Review: Cinta Segitiga (the Crush)

Judul Buku: Cinta Segitiga (the Crush)
Penulis: Sandra Brown
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Kategori: Untuk dewasa.

* Spoiler Alert *

Novel ini adalah novel kriminal yang dibungkus dengan kisah cinta segitiga yang rumit. Adalah dr. Rennie Newton, seorang ahli bedah yang cantik dan mandiri, yang menjadi pusat dari cinta segitiga ini. Konflik dimulai ketika Rennie ditunjuk menjadi ketua juri dalam sidang kasus pembunuhan dimana seorang penjahat bernama Ricky Roy Lozada menjadi terdakwanya. Karena dianggap kekurangan bukti, Rennie berhasil mempengaruhi anggota juri yang akhirnya membebaskan Lozada. Segera setelah itu, Rennie memiliki fans baru yang begitu kompulsif mengejarnya.

Tak lama setelah itu, rekan ahli bedahnya yang sedang bersaing memperebutkan posisi kepala dokter bedah, dr. Lee Howell, tewas secara mengenaskan di lapangan parkir rumah sakit. Melihat latar belakang hubungan dr. Newton dengan dr. Howell yang sering terlihat bertengkar, dan konflik mengenai jabatan, polisi segera mencurigai dr. Newton sebagai pelaku pembunuhan itu.

Detektif Wick Threadgill yang sedang cuti diminta mantan rekannya, Oren Wesley, untuk membantu dalam kasus penyelidikan ini. Wick yang tampan dan penakluk wanita itu dalam salah satu penyamarannya menyelidiki Rennie akhirnya jatuh cinta pada dokter bedah yang menarik ini. Namun, Rennie bukanlah wanita yang mudah didekati. Ada alasan tertentu dimana ia begitu menutup diri dan memaksakan untuk menolak Wick meskipun sebenarnya ia sangat menginginkannya.

Proses penyelidikan mengantarkan pada dugaan bahwa Lozada lah yang ada di balik kasus ini. Tapi apakah Lozada bertindak atas permintaan dr. Newton? Apalagi di persidangan sebelumnya, dr. Newton telah membebaskan Lozada dari tuduhan?

*

Novel ini adalah novel Sandra Brown saya yang pertama. Saya beli di stasiun Gambir untuk menemani perjalanan panjang Jakarta-Tulungagung dengan kereta Gajayana. Dibandingkan dengan penulis-penulis novel yang pernah saya baca, karakter Sandra Brown juga unik. Alur konfliknya disusun dengan lambat dan tidak terburu-buru. Saya bahkan bertanya-tanya ketika telah sampai di separuh bagian novel, kenapa belum ada konflik yang berarti?

Dengan model alur seperti ini, karakter dan penokohan diceritakan dengan begitu mendetail dan dalam. Saya bahkan bisa membayangkan dengan jelas seperti apa dr. Rennie Newton itu. Wajah cantik, pintar, mandiri, agak tertutup, bertubuh langsing, dan berambut panjang. Sikapnya agak dingin dan profesional khas dokter bedah, tetapi baik dan ramah kepada pasien-pasiennya. Sedangkan Wick Threadgill sendiri tipikal pria yang digandrungi banyak wanita. Wajah tampan, tubuh atletis, kokoh dan kuat, pembawaan yang jenaka, dan sorot mata yang tajam.

Novel ini memiliki akhir yang happy ending. Tapi seperti kebanyakan penulis-penulis novel top, sebuah happy ending tidak pernah diakhiri dengan datar. Ada sesuatu yang dibiarkan menggantung yang mengusik pembaca. Maksudnya adalah untuk menanamkan kesan pada novel. Di sini kita tidak bisa menyimpulkan apakah cinta Wick dan Rennie akan berlanjut bahagia atau tidak. Bukan tipikal cerita klasik Cinderella atau Putri Salju (happy life ever after). Cerita diakhiri dengan penolakan Rennie atas lamaran Wick untuk hidup bersama selamanya, sebelum mereka memulai petualangan seks di atas tempat tidur yang luar biasa.

Published
Categorized as Review

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

1 comment

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *