Ketika Blog Tidak Lagi Menjadi Tempat Curhat yang Nyaman

Dear Diary,

Aku belajar mulai menulis sejak aku membangun situs pribadiku sendiri, enam tahun yang lalu. Waktu itu, blog belumlah kukenal dan belum sepopuler sekarang. Salah satu menu dalam situs yang dibangun berbasis ASP itu adalah sebuah Diary. Mulai saat itu, aku belajar menyusun kalimat paragraf demi paragraf ketika sempat saja.

Kebetulan, waktu itu aku sedang jatuh cinta. Sebenarnya itu bukanlah cinta pertama. Tapi itulah kali pertama aku belajar untuk berkorban. Rasanya aku mau melakukan apa saja untuk orang yang sedang aku puja. Maka dari itulah, aku menempatkannya sebagai cinta pertamaku.

Singkat cerita, suatu minggu pagi di 17 Agustus 2003 adalah mungkin saat yang tidak akan pernah kulupakan. Kata-kata yang lembut dan datar, “Aku udah punya cowok…” telah menjelma menjadi sebuah palu godam yang meremukkan hati. Bukit harapan yang kususun oleh senyuman dan mimpi-mimpi telah runtuh. Hati yang patah mungkin bisa dioperasi dan disambung oleh dokter ahli. Tetapi bagaimana dengan hati yang telah hancur?

Kemana lagi aku harus berlari? Ternyata, setelah aku selesai menumpahkan semua kesedihan dalam kalimat demi kalimat, aku merasa lega. Dengan jujur aku menulis tentang kecemburuan dan sakit hati. Gentleman yang jarang gagal seperti aku harus belajar mengenai kegagalan di titik yang paling dibenci semua orang: gagal karena kasih tak sampai.

Hari ke hari, pembacaku semakin banyak. Lima orang per hari buat aku sudah sangat banyak. Masing-masing memberi komentar yang unik. Tapi semua komentar itu membuatku tiba-tiba merasa malu. Malu karena merasa ditelanjangi oleh tulisan sendiri. Malu karena merasa tidak punya sesuatu lagi yang bisa dirahasiakan. Alangkah enaknya menjadi seorang introvert yang pendiam dan tertutup itu…

Pernah aku berpikir untuk menghapus semua entri tentang tulisan melankolisku. Laki-laki tidak seharusnya secengeng itu di blog. Curhat bukanlah tipikal laki-laki jantan. Hanya seorang gadis kecil bersuara lembut membuat seorang Galih menjadi begitu cengeng dan tak sanggup bangkit untuk ganti mematahkan hati para wanita.

Namun demikian, aku pikir, biarlah tulisan itu ada sebagai saksi perjalananku dalam mencari jati diri. Ketika aku membuka arsip-arsipku yang begitu jujur dan polos, aku bisa tersenyum. Itu semua sudah hampir menjadi masa lalu. Itu adalah awal jalanan yang aku lalui sekarang. Belajar menyikapi cinta yang datang belum waktunya. Bersyukur karena tidak terjebak dalam zina kecil bernama pacaran. Tuhan telah menyelamatkanku dengan sikap childish-ku yang tak pernah sembuh.

Begitulah, makin lama entri posting melankolisku semakin jarang. Kalaupun ada, sudah tidak mungkin sejujur dulu lagi. Bumbu dramatisasinya sudah mewarnai tulisan-tulisanku. Ya, bagaimana mungkin menulis terlalu jujur kalau orang yang sedang aku tulis juga membaca blog-ku? 🙂

Hanya sekali, aku melarikan diri dari blog ini karena tak tahan untuk menumpahkan perasaan dengan jujur. Yeah, aku memang telah kehilangan tempat di blog ini untuk menulis melankolis seperti dulu. Tapi aku tidak mungkin lagi menulis hal-hal yang itu saja sekadar untuk memuaskan hasrat pribadi di sini. Aku menghormati sepuluh pembacaku yang repot-repot untuk berkunjung ke blog ini setiap hari.

Orang berubah. Zaman juga berubah. Namun setidaknya blog ini tidak berubah sebagai tempat berbagi.

* Sebuah sharing, didedikasikan untuk seseorang yang menutup blog melankolisnya karena telah diketahui teman-temannya. Perasaan itu, persis pernah kurasakan. 🙂

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

27 comments

  1. “Hanya seorang gadis kecil bersuara lembut membuat seorang Galih menjadi begitu cengeng dan tak sanggup bangkit untuk ganti mematahkan hati para wanita.”

    waduh2…

    saya juga lg nutup blog yg lama nih mas…gara2 itu juga…malu…
    walw sudah punya yg baru lagi sih…hitnya sih gak ada…soalnya di protect dr search engine…^^…hoho, begitulah…

    tapi gk papa, jd lebih nyaman rasanya…suasana baru…

  2. tidak ada salahnya kalo kita curhat, terkadang itu memang perlu.
    kan sekalian bisa bagi2 pengalaman, biar kita tidak mengulang kesalahan yang sama

  3. ga nyangka cowok bisa segitu mellow-nya 😉 susah siy emang misahin curhat yang sangat personal ama curhat biasa di blog. self-control aja deh

  4. Kalo curhat merupakan jalan keluar masalah kamu, terusin aja menulis di blog. Tapi kalo curhat jangan langsung di-publish, Lih. Biarin di dalam draft dulu sampai beberapa waktu sampai kira2 perasaan menggebu2 ato masalah yang membuat kamu curhat hilang. Baru kemudian dibaca lagi dengan pikiran fresh, diedit lagi sehingga porsi hal yang ter-ekspose bisa dikontrol.
    Selamat Idul Fitri Mohon Maaf Lahir Batin, Lih. Semoga sukses terus ya.

  5. setuju dgn arul, untuk curhatan.. saya pakai blog lain di multiply, isinya org2 terdekat saya dan bisa disetting visibilitynya pada user2 tertentu.. so far masih nyaman curhat di blog itu.. 🙂
    Btw, mohon maaf lahir batin ya mas..

  6. Laki-laki tidak seharusnya secengeng itu di blog. Curhat bukanlah tipikal laki-laki jantan.

    Curhat bukan tipikal laki2 jantan? =)) Hal ini yang bikin orang bunuh diri sementara psikiater sepi.
    Hmm…..
    Kalau dia mau mbaca, masalahnya apa?

    Setelah dilihat, blog ini kalo tambah mature dan berkurang “sensitif touch”-nya sayang juga. Kan ada banyak hal yang membuat Galih menjadi Galih.

    Membahasakan ulang tips ngeblog Paman Tyo :
    Kalau gua asik2 aja, masalah lo apa?

    *kayaknya masih aneh ngomong gitu*

    Direvisi dalam bahasa SBY :
    Lha terus, c*k? Opo peduliku karo masalahmu?
    Hehehehe…….

  7. Ga masalah. Bukankah blog itu jurnal pribadi? Kalo ndak mau di publish ya tinggal di set private atau di draft.

    Percayalah semua respon baik itu positif ataupun negatif itu semua karena mereka peduli sama kita. Ya gak Lih?
    *saya tetap setia mampir ke blogmu, entah itu posting melankolis maupun posting foto hasil gambarmu* 😀

  8. Waduh, kenapa malu mas? gak harus cewk kok yang boleh curhat. Bukankah cowk tu juga ada sisi lembutnya juga..!Keep styling aja deh mas. Q suka kok blog ini. Kata2ne dewasa banget!

  9. huwaaaaa… aku jg merasakan hal yg sama.
    tadinya blog cm jd tempat “menyendiri”.
    eh, setelah blog ku jd rame, aku bener2 “ngumpetin” curhat2ku di sebuah blog yg ga ketahui oleh 1 org pun, digembok pula. hehehe…
    skrg blog lebih sering jd media sharing, seh…
    sharing apa aja, bukan hanya sekedar curhat. 😉

  10. Sebelumnya “Minal Aidin Wal Fa Idzin” ya mas Galih.
    Saya ini termasuk pemuja rahasia anda lho. tulisan-2nya bagus banget(juga foto-2nya). Apalagi kalau sudah bikin tulisan yang temanya soal cinta, kadang jadi inspirasi saya buat kirim email ke temen. Tetapi menurut saya, kalau nantinya mas Galih sudah ketemu sama yang cocog dan menikah, apa ga bikin kasian istri mas…?gimana njelasin ke dia ya

  11. #Prabowo:
    Minal aidin wal fa izin juga mas prabowo. terima kasih perhatiannya. hmm… kalau ketemu jodoh? mmm… gimana ya? belum kepikiran nih… hehehehe *terkekeh…*

  12. Menarik… Tapi curhat bagi aku kadang ada batasnya… Makanya kadang kalo menulis liat2 dulu apa yang udah aq tulis… Kali aja ada yang bisa bikin orang mikir kita cowo yang gimanaaaa getu… 😀

  13. ehm2

    gw rasa sih fine2 aja,siapapun gw rasa butuh yang namanya tempat buat share

    ga peduli mau wujudnya cewek atau cowok

    cuma medianya bisa bermacem2

    salah satunya yah lewat blog ..

    Blog gw sekarang juga jadi sarana gw buat share

    so visit to my blog @www.Celotehansaia.Blogspot.Com

  14. idih, siapa bilang cowo ga bisa curhat di blog? siapa bilang cowo itu melankolis kalo curhat di blog.
    heloo.. cowo kan juga manusia biasa..

    *nyampah banget ya gue? maap…

  15. cuma bisa tersenyum pas baca entri ini , seperti bercermin. blog betul – betul bukan tempat yang aman lagi. hanya saja hal ini tidak cukup untuk menyurutkan hasrat ku untuk terus menulis. setidaknya ada pembelajaran yang bisa dipetik dari sini 🙂

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *