Tentang Kata Contreng yang Tidak Baku

Pemilihan Umum 2009 merupakan tonggak awal sistem baru dimana pemilih tidak lagi mencoblos tanda gambar tetapi dengan mencoretkan tanda seperti v atau cawang pada pilihannya. KPU menyebut cara ini sebagai mencontreng. Saya tak yakin pasti bahwa KPU mensosialisasikan cara ini dengan sebutan “contreng”, tapi yang jelas, semua media massa memberitakan cara ini sebagai pen-contreng-an.

Ah, KPU adalah lembaga negara yang formal. Sungguh sedih rasanya melihat sebuah lembaga formal tidak menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Kalau lembaga formal saja tidak memakai bahasa baku, apa iya penduduknya bisa menggunakan bahasanya sendiri dengan baik dan benar?

Kata contreng tidak saya temukan di KBBI Daring Online. Saya menemukan kata “centang” yang baku yang memiliki makna sama. Seharusnya, untuk mendidik masyarakat menggunakan bahasa baku, istilah-istilah yang digunakan dalam kelembagaan negara juga menggunakan bahasa baku pula, sesuai dengan petunjuk penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sebaiknya, istilah menandai pilihan adalah pen-centang-an, bukan pen-contreng-an.

Memang, Bahasa Indonesia berakar dari lingua franca atau bahasa pergaulan. Namanya bahasa gaul, Bahasa Indonesia sangat mudah menerima adaptasi dan adopsi istilah-istilah dari bahasa lain. Hal ini sesuai dengan karakter Indonesia yang bhinneka tunggal ika. Namun demikian, tetap saja ada pedoman Bahasa Indonesia yang baku itu seperti apa. Penggunaannya tentu bukan di kehidupan sehari-hari, tetapi di tingkat resmi seperti Pemilu dan KPU. Ironisnya, hal ini tidak terjadi, justru di pergelaran yang paling populer bagi bangsa Indonesia.

Salah satu alasan saya menulis di blog dengan gaya bahasa yang formal adalah mempertahankan dan melatih kemampuan berbahasa Indonesia saya. Sudah sulit bisa mendapatkan lingkungan dimana orang saling berbahasa secara baku. Oleh karenanya, meskipun berakibat gaya bahasa saya menjadi kaku dan formal begini, saya sekuat tenaga menghindari penggunaan kata-kata yang tidak baku, kecuali ketika ada satu titik dimana saya harus menggunakan kata tidak baku untuk melenturkan kalimat.

Apakah Anda masih bisa membuat satu paragraf lengkap dengan baik dan benar? 🙂

Published
Categorized as Opini

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

18 comments

  1. * komen terus, iki karo ndulang anakku, hehehee…

    om Galih kapan2 aku mau ajak Kintan ke wismul ketemu sampean, anak ini bahasanya indonesia banget (kayak dora deh pokoknya), nanti kalian bisa ngobrol, hehehe…

  2. Wah ternyata betul tidak baku ya? Saya sempat berfikir dari mana asal kata CONTRENG ini. Mungkin sengaja dimunculkan supaya mudah diingat. Bahasa marketing 😉

  3. #Ria:
    Wah, keknya seru tuh ada partner berbasa indonesia yang baik 😀 ;))

    #DET:
    Yaps, mungkin tujuannya memang untuk marketing karena kosa kata baru yang unik selalu ada di benak orang. Seperti halnya termehek-mehek, ya iya dong, dsb.

  4. sebuah pembicaraan di helpdesk:
    A : Itu “activate popup blocker” dicentang atau tidak?
    B : Dicentang.
    A : Coba diuncentang trus di-apply.

    Probem solved. 😛

  5. #dnial:
    Dalam pembicaraan non-formal sah-sah saja memakai bahasa apapun, yang penting dua belah pihak saling mengerti. Tapi lain halnya kalau kita bicara dalam konteks resmi lembaga negara. Bisa multitafsir kalau bahasa yang dipakai tidak baku (yang baku aja ditafsirkan macam-macam kok)

    #Fenty:
    Apakah kamu nanti mencontreng Fent? :p

  6. Wah iya mas Galih… telingaku sempat gatel dengar kata mencontreng. Ini sekarang sudah jadi iklan resmi KPU lho di tv. Setahuku dulu, yang pakai kata mencontreng itu teman2 dari Jakarta. Tapi kan Pemilu bukan hanya untuk warga Jakarta? Pemilu untuk seluruh rakyat Indonesia. Masa orang se-Indonesia disuruh berdialek Jakarta-an? 🙁

    Seingatku, saat masa2 sekolah dulu, kata2nya di lembar ujian memang men-CENTANG deh.

    O iya, sori… aku Agung. Sejawatmu di TC ITS angkatan 96. Tapi jelas kita ga pernah ketemu karena aku keluar, sampeyan baru masuk.

  7. #Agung:
    Betul sekali mas Agung, bagi saya bukan urusan dialek kedaerahan mana yang dipakai, tetapi sebuah lembaga negara yang formal harus menggunakan bahasa Indonesia yang baku dan resmi. Kalau sudah begini mendingan kata contreng itu dibakukan sekalian he he he he…

    Salam kenal Mas 😀

  8. bukannya contreng itu memang bahasa iklannya pemilu ya..cmiiw
    bbrp blog bahasa Indonesia yang apik (kadang terasa aneh bacanya 😀 krn saya yg ketinggalan info bahasa Indonesia yg baku) biasanya ditulis kalangan pers, mis. blogombal, direktif, erhanana wordpress dot com 🙂

  9. ya saya setuju sekali dengan mas galih…

    kata contreng itu tidak baku…

    kenapa tidak digunakan kata “ceklis” saja???

    atau “centang” kan juga bisa…

    atau apakah karena kata “contreng” lebih familiar di telinga masyarakat indonesia ya???

  10. Setuju, dimasukkan dalam KBBI saja “contreng” itu. Banyak masyarakat Indonesia yang tidak akrab dengan si contreng itu, bahkan banyak yang belum pernah mendengarnya. Ini salah satu buktinya:

    “Bagi orang Dayak, banyak yang bertanya, ’narai itu contreng’ (apa itu contreng?). Saya juga tidak yakin kata ini mudah dipahami,” kata Teras Narang, Gubernur Kalimantan Tengah, di Palangkaraya, Kamis. [mengutip dari Kompas online, 5 Maret 2009]

  11. Lama-lama jika semua pakai kata ‘contreng’ pasti akan jadi istilah baku juga. hehehe.. seperti kata ‘keknya’ yang mirip ‘dengan kayaknya’ saya kaget tiba2 banyak orak ngomong ‘keknya’. loh udah jadi kata baku juga mungkin tuh.

  12. memang KPU belum siap sama sekali dengan pemilu kita kali ini atau memang KPU sengaja condong ke salah satu parpl peserta pemilu kita kali ni.
    tapi yang jelas ALLOH lebih tau mana yang benar dan mana yang salah.

  13. Sepertinya ada kepentingan lain yang lebih diutamakan di atas kepentingan berbahasa baku, yaitu sosialisasi petunjuk teknis pemilihan umum. Latar belakang budaya mayoritas-lah yang dominan, mungkin karena lebih banyak orang Indonesia yang lebih paham contreng daripada centang. Untuk saya pribadi, sebenarnya malah baru kali ini mendengar kata contreng untuk mengistilahkan memberi tanda (mirip) v itu. Istilah yang lebih banyak saya dengar adalah cawang, atau centang, atau cek. Barangkali dengan perkembangan masyarakat kelak akan ada banyak sekali istilah baru yang akan muncul lagi, sehingga mungkin saja bahasa Indonesia mengalami mutasi. Contohnya saja untuk satu tanda (mirip) v ini saja sudah ada empat istilah. Ada lagi yang mau membuat istilah baru?

  14. ternyata kata contreng tidak baku yaaa????baru tau aku….stelah baca artikel diatas…mkasih you infooonyaaa….salam kenal….

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *