Antara Belajar Piano dan Ikal di Maryamah Karpov

Bagi kawan-kawan yang telah membaca baik isi maupun resensi buku Maryamah Karpov-nya Andrea, tentu telah mahfum bahwa Ikal tertarik dengan alat musik biola yang sering diperdengarkan Nurmi di warung kopi Usah Kau Kenang Lagi. Bagi dia, hal yang paling spesial dari biola adalah dua gerak mekanis yang berbeda. Tangan kiri memencet senar, sementara tangan kanan melakukan gerakan menggesek. Hal yang membuat biola jauh lebih hebat dari gitar adalah karena biola tidak memiliki fret penanda nada, sehingga diperlukan ketajaman perasaan yang kuat untuk memainkan biola.

Saya ternyata memiliki ketertarikan yang mirip dengan Ikal, namun bukan terhadap biola, yaitu piano.

Kalau ditarik kembali jalinan waktu ke sekitar tahun 1995, perkenalan pertama saya dengan tuts piano (keyboard) adalah dengan Casio Song Bank. Dengan hanya memiliki panjang nada dua setengah oktaf, tuts yang tidak standar (disesuaikan dengan jari anak-anak), saya dikenalkan pada tangga nada dan akord-akord mayor C natural (C-F-G). Pengetahuan instan karena kebutuhan waktu itu “hanya” untuk membekali saya mewakili kabupaten Tulungagung dalam lomba Siswa Teladan tingkat Provinsi Jawa Timur.

Saya tidak mungkin melanjutkan belajar piano ke jenjang yang lebih serius, karena harga piano serius itu mahal dan tidak mungkin terbeli. Sebagai gantinya, Paman saya mewariskan gitar akustik tuanya bermerk Osmond. Gitar itu saya pakai bereksplorasi, bergenjrang genjreng, memainkan akord-akord utama C-F-G, A-D-E, E-A-B, dan variasi akord minornya. Saya mendapatkan gitar pertama dari uang hasil keringat sendiri waktu kuliah, Yamaha C370. Satu-satunya hiburan bermusik kalau lagi stres sekarang ini ya gitar.

Impian dan obsesi yang tertunda di masa SD itu terletup kembali ketika saya melihat kawan baik saya, Stenly C Takarendehang, menarikan jemarinya di atas tuts keyboard Roland milik kantor waktu ia mewakili Vico Indonesia dalam BP Migas Gita Vaganza 2008.

Saya paling kagum dengan permainan piano murni tanpa iringan style yang bisa mengiringi orang baca puisi patah hati atau jatuh cinta sampai rela meneteskan air mata. Jari kiri memainkan nada bas, sementara jari kanan memainkan nada melodi, sesekali keduanya bergabung membentuk akord. Selengkapnya menjadi untaian nada-nada yang mengagumkan.

Adalah suatu kenyataan bahwa belajar piano secara otodidak tidak bisa terlepas dari belajar teori-teori dasar musik dan tangga nada (not balok/score sheet) membuat piano lebih sulit dikuasai daripada gitar. Dengan gitar, dengan tahu posisi kunci-kunci akord, tanpa mengetahui teori nada, kita sudah bisa memainkan sebuah lagu. Genjrang-genjreng menurut feeling sudah bisa. Tapi ternyata tidak untuk piano.

Jadi karena itulah saya memutuskan untuk kembali menseriusi piano sebagai rangkaian perjalanan riset bermusik yang menantang dan menarik. Saya meminta Stenly untuk menjadi guru les piano saya. Sekarang, kami sedang seru-serunya membahas teknik penjarian (scaling) dengan piano virtual (kertas karton yang digambari tuts-tuts piano) dan meriset piano pertama yang cocok untuk saya. Sensei, teach me!

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

6 thoughts

  1. ampun mas, aku nyerah belajar piano. Bukan karena gak bisa tp karena lebih mudah belajar piano klo mulai dr kecil, sedangnya klo udah gede baru belajar ( kayak saya ) suka gak sabar, karena maunya cepet bisa, bisa cepet. Hehe… baru belajar scalling aja, jari udah keriting, hihihi…. belom lagi baca not balok, mata sampe kotak2 deh. Tapi aku dukung deeeeh….

    ditunggu show tunggalnya 🙂

  2. wuah ..lam knal ya mas..aku jd interest niyh ma pemilik blog ini karena sama2 tertarik ma piano…(kalo aku lg seneng keyboard) dan….tetralogy laskar pelangi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *