Review: Bismillah, Ini Tentang Cinta

Judul Buku: Bismillah, Ini Tentang Cinta
Penulis: Ali Imron El Shirazy
Penerbit: Mutiara Media
Jenis: Novel Teenlite Islami

Semua ini berawal dari cinta, dan disebabkan oleh cinta. Maka aku pun juga akah menyelesaikannya dengan cinta…

Novel ini mengambil setting tempat di Semarang, mengambil potret kehidupan seorang anak SMA bernama Haydar Ali Said sebagai tokoh utama. Ia seorang remaja dari keluarga kelas menengah, agak urakan, drummer band yang paling populer di sekolah, anak basket, dan aktivis OSIS, serta memiliki kedekatan dengan agama yang dipeluknya: Islam. Kalau dicermati, sebenarnya inilah sebenarnya segala kesempurnaan profil seorang idola SMA.

Jalinan konflik yang disampaikan tidak jauh-jauh melenceng dari kebanyakan cerita cinta chicklite/teenlite. Adalah gadis bernama Lexa yang menjadi sahabat dekat Haydar. Diam-diam, ia jatuh cinta pada Haydar. Namun ternyata, Haydar jatuh cinta pada seorang gadis bernama Salma. Ia mulai tertarik tatkala tak sengaja mendengarkan lantunan ayat Al-Qur’an yang keluar dari suara merdunya. Dari sinilah konflik terbentuk dan mewarnai jalannya cerita.

Meskipun dasar ceritanya tidak baru, namun cara tokoh-tokoh cerita dalam menyikapi badai cinta yang melanda mereka benar-benar baru. Penulis mencoba memperkenalkan konsep baru dalam menghadapi badai cinta tanpa harus terjebak dalam pacaran. Cinta adalah pengorbanan tanpa kenal tanpa pamrih untuk selalu ada disamping orang yang terkasih ketika ia membutuhkan. Walaupun di sini kesannya adalah merahasiakan perasaannya kepada sang kekasih, tanpa mempedulikan apakah sang kekasih memiliki perasaan yang sama, tetapi coba simaklah pernyataan Haydar yang sangat menarik untuk direnungkan,

Kekuatan cinta amatlah besar. Ia bisa membangkitkan semangat hidup seseorang. Akan tetapi ia juga bisa secepat kilat menghancurkan sebuah ikatan persahabatan yang telah terbentuk dengan sangat kuat. Cinta akan datang kepadamu dengan sejuta wajah. Tidak hanya wajah yang berseri-seri, tetapi juga wajah yang redup, seredup bulan tua yang tertutup mendung. Aku akan lebih bijak menyikapi cinta … Adalah benar bagi seorang muslim untuk tidak menyikapi cinta yang belum saatnya …

Aku jadi kasihan dengan cinta. Ia semakin lama semakin hitam dan menanggung malu atas setiap hal buruk yang mengatasnamakan dirinya. Itulah mengapa bagiku cinta seharusnya adalah sebuah pernikahan …

Ketika saya memulai membaca novel ini, saya merasa ada kemiripan dengan novel-novel Habiburrahman El Shirazy, penulis Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih. Penyajian konflik, penokohan, cara penggambaran suasana dan tempat sangat mirip — bahkan sama — dengan gaya Kang Abik. Di pengantarnya, penulis memang mengakui kalau ada kemiripan dengan novel AAC pada bagian plotting. Tapi bagi saya, segala-galanya mirip. Saya tidak menemukan suatu hal yang agak unik yang membuat saya bisa berkata, “Oh, ini novelnya Ali Imron, bukan novelnya Kang Abik.” Mungkin, penulis perlu membuat identitas uniknya sendiri supaya tidak berkembang dalam bayang-bayang nama besar Habiburrahman El Shirazy.

Dalam prolognya, Dwi Anggara Asianti, seorang pemerhati sastra dari UNS, mengkritik bahwa tidak seharusnya Haydar dan Firman yang memiliki kedekatan dengan Allah bersikap tidak jujur di hadapan Salma. Haydar harus menyamar sebagai tukang becak untuk melindungi Salma, sedangkan Firman berbohong ketika Valentine untuk mendapatkan simpati Salma. Tetapi bagi saya, hal ini justru menjadi kekuatan novel ini. Ini realistis, mengingat mereka yang masih remaja berumur belasan tahun. Sehebat apapun pemahaman mereka tentang Agama, saya kira gejolak remaja mereka masih sulit dikendalikan. No body’s perfect. Malah saya kira, hal ini justru menjadi keunggulan tokoh Haydar jika dibandingkan dengan Fahri di Ayat-Ayat Cinta yang terlalu sempurna.

Terakhir sebagai penutup review ini, saya berandai-andai… Andai saja sinetron remaja kita lebih banyak diwarnai oleh cerita yang mendidik semacam ini. Remaja-remaja diperkenalkan kepada konsep yang baik tentang bagaimana sebuah pergaulan masa SMA. Bagaimana sebuah jalinan kasih sayang dan gejolak cinta tidak perlu disikapi dengan pacaran. Atau setidaknya, mereka memiliki alternatif gaya pergaulan selain pacaran. Pasti keadaaan remaja Indonesia menjadi jauh lebih baik daripada sekarang…

Published
Categorized as Review

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

28 comments

  1. bagus, pengen kita seeprti itu, tapi kebanyakan produser sineton sudah terlanjur suka dengan tema2 cinta pergaulan sekarang, tapi jarang juga yang bisa buat sinetron, nyari karakternya kayaknya susah, kalo ala jaman sekarang kan gampang kayaknya..he..he..

  2. Skrinsut cover ga ada Lih?
    Eh, apa hubungannya nih pengarang sama Kang Abik? 🙂

    *tumben Galih ada novel kayak gini sebelom saya :D*

  3. wah rekomendasi bagus nih diangkat jadi sinetron atau film…
    btw kayaknya sampean sudah pantas melangkah ke jenjang cinta seharusnya (seperti haydar bilang)

  4. … Andai saja sinetron remaja kita lebih banyak diwarnai oleh cerita yang mendidik semacam ini. Remaja-remaja diperkenalkan kepada konsep yang baik tentang bagaimana sebuah pergaulan masa SMA. Bagaimana sebuah jalinan kasih sayang dan gejolak cinta tidak perlu disikapi dengan pacaran. …

    Weleh… Jadi pemerhati remaja ya kang?

    Emang kalo pengalaman pribadi gimana?
    Apakah ini hanya sebagai pengalih perhatian bahwa Anda selama ini hanya bisa sebagai ‘pemuja rahasia’?
    😉

    * Kalo malu mengungkapkan via japri juga boleh 😀

  5. Kalau disinetronkan sih mungkin aja, tapi berhubung sinetron Indonesia … jadi pasti ada sesuatu yang dilebih-lebihkan deh, Lih …
    Eh setuju tuh kata Arul, ayooo cari pendamping hidup … 😛 … Cayooo …

  6. dan kalo gak simulai dari sekarang, maka generasi yang akan datang lebih bejat lagi dari yang sekarang ini..

    ibda’ binafsik 😉

  7. klo ngemengin cinta2an emang selalu seru… bahkan temen gw ada yg abis baca2 beberapa buku2 tentang cinta (menurut agama) eh..eh… beberapa bulan nikah langsung… wooow…. dahsyat juga ya…. he..he…

  8. knp gejolak cinta harus disikapi dengan pacaran ? dan knp pcaran itu menjadi sangat penting dalam membina hubungan ? bagaimana jika tidak usah pacaran aja ? hehe

    lagi nyasar neh, ga tau ni dmn, lam kenal dari gita anak tulungagung juga.

  9. Ali Imron El-Shirazy itu sahabat saya. Beliau adiknya Kang Abik. Yang aku suka, dia kokoh dengan perjuangannya untuk menerbitkan novelna tanpa ada bantuan dari Kang Abik, buktinya malah saya yang di mintai pendapat dan saran, bukan kakakna ang udah mendunia. Aku suka! Keren Juga novelna…Tunggu novel berikutnya segera terbit…

  10. alhamdulillah,,
    setelah baca novel itu, ada sedikit perubahan dalam menyikapi makna cinta…
    ya meskipun cinta itu sulit untuk ditebak..
    tapi yang pasti, cinta yang kekal adalah cinta pada sang khalik.
    insya allah kita salah satu dari yang di cintai Allah. amien…

  11. ass… bner2 alur crta cinta yg ini membuat sy kagum bnget… sy bner2 kagum dgn sosok pria yg bernama haydar yg bener dylah mha smpurna yg d cptkan than d dunia ini.. pengabdianx.pengorbnan.agama.dan ke ikhlasanx btl2 sy anggukan… klwpun sy ada menemukan sosok pria yg sma dgn haydar dy lah sosok hamba2 allah yg smpurna bg sy.. dan stlah sy membaca ini sosok wanita sperti salma lah yg memang pntas untk pria seperti haydar.

  12. kk saya pnya novel’a.pertama liat tuh novel rasa’a pent muntah karna saking tebel’a,ehh pas baca sedikit ternyata novel ini bener”bikin ketagihan,subhanallah bener”sempurna ne novel,saya ja smpe nangis ngebaca’a…
    andai semua cowo kaya haydar.diflmin donk kang…:)

  13. Novel ini bikin jiwa saya bergetar banget, apalgi penokohan nya. subhanallah.. keren deh pokokny. dibaca berulang – ulang ngk kan bosen..

  14. assalamualaikum…….. na setuju bgt kalau kisah ini diangkat dalam film di Indonesia…. kita para kaula muda membutuhkan pencerahan dari film2 yang berbobot seperti ini 🙂
    wassalam……

  15. novel ini bagus,lebih bagus lg klau dbuat film,krn kbnyakan org jrg yg suka mmbca,dgn bgtu smua org bs tw isi dn maknaY

  16. penuh dengan inspirasi dan saya tidak bosan untuk membacanya berkali-kali apalagi dengan ending yang sangat tidak terduga.

Leave a Reply to Resty Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *