Budaya Membaca, Kenapa Menjadi Sebuah Gaya Hidup Mewah?

Tentang Sebuah Keprihatinan Bahwa Hobi Membaca itu Mahal

Sore itu, malam minggu di awal tahun 2009, Jakarta sungguh cerah. Usai mencuci si Jupie hitam di bilangan Cililitan, saya melarikannya ke Gramedia Matraman, tempat favorit saya belanja belanji buku. Setiap kali ke toko buku ini, saya merasa menjadi bagian dari gaya hidup orang-orang kaya raya. Padahal, Gramedia tak lebih dari sebuah toko buku. Tetapi lihat tempatnya yang begitu berkilau, mewah, pencahayaan sempurna, pelataran parkir yang luas penuh sesak dengan mobil, dan pengunjung dengan air muka yang mengesankan: kecerdasan, wawasan luas, serta — jika meminjam istilah gaul — kebebasan finansial.

Saya tak heran. Untuk bisa membawa sebuah buku pulang, nyaris tidak ada buku bermutu yang berada di bawah harga Rp. 30.000. Buku yang agak bagus dengan sampul yang aduhai mengkilap dengan desain yang luar biasa harganya sekitar Rp. 55.000. Agak bagus, karena kebanyakan buku-buku itu misleading: berjudul menarik bersampul menggoda, padahal jika ditelusuri isinya sekilas saja, tidak ada sesuatu yang bagus. Nah, buku-buku yang benar-benar bagus biasanya bersampul tebal (hardcover) dan ini harganya amit-amit, di atas Rp. 70.000. Praktis, Anda harus minimal mengeluarkan lembaran uang berwarna biru dari dompet Anda. Jadi wajar kalau kebanyakan yang berkunjung ke sini adalah orang-orang dengan kebebasan finansial.

Padahal, buku adalah sumber ilmu pengetahuan dan wawasan tanpa batas. Lalu jika begini, kapan kita bisa maju? Impian budaya membaca untuk bangsa ini rasanya jauh sekali. Padahal, ayat Al-Qur’an yang pertama kali turun berbunyi: Iqro. Bacalah! Bagaimana bisa membaca kalau harga bacaan saja selangit?

Satu-satunya media yang paling dekat dengan masyarakat luas adalah TV terestrial. Tapi astaga, tayangan yang ada hanyalah arus pembodohan massal. Itu bukan sumber wawasan, hanya industri saja. Benar-benar mengerikan menyadari apa yang tersaji di televisi dan tahu tidak ada siapapun yang bisa menghentikannya: sinetron perusak moral, dan berita yang isinya tentang mutilasi melulu. Televisi dengan isi yang bagus sekarang malah TVRI, tapi penyajiannya tidak pernah berkembang sehingga terkesan norak dan ketinggalan jaman. Oh, come on… 🙁

Bagaimana dengan perpustakaan? Aih, dengan minat baca yang rendah, perpustakaan menjadi sebuah artifak kuno penuh dengan rak-rak berdebu yang suram temaram. Setiap sore di hari Jumat Kliwon dan Selasa Pahing, anak-anak hantu genderuwo menampakkan diri dan dengan riang gembira meloncati rak-rak buku itu, membuat penjaga perpustakaan kabur tunggang langgang. Satu-satunya perpustakaan yang saya tahu selalu penuh dengan atmosfer dan aura yang meletup-letup haus akan ilmu pengetahuan adalah perpustakaan kampus universitas. Tapi hei… sekarang mau masuk universitas juga mahal. Glek…

Kalau begini, kapan kita bisa maju?

Disclaimer: Ke Gramedia, bukan berarti saya juga ikut-ikutan bebas secara finansial, tapi memang karena saya suka membaca, jadi saya sekuat tenaga selalu menyisihkan anggaran untuk membeli buku.

Published
Categorized as Opini

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

46 comments

  1. IMO, membaca tidak harus dari buku2 mahal … dari surat kabar yang sudah berhari-hari yang dijadikan bungkusan nasi goreng juga bisa 🙂 … ato klo memang suka mengoleksi buku, silahkan buka perpustakaan gratis buat anak2 sekolah.
    dan mengenai siaran tv …
    cabe deeeeeh, sebulan pulang ke Indo, terus liat siaran tv … setiap hari isinya sinetron dan infotainment ditambah lagi acara pencarian bakat yang berlangsung hingga 5 jam, piyuhhhhhh 🙁

  2. #tukang foto keliling:
    Surat kabar? Yang jadi bungkus nasi goreng itu kebanyakan koran kelas teri macam Lampu Merah, Pos Kota, atau Warta Kota yang isinya berita mutilasi atau pergerakan harga saham yang tak berguna. Jarang ada koran sekelas Kompas jadi bungkus nasi.

    #aRuL:
    Internet hanya bagi mereka yang bisa menggunakannya, Daeng. Bagi orang awam, internet adalah gudang yang penuh berisi foto-foto bugil dan film-film xxx.

  3. iya neh, buku buku sekarang MAHAL …. 🙁
    dan Perpustakaan gak lengkap dengan tempat yang tidak menarik … jadi mupeng liat perpustakaan luar negeri kalo kaya’ gini 🙁

  4. ouw jadi kamu suka ke TB Gramedia ya sat?

    TB = Taman Bacaan 😉

    kalo dikatakan banyak buku yang misleading emang betul sat. terutama buku2 komputer. judulnya bikin ngiler, begitu dibeli dan dibuka, ndak lebih dari “HELP” yang diterjemahkan!

  5. Budaya membaca bisa dimulai dari sangat dini. Dari kecil saya disuguhi semacam tabloid dan majalah anak2 semacam Bobo.

    Untuk beli buku pun ga harus di Gramedia atau Kinokuniya *yg lebih eksklusif dr Gramedia*. Hanya saja, Gramedia menyajikan buku dengan mudah dan nyaman kita pilih dan lengkap. 🙂

    1. benar budaya baca kita yahhh…gmn gitu. ini aku buktikan di rumah ada perpus cukup lumyan koleksinya tapi…hemmm yg mau baca semingu cuma 6 sampe 10 orang ya orang itu itu saja.

  6. #det:
    Nggak hanya buku komputer kok det. Kemarin sempat satu per satu ngecek buku agama tentang sholat khusyuk, kebanyakan misleading cuma membahas syarat sah, rukun, dan dalil-dalil tentang itu. Cuma bukunya Abu Sangkan aja yang benar-benar membahas sholat khusyuk dari tinjauan psikis.

  7. That’s why I give my respect to Leksika, yang mempersilahkan pengunjung untuk mbaca tanpa membeli. Bahkan ngasih Internet gratis. Sayang nun jauh di Lenteng Agung sana, dan yang di Rawamangun Square, masih sepi, dan kurang lengkap 🙁 .

    Gramedia juga bisa, sayang nggak semua buku bisa dibaca. Buku-buku yang mahal malah plastikan semua. Dan buku-buku yang menurutku berguna (macam buku tentang RIA, Arsitektur SOA, panduan sertifikasi) malah g ada dan harus didapat (mbajak) dari Internet.

    Perpustakaan? Apa itu? Kurang greget dan nggak gaul banget.

    *memikirkan konsep perpus gaul*

  8. * Ngabur ke gramed numpang baca doank…. :mrgreen: *

    Lumayan… Bayar parkir doank…
    * Eh, pajak parkirnya di setor ke dipenda gak yah? 👿 *

  9. iya lih.. sekarang kok buku2 jadi tambah mahal ya…
    itu salah satu pertimbangan yang membuat saya jadi ikut mikir2..
    gimana cara mengakalinya..
    internet.. mungkin salah satu cara, cuman bukan solusi. karena kebanyakan mbaca buku sambil tidur2an.. kasihan lappienya
    mm… diprint.. woww… itu baru cukup niat..
    tapi apa daya..
    ada cara solusi yg lain..(seperti tulisan saya di bawah ini)

    Lih, Daniel…… aku pinjem bukunya ya.. hehehehe..

  10. sudah hampir 3 tahun aku ngga blanja2 buku lagi, selain harganya yang selangit, ebook menjadi alternatif yang cocok, namun sayangnya ebook ngga bisa dibaca setiap saat, dan sering kalah saingan sama bacaan lainnya seperti blog, dan tulisan yang sebenernya tidak terlalu penting.

  11. #huda, ajiputra:
    Sebenarnya kalo soal PDF dan ebook aku udah punya solusi praktisnya: PSP (Play Station Portable) dihack jadikan IR Shell, mantap banget buat baca ebook ;))

    #kholis:
    bukannya jatuh-jatuhnya akan lebih mahal? (unsure)

  12. mengenai buku bekas, sekali2 jalan ke Pasar Festival, di parkiran bawah dekat Hartz Chicken ada toko buku bekas, koleksinya lumayan bagus.

  13. bikin buku aja mas gal,, kayak yg dulu itu, selain penjelasannya mantab, bahsa yg sampean gunakan cukup ringan.

    *yg di jkt aja ngrasa mahal, apa lagi di kampung indonesa yang umr-nya lebih rendah, beli buku adalah momok orang tua siswa karena harganya selangit.

  14. Udah berkali2 kecewa dengan buku2 dalam negeri yang judul2nya heboh seperti “Menguasai C++ dan C#” tp buku tebelnya kurang dari 100 halaman. Gila, ga masuk akal. Akhirnya buku2 seperti itu aku jual di pasar (kiloan) dapet cuma 10rb.

    Akhirnya sekarang buku bagus selalu cari di Amazon (yang review-nya jelas)…

  15. #cipluk:
    I wish i could have so much time. Ilmu yang dikuasai sekarang relatif lebih banyak daripada dulu waktu menulis Secangkir Kopi Java. Sudut pandangnya pun lebih luas. Pengen banget nge share sebenarnya, tapi ternyata sekarang waktu luang adalah sebuah kemewahan buatku 🙁

    #Aris Kumara:
    Yes, betul master. Standar buku luar itu 300 halaman ke atas, masak mau diringkas jadi 80-an halaman? Ya pasti isinya sangat dangkal. 68% buku komputer terbitan indonesia misleading.

  16. aku sebenarnya pingin banget bisa ke gramedia setiap saat, tapi jaman sekarang sudah ada internet, apalagi kalo mau nyari gratisan juga gampang, jadinya beralihlah hobi bacaku dengan hobi ngeblog.. wekekke…

  17. #tukang foto keliling:
    Soalnya yang nulis juga masih bingung ndrak, lhawong dia belajar buat nulis buku, bukan benar-benar sudah ahli, jadi paling-paling dia cuma bisa bikin aplikasi Hello World saja, selebihnya dari manual book ;))

  18. Btw, lih udah coba ke Gramedia Grand Indonesia belum? Disitu juga ga kalah lengkap ama di Matraman. Lumayan buat cuci mata juga (kalo cuci mata buku belum cukup)..he3x…

  19. Jadi inget masa muda waktu awal2 kuliah ( *HALAH ) …budget mepet… pengetahuan mengenai komputer NOL besar… borong buku komputer second alias bekas di http://www.depan-stasiun-pasar-turi.com huahaha… ga pernah kan ris?? (* lirik2 aris kumara ;;) ) ckckckk….

    Abis kenalan ma mbah Gugel ga pernah beli buku lagie.. 😀 ( Budget dialihkan untuk biaya ‘investasi’ masa depan ) hohoho

    #Galih : Masih melakukan kebiasaan lama lih??
    Makan sambil Baca Novel Pembunuhan hiiiiiiihiiiii…..

  20. #Aris Kumara:
    Belum ris, terlalu kinclong tempatnya, nggak pede kalo masuk situ sendirian ;))

    #excalibur:
    Aku belum bisa membaca ebook senikmat buku asli. Kebiasaan lama, tentu saja, gak harus novel pembunuhan, pokoknya ada sesuatu yang bisa dibaca. Kalo nggak ada itu, makan kayak sayur kurang garam… eh… kurang buku! 😀

  21. @ Excalibur : Kalo buku bekas biasanya aku belinya di toko buku majalah bekas di deket tugu pahlawan, malah disitu buku2 dan majalah2 baru juga murah2 ..

    @ Galih : ga masalah lih kinclong apa ga, ga harus beli juga (meski buat kepikiran dan tiap kali ke toko buku selalu ngambil buku itu lagi,..diliat2 lagi, ditaruh…berulang2 terus sampe punya duwit) He3x..Tapi bukan kutu buku sejati kalo belum ngunjungin toko buku gramedia Grand Indonesia, apalagi waktu itu diresmikan ama pak SBY 🙂

  22. @ Nana : Di toko buku bekas deket pasar festival komiknya juga lumayan lengkap :).

    @ Hedi : Kalo buku luar murah, cari buku buatan India. Ciri2nya adalah kertasnya tipis kusam (malah bagusan kertas koran), ati2 kalo baca kurang cahaya bisa bikin sakit mata. Tp kualitas isinya dan pengarangnya ga perlu diragukan. Harusnya Indonesia bisa bikin kaya gt ya.

  23. @ Nana : Di toko buku bekas deket pasar festival komiknya juga lumayan lengkap :).

    @ Hedi : Kalo buku luar murah, cari buku buatan India. Tp jarang banget ada di Gramedia, kalo ada nylempit2. Ciri2nya adalah kertasnya tipis kusam (malah bagusan kertas koran), ati2 kalo baca kurang cahaya bisa bikin sakit mata. Tp kualitas isinya dan pengarangnya ga perlu diragukan. Harusnya Indonesia bisa bikin kaya gt ya.

  24. #Aris:
    Seorang Ariz masih punya istilah “.. sampai punya duwit ..” 😮
    Boleh juga ris promosimu, sebagai seorang kutu buku sejati agak tersinggung aku, yo wes weekend ini tak kunjungi si gramedia grand indonesia ;))

  25. Waktu saya ke Surabaya, Gramedia EXPO di sana keren, banyak buku import. Beda dengan Gramedia di Palembang.

    IMHo, mungkin sisi lain pengen cari kecengan, sekedar nongkrong gitu dibanding perpustakaan yang suasananya gak boleh bising.

  26. berharap yg punya ilmu makin banyak berbagi via blog 😀
    bikin buku makin mudah, jualannya jg ngga mesti di tempat spt di atas kan..

  27. Salam,

    Memang mau pintar sekarang mahalnya minta ampun. Kasarannya, g ada duit g bisa pinter.
    Untuk yang masalah perpustakaan itu, alasan orang-orang tidak mendatangi:
    1. Budaya membaca rendah
    2. Buku-buku dan majalah ga up-to date. Buku-buku lawas tahun 1980-an dan 90-an yang banyak. Itu pun buku-buku umum. Maksudnya ga ada buku yang spesifik , misal : buku FISIKA SMA, dsb.

    Trus berkarya deh mas, ditunggu artikel dan hasil jepretannya 🙂

  28. dulu ada perpustakaannya british council tapi tempo hari saya dengar kabar bc sudah tutup. koleksi bc yang menggiurkan itu dihibahkan ke plaza indonesia (atau plaza senayan??).

    :(( padahal belum sempat ke bc selama dua tahun ini.

  29. Saya juga sedih dengan budaya baca di negeri ini. Orang ramai-ramai beli HP dan pulsanya, akan tetapi tidak mampu membeli buku. Agaknya wawasan bangsa kita benar-benar sudah padam. Orang tak lagi menganggap membaca buku itu penting. Itulah tugas para pemimpin bangsa ini. Sayangnya kita dipimpin oleh orang-orang bodoh, yang lebih menyukai kekuasaan dan uang daripada menanamkan investasi masa depan untuk bangsanya ini. Lihat para caleg itu mana yang dalam kampanyenya mempromosikan akan meningkatkan budaya baca masyarakat. Agaknya mereka maju dalam politik bukan untuk memajukan negeri dan masyarakatnya, tapi demi kepentingan politik! Ironis.

  30. membaca akan membuka cakrawala kita dan mampu mengasah analisa berfikir. sayangnya di negeri ini, budaya membaca masih sangat rendah. membaca saja susah apalagi budaya menulis,rasanya masih jauh di negeri ini. makanya tidak heran kita masih sangat jauh tertinggal dengan negara lain. kalau mau maju ya harus mau baca dan baca sebanyak mungkin informasi. dalam agama islam, Allah berfirman dalam Al-Quran.Iqro…yang artinya bacalah..

  31. makanya bung, kunjungi http://www.avaxhome.ru. dijamin ritual ke gramedia langsung berakhir pada detik itu juga. terus duit yang biasa masuk ke kantung juragan gramedia bisa dialihkan untuk langganan rapidshare. terus sedottttt… tuh ebook banyak-banyak.

  32. budaya baca di Indonesia mahal…setuju, memang begitu kenyataannya, buku sekolah terbitan Pemerintah (BSE=buku sekolah elektronik) isinya hanya standar isi..agar anak-anak bisa kaya pengetahuan harus beli buku yang tiga kali lebih mahal, jadi sama saja mubasir ..kalau begini …tau’ ah gelap!!

  33. bg yg pny printer nganggur d rmh bs bwt ngprint sndri e-book ato apa itu yg mjd kegemaran utk qta bc.
    bs d prkcl dg krts hvs n tgl d jilid.
    hehe

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *