Kado Cinta Terakhir Untuknya

Mall Ciputra, sebuah malam yang kering.

Aku menyadari teronggok di tengah-tengah rak buku di sudut lantai 4 Gramedia, Citra Land. Menemani si tante mencari buku yang dimaksudnya. Si Gendut Parsial itu katanya mau belikan buku untuk temannya, jadi muter ke sana ke mari nggak ketemu-ketemu. Berhubung utang budi dianterin beli baju di Matahari, jadi nggak enak kalau kutinggal begitu saja.

Tak sengaja mataku terbentur pada buku tipis berplastik dengan kertas tebal. Wanita cantik berkerudung menghiasi sampul yang terbuat dari kertas mengkilap. The Art of Scarf. Buku tentang pernak-pernik berjilbab atau berkerudung.

“Tidak! Jangan paksa aku membeli buku ini!” otakku berteriak histeris protes.

“Kenapa tidak? Apakah kamu ingin tetap menyiksa diri sendiri? Apakah kamu masih ingin membohongi diri sendiri?” hatiku berargumen dengan diplomatis. Ia pandai merangkai kalimat yang menjebakku pada pertanyaan yang aku tahu tak akan ada jawabannya.

“Akuilah kalau ia adalah seorang yang khusus. Yang pernah menghiasi hari-harimu dengan warna-warni pelangi. Yang mengajarimu untuk menerima sebuah kegagalan. Yang membuatmu jauh lebih kuat dari hari ke hari. Yang membuatmu lebih dewasa. Yang tak mungkin lagi kamu hapus namanya dari….”

“Cukup!! Hentikan!!”

“Bukankah hanya kepadanya kamu bisa menulis puisi yang paling indah? Bukankah ia yang selalu hadir dalam pikiranmu ketika kamu sedang dalam sepi? Bukankah sebenarnya sedikitpun namanya tak pernah lepas dari perhatianmu? Bukankah kebersamaan dengannya — sekecil, seremeh apapun — selalu tersimpan dalam memori jangka panjang otakmu?

Kamu sudah berbeda dengan yang dulu. Bukan saatnya lagi bersembunyi dan lari dari kenyataan. Mencoba menghapus namanya adalah perbuatan yang percuma. Ia sudah terlalu dalam menancap dalam hatimu. Tempatkanlah ia di tempat yang khusus, sebagai sebuah kenangan manis dimana kamu bisa tersenyum mengingatnya. Bukan senyum yang sedih lagi, tapi senyum bahagia…”

Tanganku kaku. Tenggelam dalam lamunan. Baru tersadar ketika si tante sudah ada di depan kasir dan mencabut Visa Silver Card-nya. Agak tergagap aku berjalan ke kasir sambil membawa buku itu.

Biarlah ini menjadi kado terakhirku untuknya. Kado tanda cinta yang terakhir untuknya…

Published
Categorized as Melankolis

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

14 comments

  1. nice writting !

    klo kita punya seumur hidup bersamanya, habiskan seumur hidup itu bersamanya
    klo cm punya sehari, habiskan sehari itu
    klo cuma semenit, habiskan semenit itu
    walaaaah…. lha kok ikutan melow… *masak lagi aah*

  2. Aiiihhh …. kalo si cewek itu gak mau, buat aku aja, Lih …. eh salah buat ‘tante’mu itu aja Lih … hahahaha *efek plurk masih nyambung ke sini* ๐Ÿ˜€

  3. #aRuL:
    kalo kata agnes monica rul, kadang cinta tak ada logika ๐Ÿ˜€

    #mae:
    manis sekali lanjutan puisinya ^__^ thanks

    #kholis:
    he he he

    #ndop:
    buku

    #Fenty:
    halah…

    lagi merindukan kata ganti “aku” di postingan. kayaknya efek romantiknya lebih kerasa kalau pakai “aku” ketimbang “saya” he he he

  4. Jadi inget His Dark Material.
    “Jangan berusaha melupakan rasa sakit itu, katakan pada dirimu, oke tanganku sakit, tapi aku tetap harus berkonsentrasi”

    *or something like that, aku nggak inget persis*

  5. hoi… hoi… kambuh maneh …. hahaha ๐Ÿ˜€
    “Biarlah ini menjadi kado terakhirku untuknya. Kado tanda cinta yang terakhir untuknyaรขโ‚ฌยฆ” yakin terakhir? hihihi ๐Ÿ™‚

    seperti katanya si kura2 :
    yesterday was a history
    tomorrow is a mystery
    today is a gift … so, gpp kan klo berbagi hadiah untuk dirinya ๐Ÿ™‚
    *gak nyambung mode : on

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *