Tidakkah Kita Punya Sedikit Rasa Empati?

Pertama adalah publikasi rekaman kotak hitam Adam Air yang naas itu. Entah siapa yang membocorkan pertama kali, hal ini telah terlanjur menggelinding seperti bola salju. Tak tertahankan. Orang beramai-ramai mendownload rekaman yang tragis itu. Pemuasan hasrat akan rasa penasaran yang kejam. Televisi tak ketinggalan. Ada yang bahkan mengangkatnya menjadi headline.

Dimana rasa empati kita terhadap keluarga yang ditinggalkan?

Tidakkah kita pernah membayangkan bagaimana perasaan mereka kalau mereka sampai mendengarkan suara orang-orang yang mereka cinta menjelang ajal menjemput?

Kedua adalah berita tentang pembunuhan berantai, Ryan, yang oleh media di-blow up sedemikian rupa seperti tontonan hiburan saja. Menyaksikan wajah-wajah palsu para pembaca berita yang sok innocent membaca dengan takzim. Ini mengesankan, pembunuhan terhadap manusia lain itu hal yang biasa. Tidakkah mereka menyadari bahwa ini adalah pendidikan yang buruk bagi masyarakat? Dan apa yang terjadi? Orang berbondong-bondong mengunjungi rumah Ryan seperti tempat wisata saja. Seperti ketika orang-orang “berwisata” menyaksikan para korban lumpur Lapindo. Menyaksikan kepedihan keluarga yang berduka dengan riang gembira. Pemuasan rasa penasaran yang tak dapat dibendung.

Dimana rasa empati dan simpati kita?

Perusakan moral telah terjadi di antara kita dan tidak seorangpun bisa menghentikannya. Berita pembunuhan, perkosaan, perceraian, konflik rumah tangga adalah berita yang biasa menemani kita makan.

Tak ada pula yang bisa menjawab kenapa saya ikut mendengarkan rekaman kotak hitam Adam Air, kenapa saya ikut penasaran, kenapa rasa empati saya hilang entah ke mana…

Dan kenapa saya ikut menuliskan hal setragis ini di blog saya…
Entahlah…
Mungkin semacam frustasi. Kenapa bangsa saya yang besar ini tidak mendapatkan pendidikan yang layak dan hanya menjadi objek sebuah industri komersial? 🙁

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

9 comments

  1. Aku juga termasuk orang yang mendengarkan, lih. Kayaknya rasa empatiku juga terkikis karena lingkungan yang “mendukung”. Semoga aja rekaman blackbox itu palsu seperti yang diberitakan detik.com.

  2. kl tiap hari kita disuguhin sot itu oleh media, ya lama-lama kita kebal… dan yah spt kt anang, semakin tragis, semakin banyak yg pengen nonton… 🙁

  3. bukan nya ngk punya rasa empati ato simpati. tapi mungkin kita terlalu sibuk mungurusi masalah masing2 yang ngak kalah banyak nya.

    yach maklum aja

  4. sebenarnya langkah pemerintah segera menyelesaikan permasalahan ini juga menjadi kunci.
    Media juga terlalu berlebihan, sy sepakat dengan tulisannya sirikit syah di jawapos tentang jurnalisme damai.

  5. Bad news is esier to sell?

    Ini bisa jadi bahan posting tersendiri, tapi sepertinya dengan gaya tulisanku yang agak satiris, aku bakal terlihat kejam dan tak berperasaan.

    Kamu bisa menuliskannya lebih baik kawan.

  6. ummm… kalo menurutku seh wajar2 aja org jd penasaran.
    bukan hanya org Indonesia, kok.
    org2 di luar negri sono jg berbondong2 ke TKP setelah terjadi peristiwa 11 September.

    *eh, aku nulis gini bukan utk membela org2 yg penasaran itu loh ya! 😛 aku aja sampe skrg belum ngederin rekaman kotak hitam itu dan ga main2 ke rumahnya Ryan yg pasti angker itu. hehehe…*

  7. waduh ya aku termasuk orang yang penasaran dengar katanya orang dikanan dan dikiriku, coba ngeliat yang ada di youtube, tapi gimana mau dengerin, masi tengah2 kututup yutubnya.. ndak pengen lagi..

    takut ndak enak makan 🙁

Leave a Reply to Aris Kumara Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *