SIM A-ku Hidup Lageee

Salah satu tujuanku “meliburkan” diri lebih lama di kampung adalah untuk memperpanjang Surat Izin Mengemudi (SIM) yang habis masa berlakunya Maret lalu. Sebenarnya waktu pulang di bulan Mei, aku sudah antri di Polres Tulungagung untuk memperpanjang, tetapi sayangnya waktu itu kantor Polres sedang kena pemadaman listrik bergilir, jadi proses pembuatan SIM harus terhenti dan aku dengan kecewanya harus menunda memiliki SIM. Kenapa aku tidak memperpanjang di Metro Jakarta Raya? Karena aku bukanlah penduduk Jakarta. Aku hanyalah kaum urban yang jika tidak memegang badge cap karyawan sebuah perusahaan, aku pasti kena operasi Yustisi.

Jadi alkisah seminggu yang lalu, pagi-pagi aku berangkat menuju kantor Polres Tulungagung yang di sebelah timur perempatan BTA pakai motor Supra merah tahun 2000. Sengaja tidak pakai mobil karena aku tahu ini akan makan waktu yang sangat lama. Lagian, tidak ada tempat yang layak untuk parkir mobil. Jadi beres, pakai baju kemeja baru lebaran, siap antri.

Layar W200i menunjukkan angka setengah sembilan pagi.

Halaman kantor Polres alamak… sudah penuh sesak orang. Nah, tujuanku pertama kali adalah mencari informasi bagaimana cara memperpanjang SIM A. Oke, diagram gede yang dipasang mencolok di beranda kantor bilang pertama kali aku harus menyiapkan dua lembar fotokopi SIM lama dan KTP lokal. Gampang. Beres mah ini, secara ada banyak tempat fotokopi.

Langkah kedua adalah mencari Surat Keterangan Kesehatan. Wha…, lha ini, nggak tau kalau pakai acara beginian. Naah… uniknya, di depan Polres ada klinik kecil yang penuh sesak. Selidik punya selidik, orang-orang ini pada cari surat keterangan kesehatan di sini. Wah, jangan-jangan pihak klinik punya agreement tertentu dengan Polres, secara aku nggak lihat ada alternatif klinik lain di sekitar situ. Hehe…

Akhirnya aku ngikut aja gelombang orang-orang. Numpuk KTP buat nomor antrean. Lima belas menit kemudian aku dipanggil untuk diperiksa. Seharusnya, aku harus diukur berapa tinggiku, berapa berat badanku, lalu diambil sampel darah untuk diketahui golongan darahnya. Tapi yang terjadi malah dialog cepat bin kilat dari petugas klinik,

“Berat badannya berapa?” tanya si petugas tanpa memandangku.
“Ngg…. 85 kg pak!” ya udah aku jawab agak ngasal aja. Ini adalah berat badan rata-rataku dari siklus kurus ke paling gemuk yang di kisaran 82 – 87 kg.

“Tinggi?”
“166 cm!”

“Golongan darah?”
“Oooo…” harusnya “nol” tapi biarlah, orang sudah salah kaprah yang parah.

“Mau cari SIM apa?”
“A!”

Lalu si petugas mencorat-coret sedikit kertas yang lebih mirip catatan bon utang warteg daripada surat keterangan. “Biaya Periksa” dipatok lima belas ribu rupiah. Tak mengapa. Yang penting cepat dan tak perlu menderita karena jari ditusuk jarum. Hehehe…

Layar W200i menunjukkan angka 09:01 pagi.

Langkah berikutnya adalah meminta formulir perpanjangan. Di sana SIM lama dan KTP-ku diperiksa sekilas saja. Aku bahkan nggak yakin Pak Polisi tahu kalau sebenarnya KTP-ku tidak ada tanda tangannya. Terlanjur dilaminating sebelum ditandatangani. Pokoknya cepat kilat! Aku ikut-ikutan bergegas dalam mengisi formulir itu di bangku-bangku yang telah disediakan.

Selesai mengisi maju ke loket III. Loket pembayaran. Di sana Pak Polisi juga bergerak cepat. Coret sana coret sini, sobek sana sobek sini, lalu bergumam tak jelas. Karena ini loket pembayaran, asumsiku ya menyetorkan uang. Biaya di sini enam puluh ribu rupiah. Selembar uang kertas merah gambar Pak Karno ditukar dua lembar uang kertas warna hijau yang kumal. Sayang bener, padahal kan baru ambil di ATM…

Layar W200i menunjukkan angka 09:14 pagi.

Next. Maju ke loket IV. Sempat bingung di kantor yang luas ini tidak ada pintu atau jendela yang berbunyi loket IV. Selidik punya selidik, ternyata tempatnya ada di balik pintu yang ditempeli kertas-kertas. Di sana ada loket IV yang di bawahnya dengan penuh percaya diri berbunyi, “STANDAR PELAYANAN LOKET INI ADALAH MAKSIMAL 15 MENIT”. Wah boleh juga nih, ngapain aja sih loket ini?

Aku antri untuk diambil sidik jari jempol kiri dan kanan, lalu foto di depan lensa kecil mirip punya Canon Ixus. Aku bahkan tak sempat merapikan rambut atau merapikan make up (ceileh…) Ya sutra lah… toh aslinya juga jelek begini apa yang bisa dirapikan, hehehe…

SIM lama kita diambil pihak kepolisian. Sepuluh menit kemudian, bapak-bapak polisi setengah baya yang wajahnya agak seram memanggil dan menyodorkan buku tulis tebal nan lebar yang lazim dipakai ibu-ibu buat arisan. Tanpa banyak bicara telunjuknya menunjuk suatu titik. Aku tahu maksudnya, aku disuruh tanda tangan. Nggak pakai lama, sebuah kartu kecil kaku diserahkan padaku. Ada fotoku yang tersenyum di sana. Aseeek. SIM-ku udah jadi!

Layar W200i menunjukkan angka 09:38 pagi.

Gile… cepet bener. Bravo bapak-bapak polisi untuk layanan super cepat dan kilatnya. Ini baru pelayanan masyarakat. Tanpa calo, tanpa banyak cing cong, tanpa birokrasi yang berbelit-belit, dan yang paling penting: tanpa pungli. Terima kasih Polri!

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

16 comments

  1. hekekeke…

    di ponorogo, beberapa tahun yang lalu, aku bikin sim a. waktu itu petugasnya tanya, mau pakai test apa tidak. aku pilih tidak. males lah pake ngisi macem2 gitu. kirain itu fasilitas standard. ternyata sehabis foto, diminta duit lagi hampir 200rb kwakakaka…

    [ternyata testku diwakili mr.polis]

  2. sik lih, menurutku itu pungli ada di alur saat kamu di kantor apa itu, kesehatan, lha cuman ngobrol dikit km disuruh bayar. hehe. tp memang sama2 enak ya lih, yg jadi ‘dokter2an’ ga repot2 periksa FAKTA pelamar SIM. yg mau periksa ga perlu buang2 waktu… eh eh… simbiosis mutualisme.. gak penting juga ya, berat badan berubah2. gol darah ada di ktp. hahaha.. eh penting gak sih?

    iya lih pulis lg mengubah citra, dari yg dulu ribet mjd praktis… di gresik jg gt.

  3. iyah.. saya juga ngurus SIM C waktu itu cepat banget, yang penting ikut prosedurnya.. yah paling yang antri2 aja yg bikin lama…
    salut sama polisi dah..

  4. wow, golongan darahnya sama dengan akyu… wekekeke…

    tukeran dong.. *opo seh ndop?*

    btw, w200inya sama dengan punyaknya mas akyu…

    *ndoop..!!! meneng!!!! cangkeme diisolasi wae nek kakehan nyocrot!!**

    *nyuwun sewu yo mas galih, si ndop lagi sumringah gara2 baru posting tentang dia masuk tipi*

  5. yeee… good good… keren…
    tek tek dan cepat 😉

    btw, numpang tanya, kalo SIM nya expired, memperpanjangnya gmn ya?
    denda? atau bikin baru lagi? tes lagi?

    SIM tiwi kebetulan begitu Agustus kemaren dan mungkin baru bisa ngurus di surabaya beberapa bulan mendatang

  6. #tiwi:

    btw, numpang tanya, kalo SIM nya expired, memperpanjangnya gmn ya?
    denda? atau bikin baru lagi? tes lagi?

    Lha ini kamu lagi baca postingan apa wik? makanya jangan pakai speed reading kalau baca 😛 SIM yang expired bisa diperpanjang tanpa denda dan tes sampai setahun kemudian. Lebih dari itu harus apply SIM baru dan tes lagi.

Leave a Reply to Anang Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *