Ramadhan Kedua di Jakarta

Tentang kondisi Jakarta:
Jika melihat kondisi jalanan, saya melihat Jakarta semakin padat tahun ini. Di jalan protokol mungkin masih terlihat lancar, tetapi di jalanan perumahan di balik gedung-gedung itu, nyaris setiap simpul perempatan terjadi kemacetan lalu lintas. Penyebabnya kalau bukan mobil parkir yang memakan sedikiiiiit saja dari jalan, atau pengguna jalan yang tidak mau saling mengalah dan akhirnya stuck di tengah-tengah. Mau mundur tak bisa, maju tak bisa. Sementara celah-celah antar mobil dipenuhi pengendara sepeda motor yang jumlahnya fantastis yang tak akan ditemui di selain Jakarta.

Suasana Ramadhan:
Beruntunglah saya hidup di negeri yang mayoritas penduduknya muslim. Suasana begitu meriah. Ketika sahur, masjid-masjid saling bersahut-sahutan membangunkan orang yang masih lelap lewat corong pengeras suaranya. Sore hari menjelang buka puasa, jajanan yang hanya muncul selama bulan puasa dijajakan di pinggir jalan. Kolak pisang, es buah, manisan, gorengan, kerak telor, dan semacamnya. Lengkap tinggal pilih. Ketika isya menjelang, masjid-masjid dipenuhi jamaah yang akan sholat tarawih.

Ungkapan semua ada di Jakarta juga berlaku di sini. Semua sistem sholat tarawih ada di sini. Ada yang mengikuti cara Rasulullah dengan delapan rakaat tarawih + tiga rakaat witir, ada juga yang ala khalifah Umar bin Khattab, dua puluh rakaat tarawih + tiga rakaat witir. Ada yang pelan-pelan mendayu-dayu menghabiskan satu juz, ada yang moderat, ada pula yang cepat seperti olahraga.

Sampai saat ini (hari keenam), saya tarawih di dua masjid yang berbeda. Masjid Al-Munawar di jalan raya Pasar Minggu, Pancoran, menjalankan tarawih dua puluh rakaat, dengan istirahat sejenak di rakaat kesepuluh. Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, tempat saya iktikaf sebentar kemarin lusa menjalankan tarawih delapan rakaat. Sementara yang menghabiskan 1 juz tiap harinya adalah Masjid Al-Hikam, Bangka Jakarta Selatan. Belum berhasil tarawih ke sana.

Suasana Sahur:
Saya bangun pukul 03:30. Di samping tempat tidur adalah peralatan sahur saya: Magicom kecil merk Sanken, termos kecil berisi air hangat, gelas raksasa isi air dingin, jam weker plastik kecil, sekotak tisu kertas merk Paseo. Televisi saya pasang di SCTV, sinetron Para Pencari Tuhan jilid 2. Dibandingkan seluruh stasiun TV, Metro TV dan SCTV adalah stasiun televisi yang acaranya bagus. Di Metro ada pembahasan Tafsir Al-Misbah oleh Quraish Shihab, dan SCTV ada sinetron bagus punya Deddy Mizwar. Selebihnya adalah acara lawak yang tidak jelas. O iya, jangan lupa buku bacaan. Yang sedang terserak di situ adalah Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2, Jangan Pernah Lalaikan Shalatmu, 50 Nasihat Nurani untuk yang Lalai Menunaikan Shalat, dan Biografi Khalifah Umar bin Khattab karya Dr. Muhammad Husein Haekal.

Dua hari pertama, persediaan lauk instan dari Giant Hypermarket Kalibata masih ada. Jadi saya makan pakai nasi. Tapi makan nasi waktu sahur mengakibatkan rasa yang nggak enak di pagi hari. Mbesesek kalau istilah Jawa. Jadi, tiga hari terakhir ini saya hanya minum air dingin. Ada pisang ambon satu tandan (isi sekitar 12 buah pisang) yang saya beli kemarin, jadi saya sahur pakai itu. Murah lho, satu tandan besar hanya Rp. 18.000. Kalau di Carrefour, itu bisa berharga Rp. 25.000. Yaa jangan bandingkan dengan kota lain. Ini Jakarta bung! Lumayan, masih bisa sehat sampai sore.

Cita-Cita:
Masjid Sunda Kelapa belum saya potret. Tidak ada keinginan dan motif kuat untuk memotret Masjid Dian Al-Mahri Depok (reminds me to her 🙁 ). Bacaan sampai Surat An-Nissa’ — masih sesuai target. Semoga tetap istiqomah. Amin.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

17 comments

  1. wah,,sangar mas gendut kie 😀
    saur cman sebiji pisang [bisa juga jadi kurma indonesia]
    moga sampean gak turun drastis yo mas,,,tak enteni report e sok bodo

  2. Hmm….nice post….ini lah Jakarta Bung, dengan segala pernak-pernik….tp dimanapun tmptnya, bagaimanapun suasanya, semoga qt selalu bisa menjalankan ibadah Ramadhan dengan ikhlas, dan selalu mendapat rahmat dari Allah….

    Mesjid Sunda Kelapa sepertinyah menyenangkan, sejuk dan di depan nya banyak orang jual makanan, paling banyak si sate padang gt de….
    Pernah mencoba di mesjid dkt SMP19 jl.Bumi? klo ga salah nama mesjidnya Al-Ikhlas….mesjidnya ga begitu besar, tp bersih, adem, sejuk….

    Setuju bung, klo saur terlalu kenyang dengan menu laukpauk yang sangat beragam, kayanya di pagi hari emang rasanya mbesesek…roti tawar oles selai stroberi dan aer putih ataw teh hangat rasanya cukup….ciao….

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *