Melankolis di Blog Ini, Lari kemana?

Entahlah, Saya nggak tahu. Dulu, kalau sedang mellow yellow, saya selalu curhat dan menulis di sini. Puisi, tulisan kesedihan, patah hati, pemujaan terhadap perempuan, harapan, cita-cita… Sekarang kok ewuh pakewuh nulis di sini. Lha? Kok nggak enak sama blog sendiri? Ya sudahlah, sekarang biarlah saya menulis yang mellow-mellow lagi.

Kapan lagi kutulis untukmu,
Tulisan-tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Puisi terindahku hanya untukmu

— Puisi (Jikustik)

Mungkin juga sinkron dengan saya yang sedang capek. Ada joke kecil ketika saya telah mendapatkan “jawaban sakti” dari perempuan. Apaan tu? Jawaban yang hanya ada dua: ya, atau tidak. Dan saya mendapatkan — lagi-lagi — jawaban “tidak”. Joke kecil yang terlintas di pikiran saya adalah: “Gagal maning gagal maning Son…” Sebuah ungkapan terkenal dari tuyul Pampam kepada tuyul Samson/Sontol di sinetron Tuyul dan Mbak Yul ketika gagal menangkap si Ucil untuk kesekian ribu kalinya.

Waktu itu, semangat masih menyala-nyala. Pantang menyerah. Tapi, entah kenapa kok tiba-tiba semangat itu padam. Capek rasanya kalau harus mengulangi dari awal lagi. Perjalanan memperkenalkan diri yang sangat memakan waktu, pikiran. Yang paling sulit adalah ketika kita telah memutuskan untuk jatuh cinta, lawan terbesar yang harus dihadapi adalah diri sendiri. Hal yang paling melelahkan adalah mengendalikan gejolak perasaan ketika dipermainkan oleh orang yang kepadanya kita sedang jatuh cinta.

Setelah beberapa kali mencoba dengan hasil yang sama, saya tiba pada kesimpulan yang aneh. Skill saya tidak mencukupi. Saya tidak bisa membuat sebuah chemistry yang membuat seorang perempuan merasa nyaman dan aman ketika bersama saya. Yang malah mungkin timbul adalah rasa segan — sebuah perasaan yang kontraproduktif. Biarlah. Ya bagaimana lagi, aura adalah sesuatu yang tidak bisa dibuat-buat. Kalau saya mencoba menghilangkan aura yang muncul dari pribadi saya, artinya saya telah membohongi diri sendiri. Saat itulah saya kadang berandai-andai, andai setiap orang bisa sejenak saja melepaskan segala atribut dari pribadi mereka baik ketika menilai atau dinilai orang lain…

Desperate? Mmm… bukan, istilahnya bukan itu. Tapi realistis. Orang mesti tahu kapan dia harus berhenti sejenak. Saya bukannya tidak mau mencoba lagi. Tapi kalau sekarang buat apa? What for? Toh saya tidak mengubah apa-apa. Artinya saya akan menyusuri jalan yang sama untuk kesekian kalinya lagi. Dan ujung jalannya telah ketahuan. Untuk sementara, berhenti dulu sebelum memulai lagi. Doh, If-then-else sekali ya jalan pikiran ini? hehehe… ๐Ÿ˜€

Dulu, tempat mengadu dan melampiaskan adalah bahasa pemrograman. Haha, untunglah bukan narkoba atau sejenisnya ๐Ÿ˜€ . Saya masih ingat ketika saya bisa menguasai Visual Basic dalam suasana belum bisa menerima kenyataan setelah menerima kata-kata pendek yang mengiris tajam, “… aku udah punya cowok…” :)) Sejak itulah saya menyukai bahasa pemrograman.

Sekarang? Ada kamera. Kalau jeli mengamati, mayoritas foto-foto saya berjiwa sepi. Berkomposisi sederhana, tak banyak warna yang tercampur, tak banyak subjek yang menjadi fokus. Karena perasaan itulah yang saya bawa dalam viewfinder. Agar setelah melepas shutter, rasa sepi, sedih, dan kecewa (dan entah apa lagi) segera lepas dari benak. Karena berlarut-larut dalam perasaan tersebut tidak baik. Kayak orang susah aja, hahaha… :))

Mellow itu tetap perlu, saya kira. Kita tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa di satu sisi kita sedang begitu sepi. Sakit karena cinta itu seperti sakit gigi. Dia hanya muncul ketika orang sedang tak punya kesibukan yang memerlukan konsentrasi. Waktu itulah dia menyerang. Dan Sret! Hati berdesir tanpa diminta dan akhirnya… ya… pedih.

Ada yang datang, dan setelah itu ada pula yang pergi. Yang telah pergi biarlah menjadi kenangan dan setiap daripadanya akan menjadi pelajaran yang berharga. Bagi saya, yang penting adalah proses, bukan hasil. Sebagai cowok, kita tidak memiliki kekuasaan untuk menentukan hasil. Cuma ada dua hasil: berhasil dan gagal. Berhasil tidak akan ada kalau tidak ada gagal. Dan di dalam proseslah ada sesuatu yang menjanjikan keberhasilan. Bagi saya, kalau saya telah berproses dengan baik, tidak melakukan banyak blunder, dan sebisa mungkin membawakan diri apa adanya, tak akan ada yang perlu saya kecewa. Bahkan kalaupun hasilnya adalah gagal. Karena kita tidak akan pernah berhasil kalau takut terhadap kegagalan.

Wokeh, cukup melankolisnya. Welcome back melankolis. Hehehe… ๐Ÿ˜€

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

13 comments

  1. “รขโ‚ฌยฆ aku udah punya cowokรขโ‚ฌยฆ”

    *dalam hati*
    Kalo pun belum, kamu bukan tipe ku…

    Begitulah wanita, selalu membingungkan !

  2. Ha..ha…
    kesekian kalinya setelah saya amat-amati kisah mellow. sejak blok ini versi pertama, kedua dan yng terakhir ini…

    saya mendapatkan satu kesimpulan kecil, bahwa dari kesekian kalinya mas Galih dlm menceritakan kegagalan..

    ada satu benang merahnya knapa selalu kisah cinta berakhirnya aneh(heee…he)..yaiu belum siapnya Jiwa mas Galih untuk terikat…ini mkn yg tidak terasa…

    didalam jiwa masih ingin merdeka..masih ingin hunting Foto tanpa harus minta ijin, masih ingin membikin program sampai larut malam tanpa harus lapor bahwa yayang masih lembur….dsb-dsb

    lah akhirnya jiwa itu membentuk aura aneh(yg katanya mas Galih), itulah penghalangnya…

    sepertinya yng harus dilakukan adalah…mau utnuk terikat, mau meluangkan waktu utk berdua, mau meninggalkan layar PC, mau meninggalkn hobi hunting foto hnya sekedar menemani dia makan….

    lah kalo sudah siap melakukan itu ( jiwa terikat) saya rasa tidak sulit mendapatkan pujaan hati………

    Gimana Siap beralih kedunia Lain ???

    Selamat Berjuang !!

    maap kalo analisa saya terlalu jauh

  3. jangan patah semangat untuk hanya sekedar bermimpi… slalu yakinlah mimpi kita akan tercapai…
    yup, hanya yakin saja.. dan semua akan terbuka jalan untukmu..

    jangan lupa tetep senyum dan optimis..

  4. puas2in motret dulu mas.. sampe bisa manjat en motret gunung . hebat tenan..ngiri saya :p….:p

    saran dari yg dulu kaya mas galih.. PD aja lagi !!

  5. the more I know about mas Galih, the more I admire.

    And the strange part is, even he acknowledges it as a ‘weakness’, I still feel it as a strength instead. Fabulous!

    stay cool mas, for this case
    Good guy is for a good girl =)

  6. aku belum komen disini yah…
    sedikit berlawanan dengan xendro (berlawanan ato searah yah? ๐Ÿ™‚ ) . Klo aku nilai… mas galih bakalan berubah sekitar 180 derajat dari sekarang, jika seandainya dia telah memiliki pendamping. Seseorang yang telah lama menunggu dan mencari… berarti dia ingin ada yang memperhatikannya, membuat hidupnya merasa lebih berarti, dan membuat hidupnya menjadi berarti bagi orang lain. So, klo mas galih udah punya ntar… gak mungkin dia posting hal2 begini lagi (ya iya lah… ngapain juga dia curhat diblog, klo udah punya ๐Ÿ™‚ )

    *kita sama kawan ๐Ÿ™‚ … untung punya kamera, whahaha ๐Ÿ˜€

  7. Bro..nasibmu ki kok Podho Ambek sing tak rasakke…!! Wis Sing sabar ae Mung Durung waktune Nemu jodo ae Musti Tabah Lan Narima,
    Wong wadon iku Angel tebakane Aku ki Jomblo
    Yo wis Tahunan Ning Bedane Aku ki Pengangguran Yen sampeyan khan Wis Mapan.

    Mbuh Piye ki..?? Wis Aja Melo-melo terus ko ra bisa nemu gantungane Ati….Wong Wadon iku ???

    ” mBInGUnk-ke “

  8. Mas, dulu kangmasku jg bbrp kali ngalamin hal kyak gini, sampe sempet desperado gitu. Tapi beliau percaya pada sebuah kalimat, “…someone will come at last…” Dan hadirlah aku…
    **duh, penting gak seeeh…!!**

    Aku setuju proses lebih penting drpd hasil, well, someday, foto2 mas akan lebih berwarna, n’ I’ll wish for it !

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *