Karena Blog Adalah Tren Sesaat

Saya pikir, tidak seharusnya dulu para blogger begitu mencela Roy Suryo dengan kutipannya yang terkenal, “Blog adalah tren Sesaat”. Saya masih ingat RS berkata kurang lebih, “Seperti email dan instant messenger, blog akan menjadi tren sesaat yang akan digantikan oleh media komunikasi lain.” Saya rasa karena kecemburuan para blogger terhadap RS karena sedemikian populer dan dipercaya di mata media, blogger bertubi-tubi menyerang dan mencela RS sehingga RS pun balik begitu membenci blogger.

Hanya setahun setelah perhelatan akbar Pesta Blogger 2007, saya berpendapat era blog telah berakhir. Pertama kali tentu adalah matinya Priyadi.net. Siapa sangka blog yang sering disebut-sebut sebagai bapak blog itu bisa mati? Berikutnya adalah matinya agregator terpopuler kedua setelah Planet Terasi: Merdeka.or.id. Siapa sangka agregator yang tengah membuka open submission-nya yang kesekian kali itu juga ikutan mati?

Memang arus pembuatan blog baru semakin banyak. Saat ini nyaris setiap pengguna internet memiliki blog. Fitur baru WordPress yang berbahasa Indonesia, launching dua media blogging lokal yang hampir bersamaan, Dagdigdug dan Blogdetik, menunjukkan antusiasme yang luar biasa terhadap blog. Tetapi nyatanya, jumlah feed yang terupdate secara periodik di Google Reader saya semakin sedikit. Feed yang saya subscribe hanya bertahan selama sebulan dua bulan saja rajin diupdate oleh pemiliknya.

Secara komunitas, blog memang semakin berkembang. Dimana-mana kini ada komunitas blogger. Beberapa diantaranya sangat aktif melakukan kegiatan. Tetapi di sisi konten anggotanya, inilah, gejala-gejala matinya blog — atau saya terlalu berlebihan — gejala lewatnya era blogging telah terlihat. Bahkan untuk memposting kenarsisan mereka sendiri (katakanlah belanja baju baru, nonton film, atau habis dibelikan mobil baru oleh bokap), itu pun sudah malas.

Sekarang eranya microblogging. Berburu karma. Mengapa media yang seharusnya tidak langsung head to head dengan blogging ini ikut mematikan blog? Karena menulis blog itu berat. Harus ada ide dan lalu proses kompilasi ide menjadi beberapa paragraf tulisan. Itu perlu waktu dan perhatian yang tidak sedikit. Apalagi jika harus menulisnya secara periodik dan terus menerus. Saya sendiri pernah mengalami itu. Oleh karena kehabisan ide, saya belokkan topik mayor ke dunia fotografi. Enak, tinggal upload foto, cuap-cuap sedikit, jadi satu postingan. He he he…

Bandingkan dengan microblogging di Twitter atau Plurk. Hanya satu kalimat dua kalimat. “Hai, aku sedang di WC nih!” Tidak sulit. Tidak perlu ide dan waktu. Apalagi plurk ada reward berupa karma yang jika semakin naiknya, ada hadiah-hadiah tertentu seperti emoticon yang menarik. Ada kawan saya yang mengeluh karena sulit untuk memulai blogging, sekarang sangat aktif di Plurk. Alasannya persis seperti yang saya tulis di awal paragraf ini.

Jadi, masih perlukah Pesta Blogger 2008? Awalnya saya tidak ingin hadir seperti tahun lalu. Siapalah saya. Biar ajang itu menjadi pesta para selebritis blog yang telah membentuk komunitas eksklusifnya sendiri itu. Tapi melihat gejala kematian dan lewatnya euforia blog, saya jadi ingin hadir. Tiba-tiba termotivasi oleh tulisan bapak ini. Siapa tahu, ini adalah pesta blogger yang terakhir? He he he, sampai jumpa di auditorium BPPT! 🙂

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

21 thoughts

  1. ngeblog juga perlu semangat. manusia tak mungkin bisa memiliki semangat yang konstan, selalu saja ada kembang kempisnya. tapi yang penting adalah bagaimana kita memulai untuk menjaga agar tetap dalam jalur yang tepat.. tentu tak akan ada yang abadi, blog pun akan musnah. tapi ia akan selalu ada selama ide bisa digali dan manusia mampu berpikir serta ada sarana dan wadah untuh menumpahkan ide…. bukan masalah panjang atau sedikitnya paragraf. toh tetep saja definisi blog adalah log atau catatan yang ada di internet… jadi ak rasa blog bukan tren sesaat, tetapi dalam blog pasti ada titik jenuhnya, yang terjadi akibat banyak faktor. dan tak bisa digeneralisir untuk semua blogger

    sampai jumpa di jakarta, om galih! vivat hidup its! *mau ketemu mantan rektor*

  2. #Anang, masDan:
    Ya, sama seperti email yang tidak mati. Tapi tren adalah sesuatu yang bersifat sesaat saja. Akan ada saatnya dimana blog sudah tidak menarik lagi bagi semua orang. Dan itu saya kira sudah sangat dekat waktunya. Belum tentu akan ada lagi Pesta Blogger 2009 karena faktor tren ini.

    #Anang:
    Hidup ITS! Hidup ITS! Hidup ITS!

  3. saya rasa sih *menurut pikiran saya yang awam* bahwa kebanyakan blog yg ditinggalkan penulisnya justru blog2 yg ditulis oleh org2 yg menganggap blog itu tren. Tp saya jg tdk bisa bilang bahwa blog itu ‘abadi’ spt telpon, krn siapa tau suatu saat saya sendiri justru akan meninggalkan blog saya, meski saya sdr tidak setuju bila blog disebut tren sesaat. Hanya saja, semua hal didunia ini punya siklus sendiri2. Seberapa cepat sebuah siklus akan berakhir…

    Emang mas Galih plurkers juga ? ^__^

  4. roger that! 😉

    blog memang tren SESA(a)T. tapi saya sangat menikmati berada di dalam keSESA(a)T ini..

    dari blog dapat duit

    dari blog dapat istri

    dari blog dapat teman baru

    dari blog dapat order ngemsi, kerjaan bikin rumah, kerjaan bikin web, kerjaan instalasi jaringan, kerjaan konsultan tv lokal, kerjaan konsultan radio di luar jawa.

    i love blogging!

    yang berangkat ke PESTA blogger, selamat berPESTA! 😉

  5. kalo menurut saya mau tren sesaat mau bukan itu sich tergantung si bloggernya sendiri, yang penting kita sebagai blogger harustetap optimis akan kemajuan dunia blogging.

  6. haha.. barusan dengar istilah plurk,
    kirain nama makanan 😀

    Saya ingin mengutip perkataan Arsene Wenger setelah Arsenal di tahan imbang Spurs 4-4 tadi malam. The Professor mengatakan “Ambil positifnya aja”.

    Awalnya saya gak begitu tertarik dengan blog, karena memang gak ada waktu buat ngeblog. Tapi setelah ada kesempatan untuk ngeblog… rasanya asik juga. Walopun tren sesaat, toh gak ada salahnyakan? Apakah tren sesaat itu identik dengan kejelekan? tentu tidak 😀

  7. Kalo saya sih sebenernya masih banyak ide buat postingan di blog saya sendiri, tapi sekarang masih sibuk2nya kerjain TA *HIDUP UPN…*

    malah Kakak saya “www.ayadinata.com” mulai ngeblog sekitar beberapa bulan lalu, karena ketularan saya 😀

  8. iya setuju sama ang, tidak boleh menjeneralisisr suatu kedaaan!!

    saya aja ndak bosen tuh sama ngeblog. kalau plurk, waaah.. saya sudah bosen dari kemarin-kemarin. Plurk lah yang tren sesaat.. sumpe dee… wekekeke…

  9. Mas GS,

    Sama seperti Mas Doni Reza, saya menjadikan blog sebagai ruang menulis, tumpahan ide, uneg2, imajinasi, isi hati, dan terutama promosi diri sebagai specialist Marketing/ PR:)

    Yang sesungguhnya jd pertanyaan penting, akan kah dunia maya yang kita “pacari” saat ini akan menjadikan kita semakin sosialis atau individualis?

    Semoga yang baik2 saja yang kita ambil..Brgds/Bunda GH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *