Seharusnya Ramadhan Adalah Awal, Bukan Akhir

FLICKR
Lokasi: Sebuah Sudut di Masjid Istiqlal, Jakarta
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55 mm

Sebuah kontemplasi (perenungan) menjelang berakhirnya Ramadhan

Sebentar lagi, Ramadhan 1429 H berlalu. Betapa cepatnya. Sebentar lagi, orang-orang mudik dan merayakan lebaran di kampung halaman. Sebentar lagi, tidak akan ada suasana meriah di jalanan kompleks menjelang berbuka puasa. Masjid-masjid akan kembali sepi. Tidak akan ada lagi nada-nada merdu suara orang tilawah Al-Qur’an.

Saya pikir, kita itu oportunis sekali ya? Kita berlomba-lomba beribadah ketika ada diskon pahala saja. Selebihnya tidak lagi. Apa arti tangisanmu ketika mendengar imam membacakan ayat-ayat dari Surat Ar-Rahman? Dimana sedu sedanmu saat berdoa di antara sujud di waktu sholat witir Qiyamul Lail?

Akhir Ramadhan seharusnya merupakan sebuah awal dari perjuangan yang maha berat. Ingat, telah sebulan penuh setan dibelenggu. Sebentar lagi mereka akan kembali beraksi. Apakah selama sebulan mereka tinggal diam? Saya kira, secara logis mereka juga menyiapkan diri. Dan jika dari awal sudut pikiran kita telah berada pada bahwa Ramadhan adalah akhir, tentunya tugas mereka akan ringan.

Nanti. Saat lebaran tiba.

Saatnya pamer status, kedudukan, harta, dan kekayaan melalui simbol-simbol materi kepada teman dan tetangga. Apakah mobil barumu telah kamu check up agar tampil prima saat lebaran nanti? Apakah ponselmu telah berganti menjadi ponsel model terbaru? Bagaimana dengan baju baru? Apakah merknya telah sesuai dengan status sosialmu? Apakah kartu kreditmu telah diupgrade ke platinum?

Shalat Tahajud. Shalat Malam. Tilawah Al-Qur’an.

Apakah kita akan terus melakukannya? Ataukah kembali ndugem di kafe-kafe dan tempat billiard? Apakah kita telah berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an bulan ini? Sudah? Selamat! Lalu? Tidak adakah action plan berikutnya? Bagaimana dengan buku tebal Tafsir Ibnu Katsir atau kitab Shahih Bukhari dan Muslim?

Menahan Nafsu.

Selama ini, kita selalu menjaga pandangan. Selalu menghindar ketika disuguhi pemandangan perempuan-perempuan seksi. Bahkan, kalimat Astaghfirullah selalu terucap ketika mata tak sengaja memandang hal yang bukan halal bagi kita. Akankah ini akan berlanjut? Ataukah Astaghfirullah akan berubah menjadi Inna a’thoina kal kaustar? 😀

Seharusnya, Ramadhan adalah sebuah pelatihan bagi diri kita untuk menghadapi kehidupan panjang sebelas bulan berikutnya. Bukankah Rasulullah pernah berkata bahwa ada perang yang lebih dahsyat daripada Perang Badar? Yaitu perang melawan hawa nafsu?

Semoga, berakhirnya Ramadhan tidak menurunkan nilai-nilai yang telah kita bentuk di bulan Ramadhan ini. Jikalau ini adalah Ramadhan terakhir, biarlah ini menjadi Ramadhan terbaik yang pernah kita jalani dan mari manfaatkan sisa waktu yang ada ini untuk mengharapkan ridha dan ampunan-Nya. Kalaulah nanti tahun depan kita masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan Ramadhan 1430 H, mari kita mempersiapkan diri dari sekarang, sehingga kelak ketika saatnya nanti, kita telah siap untuk menyambutnya sebagai Ramadhan terbaik yang pernah kita jalani.

Amin ya Rabbal Alamin…

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

13 comments

  1. Bener. Semoga warna-warni ramadhan selalu kita jalankan walo ramadhan telah usai.

    Met mudik Lih, cepet balik dan bawa oleh-oleh.

    Eh, saya blom pernah ke istiqlal sana, klo ntar dateng ke PB, saya pengen kesana ah 🙂

  2. ngerti aku..kenapa kok sepi
    soalnya pagi ato siang ya?
    klo malem lumayan kok lih.. cuman ribet klo sholat taraweh di situ.. kebesaran.. =(
    masih nikmat Sunda Kelapa ato Al Azhar bro.. =)
    boleh poto2 to di dalem itu… kapan itu mau poto2 tapi sungkan… wedi ditegur ambe wong’e
    seharusnya Ramadhan adalah bulan penggemblengan untuk bulan2 berikutnya.. semoga kita diberi hikmah dan bulan berikutnya harus lebih baik dari bulan2 sebelumnya. amin.

  3. “Apakah ponselmu telah berganti menjadi ponsel model terbaru?”
    yeah… anda tau jawabannya…. [-(
    eh eh… serius… 😛
    iya, tuh. kalo diliat2 fenomena ramadhan ada lucunya jg yah?
    pas awal2 ramadhan, mesjid2 yg penuh.
    pas akhir2 ramadhan, malah mall2 yg penuh.
    tanya kenapa…

  4. yaah ponsel saya blom gnti jd N95 mas ^_^ xixix
    entahlah yg saya rasain suasana Ramadhan g se khidmat dulu di kampung saya juga
    begitu pula pas idul fitri
    seperti bkurang silaturahimnya

  5. #anang:
    ini udah di rumah tulungagung

    #Hedi:
    selamat idul fitri juga. mohon maaf lahir dan batin

    #det:
    wah, ponorogo lak sik adoh soko kene?

    #Nike:
    sekalian kita kopdar 😀

    #fenty:
    amiin…

    #huda:
    bener, itu pagi hari.

    #Juminten:
    karena kita punya tradisi yang unik yaitu mudik 🙂

    #cebong:
    sama. saya juga merasakan begitu..

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *