Menelusuri Jalan Raya Pos dalam Ekspedisi Anjer – Panaroekan

Judul Buku: Ekspedisi Anjer – Panaroekan: Laporan Jurnalistik Kompas – 200 Tahun Anjer Panaroekan, Jalan (Untuk) Perubahan.
Penerbit: Kompas.
Tebal: 445 halaman.

Buku setebal 445 halaman ini sungguh buku sejarah yang dikemas dengan begitu menarik. Buku tentang kisah pembangunan infrastruktur penting di pulau Jawa: Jalan Raya Pos atau lebih dikenal dengan Jalan Raya Daendels yang membentang mulai Anyer di ujung barat hingga Panarukan di ujung timur. Jalan ini dibangun oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels sebagai upaya percepatan arus komunikasi di pulau Jawa, sebagai jalur kereta-kereta yang membawa kiriman pos. Oleh karena itulah jalan ini bernama Jalan Raya Pos (Grote Postweg).

Apa yang paling mengesankan saya adalah bahwa buku ini tidak hanya menceritakan kondisi ketika jalan itu dibangun, namun juga menyertakan potret kehidupannya di masa sekarang, seperti nasib stasiun kereta api Anjer Kidul yang nyaris roboh, kisah topi Tangerang yang pernah merajai pasar fashion di Paris, dan kondisi jalan di Rajamandala yang kian lapuk dimakan usia karena sudah jarang digunakan lagi (ada jalan yang lebih lebar di sebelahnya).

Buku ini mungkin bisa juga menjadi inspirasi buku-buku pelajaran Sejarah di sekolah. Saya bukan penggemar sejarah sejak sekolah karena buku-buku pelajaran yang ada sangat membosankan. Siswa dijejali hapalan berupa angka-angka tahun. Tapi dengan narasi yang resmi namun mengalir enak dibaca, foto-foto masa lalu dan masa sekarang — ini lebih dari sekadar menghapalkan angka-angka!

Herman Willem Daendels

Daendels adalah seorang Gubernur Jenderal Hindia Timur (Indonesia) yang saat itu diperintahkan Kaisar Napoleon untuk mempertahankan Jawa dari serbuan Inggris. Hanya tiga tahun ia memerintah Jawa. Terlepas dari kekejamannya sebagai penjajah, saya rasa Daendels adalah sosok yang luar biasa sebagai pemimpin. Pada tahun 1808, ia berhasil melaksanakan sebuah mission impossible hanya dalam tiga tahun. Ia harus menghadapi banyak hal: ancaman serangan Inggris, kondisi kas negara yang tidak mungkin membangun jalan sepanjang itu, dan pemberontakan warga pribumi.

Sebagai seorang pemimpin, ia sendiri turun tangan ke lapangan untuk mensurvey kondisi. Melintasi Batavia hingga Surabaya dalam tiga minggu. Bayangkan… tiga minggu perjalanan. Ini seorang pucuk pimpinan tertinggi di kawasan Jawa lho. Langsung turun dari singgasana yang nyaman, menembus hutan, menyeberangi sungai, dan mendaki gunung yang berbahaya. Dengan kondisi kas negara yang tipis, ia tentu memutar otak untuk memanfaatkan semua resource yang terbatas. Dengan posisi sebagai penguasa, dari kacamata seorang pimpinan, untuk melaksanakan programnya, wajar kalau Daendels menggunakan kerja rodi sebagai sarana pembangunan itu.

Sultan Agung dan Jalan Raya Pos

Ada uraian menarik yang dibahas di buku ini mengenai kisan penyerbuan Sultan Agung Hanyakrakusuma, Raja Mataram, ke Batavia yang tidak pernah diungkap di buku sejarah di sekolah. Sebuah teori mengenai mengapa kerajaan Banten tidak ikut membantu Sultan Agung menyerbu Batavia. Ternyata, pada awalnya Sultan Agung tidak menganggap Belanda di Batavia sebagai musuh, tetapi sebagai mitra. Karena tawarannya ditolak, ia lalu berniat menyerang Batavia dulu, kemudian setelah itu menguasai Banten.

Hubungannya dengan Jalan Raya Pos, Daendels banyak memanfaatkan jalan yang dipakai Sultan Agung untuk dilebarkan dan menjadi satu rangkaian jalan raya Pos. Ada catatan mengenai kawasan Matraman di Jakarta yang menyebutkan bahwa kawasan tersebut dahulu dipakai sebagai tempat bermarkas laskar Mataram (dari akar kata Mataraman menjadi Matraman).

Penutup

Buku ini benar-benar sarat pengetahuan. Isinya sangat padat tapi tetap enak dan tidak membosankan untuk dibaca sambil makan. Saya berharap akan ada buku sejarah seperti ini yang membahas tentang tempat-tempat bersejarah di Indonesia. Sebuah penelitian mendalam dan liputan yang menarik membuat sebuah sejarah bisa dikemas tanpa harus memaksa untuk menghapalkan nama-nama tempat dan tanggal-tanggal.

Kalau setiap detail tempat dibukukan menjadi 500-an halaman, anak-anak sekolah tentu memiliki banyak sekali literatur mengenai sejarah dengan detail. Tidak seperti sekarang, sejarah mulai kedatangan VOC di Indonesia hingga zaman revolusi 1965 (total kurun waktu sekitar 4 abad) dikemas hanya dalam buku tipis setebal 50-an halaman. Isinya membosankan lagi. Kalau mau ujian harus menghapalkan kata demi kata di buku itu, hehehehe…

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 thoughts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *