Tedak Siti Keponakan Saya

FLICKR
Lokasi: Rumah Tulungagung, Jawa Timur
Gaizka, Ibunya Gaizka, Kakeknya Gaizka

Sebenarnya ini sudah lama beberapa bulan yang lalu, tapi saya baru mood buat menceritakannya sekarang.

Sesuai tradisi kami sebagai orang Jawa, keponakan saya, Gaizka Florean Deyananta, tepat di umurnya genap tujuh bulan, ia harus melalui ritual Tedak Siti sebagai tanda ia memasuki kehidupan masa depan yang cerah. Meskipun kami adalah keluarga Jawa yang modern, dimana tidak lagi tinggal di rumah Joglo, memakai lampu petromax, mandi di pancuran sebelah sungai… tetapi tradisi yang sarat makna ini tetap kami lestarikan.

Tradisi ini sarat makna akan pengharapan dan doa kehidupan yang cerah di masa depan untuk si kecil. Pertama-tama, Gaizka dimandikan. Setelah dipakaikan baju baru dan sepatu baru, ia dimasukkan ke dalam kurungan ayam Jago bersama saudara sepupunya. Yang beruntung menemaninya adalah si Zein Bahar Azhari dan si Zulham Yahya Aribuni, dua jagoan paling bungsu paman saya. Kurungan ayam Jago yang kokoh bermakna dalam menjalani kehidupannya, ia mesti dijaga oleh hal-hal yang kokoh juga.

Kemudian, kaki Gaizka diinjakkan pada jadah, sebuah jenis jajanan tradisional dari ketan putih. Maknanya adalah kelak agar ia bisa melewati rintangan apapun yang ada. Kemudian setelah itu Gaizka dinaikkan pada tangga yang terbuat dari Tebu jenis Agung. Jenis tebu ini adalah tebu yang besar. Maknanya sama, agar kelak ia bisa meniti kehidupannya dengan penuh percaya diri. Dan sebuah jenis makanan yang selalu hadir dalam setiap selamatan Jawa adalah, jenang sengkala, yang bermakna melindungi badan si kecil dari marabahaya.

Cepat besar Gaizka, doa Om menyertaimu! ^^ *gak sabar denger Gaizka bisa panggil saya Om Galih* 

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

5 comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *