya Daendels. Bagian ini berlantai batu bata melingkar, mungkin dulunya ini adalah sebuah panggung untuk monumen peringatan.

Foto-foto: Nikon D40, Sigma 10-20 mm HSM, Nikkor AF-S 18-55 mm. 

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

8 comments

  1. Ke blog ini ajalah dari pada ke Mercusuar Anyer he…..
    wong di sini juga udah jelas gambar-gambarnya he….
    tapi kayaknya juga asik juga tuh ya ??

  2. Mercusuar Anyer, hanya sejauh selemparan batu saja dari kota Cilegon,

    Siapa yang bisa ngelempar batu dari Cilegon sampai mercusuar Anyer?

    Btw, terungkap bahwa sang pemilik blog ternyata sangat fobia ketinggian. Wekekekeke…..

  3. #Bambangxp:
    Asik kok, petualangan mendaki besi setengah keropos dengan udara tipis.

    #dnial:
    Halah, gaya bahasa alias majas jangan diartikan secara harfiah dong. Katanya kamu lagi belajar jadi romantis? :p

  4. Aq pernah kesana……naek sampe puncak….

    tapi langsung ndredeg…adem panas hehehe

    akhirnya cuma ndeprok aja gt di puncak sana, ga brani berdiri, takut menatap bumi….

    Hanya mengagumi langit, merasakan angin, menikmati matahari (alah….)

  5. saya mau nanya, kalo rute dari jakarta naik kereta terus angkot jurusannya gimana ya?terus boleh ga bermalam di dket mercusuarnya?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *