Masjid Agung Surakarta

FLICKR
Lokasi: Alun-Alun Utara Solo, Jawa Tengah
Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM

Lepas dari Pasar Klewer, tepat di sebelah pusat aktivitas ekonomi di Alun-Alun Surakarta itu, berdiri megah Masjid Agung Surakarta. Memasuki masjid ini, kenangan akan masa kejayaan salah satu pecahan Kerajaan Mataram ini segera terasa. Arsitektur Jawa-Belanda yang didominasi oleh kayu ini menghiasi sayap depan masjid ini.

Masjid ini selain menyimpan nilai sejarah yang tinggi juga sangat fungsional — saya menyebutnya begitu karena beberapa masjid sekarang ini lebih berperan sebagai gedung berarsitektur indah daripada digunakan sebagai tempat sholat dan tempat berkumpul. Setiap kali masuk waktu sholat, para penggiat ekonomi di Pasar Klewer segera bergegas menunaikan ibadah sholat di masjid ini melalui pintu butulan samping kecil, langsung berbatasan dengan jalan utama Pasar Klewer yang sibuk.

Berikut tangkapan kamera saya ketika berkunjung di masjid ini dan sholat ashar di dalamnya.

Beranda depan didominasi oleh kayu jati kualitas nomor satu dan terkesan sudah berumur sangat tua. Dinding ruang utama yang ada di dalam juga terbuat dari kayu, ditempeli oleh berbagai prasasti dalam tulisan Jawa kuno — hanacaraka tapi saya tak mampu membaca, karena itu saya simpulkan itu kuno.

Kubah Masjid. Kubah yang unik, karena tidak bulat seperti pada umumnya kubah masjid. Kubah segitiga model begini asli arsitektur Jawa, berbentuk piramida hasil adaptasi dari rumah joglo (rumah adat Jawa). Pelopornya mungkin dari Masjid Demak buah peninggalan kerajaan Islam pertama di Jawa: Demak Bintara (baca: demak bintoro).

Sayap depan Masjid. Keseluruhannya berbahan kayu, kecuali lantai yang pualam. Saya tahu, langitnya washed out dan over exposed, tapi persetan dengan kaidah fotografi, ini foto saya.

Berdoa. Saya memotretnya dari sayap depan dan lensa saya lewatkan melalui pintu. Saya sebenarnya ingin memotret kondisi di ruang dalam tepat di bawah kubahnya, tapi ajegile aura masjid ini benar-benar membuat sungkan dan ewuh pakewuh. Rasanya seperti orang tua yang berpesan, “Jangan foto-foto sembarangan di tempat yang suci seperti ini nak…” dan nyatanya kemudian saya hanya berani memotret ndoro tuan ini di sayap depan berandanya saja.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

7 thoughts

  1. ahhh…jadi kepengen beli sigma 10-20..

    gambar yang kedua keren mas…suka sama permainan cahayanya..

    oya..salam kenal..

    & salam D40 lover 😀

  2. #wira:
    halo mas, salam kenal juga, 10-20 worthed kok buat dibeli… ratjoooon… ;;)

    #fifiani:
    Dek fifi, masalahnya D40 udah nggak ada yang jual, dah discontinue katanya 😀 ;))

  3. O tidak……….benarkah???????????
    kok di chip foto video masih ada list harganya sih….hueh
    memberi hrapan saja…setidaknya saya masih bisa nabung, walo betaon2….hiks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *