Menikah: Woro dan Farid

FLICKR
Lokasi: Halaman depan FK UI, Jakarta Pusat
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR | Adobe Photoshop CS 3

Apa jadinya kalau dunia komputer informatika dipasangkan dengan dunia kedokteran? Inilah hasilnya: sebuah pernikahan antara M Farid Taufiqurrahman, S.Kom S.T dengan dr. Woro Hastiningsih (maaf kalau salah menyebut gelar 😀 ) pada tanggal 26 Juni 2008 di Tulungagung.

Good guy is for the good girl. Pasangan yang sempurna. Nyaris tanpa cacat cela di pribadi keduanya. Farid, saya kenal sejak SMA, adalah siswa terbaik SMAN 01 Boyolangu Tulungagung angkatan 1999-2002, langganan peringkat pertama paralel sejak kelas 1 hingga kelas 3. Mewakili Indonesia dalam tim Olimpiade Kimia Internasional di Belanda pada masa akhir masa SMU-nya dan melanjutkan ke jurusan Teknik Informatika ITB pada tahun 2002. Lulusan cum laude ITB 2006 ini sekarang bekerja di LintasArta di bilangan Thamrin Jakarta. Kalem, cerdas luar biasa, cepat dalam menyerap pengetahuan, rendah hati, dan lurus taat dalam jalan Islam.

Woro sendiri saya kenal sejak SMP (SLTP Negeri 02 Tulungagung). Sebagai salah satu siswa lulusan terbaik SMUBOY, ia melanjutkan S1-nya di Pendidikan Dokter FKUI yang pada waktu itu terkenal sangat sulit ditembus oleh peserta SPMB. Ramah, murah senyum, pintar memasak, rendah hati, dan ia adalah akhwat yang berpandangan luas bukan fanatik sempit.

Sejak kapan bunga cinta bersemi di hati keduanya, saya tidak tahu. Mereka sangat pandai menyembunyikan putik-putik cinta yang sedang bermekaran di depan wartawan-wartawan gosip (baca: teman-teman termasuk saya). Selayaknya tidak pernah terjadi apa-apa di antara keduanya kecuali hanyalah berteman baik. Jika ditanya soal siapa calon mereka, mereka dengan lihai mengelak dan berkeras untuk sama sekali tidak memberikan petunjuk sekecil apapun.

Namun bukankah sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga? Saya mulai curiga atas hubungan keduanya ketika mendengar Woro memanggil Farid dengan sebutan “Mas Farid”. Dan Farid begitu hafal sudut-sudut apartemen Woro. Pikiran usil saya terusik, “Pasti ada apa-apanya ini.” Akhirnya suatu hari mereka mengaku bahwa mereka adalah pasangan calon suami-isteri dan bersikeras menyuruh saya untuk tutup mulut. Bahkan mereka melarang saya membuat postingan ini kalau mereka belum sebar undangan pernikahannya. Karena kemarin saya mendapat SMS dari Woro, “Le (kependekan dari thole — panggilan khusus Bulik Woro kepada saya), kapan arep njupuk undanganmu?” akhirnya saya bisa juga publish tulisan ini. Hehehe…

Semoga acaranya lancar tiada aral yang melintang. Selamat menempuh hidup baru yang penuh cinta kasih yang diridhai Allah SWT, kawan. Semoga keluarga yang kalian bangun langgeng dan utuh selama-lamanya, dikaruniai anak yang berbakti kepada orang tua dan membanggakan orang tuanya, keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah. Amin, ya rabbal ‘alamiin…

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

12 comments

  1. ehem2…. Seri berikutnya klo sampe keluar…ehmm No HP Dukun Santet Banyuwangi berapa??ada yg tau??wkakaka

Leave a Reply to J_Q Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *