Jakarta yang Angkuh

Jakarta. Kemana hilangnya rasa kemanusiaan kota ini? Kota ini lebih mirip dengan kota yang dihuni oleh robot-robot individualis dengan segala kekacauannya. Sedemikian kejamkah ketimpangan ekonomi mengubah kultur masyarakatnya? Pertanyaan ini timbul kemarin ketika saya berjalan-jalan menyusuri jalanan Jakarta. Dan pada akhirnya, sebagai orang yang ikut mengais rezeki di ibu kota negara ini, saya hanya bisa trenyuh dan sedih melihat kenyataan yang ada.

Lalu lintas yang kacau. Sangat kacau. Super duper crowded. Anda tidak akan menemukannya di tempat lain selain di Jakarta. Semua orang sudah kehilangan akal sehatnya. Aturan lalu lintas dilanggar. Semua orang tidak ada yang mau mengalah dan memberi ruang satu senti saja kepada pengguna jalan yang lain. Semua berdesak-desakan dan hanya memikirkan diri sendiri agar sampai ke tempat tujuan secepat-cepatnya (cepat, dalam artian kecepatan maksimal kendaraan Anda rata-rata 10 km/jam saja).

Akibat dari keegoisan semua orang ini tentu saja menambah kesemrawutan lalu lintas. Di setiap persimpangan yang tidak ada lampu lalu lintas atau pak Polisi, dapat dipastikan macet total. Maju tak bisa, mundur pun tak bisa. Orang menjadi mudah marah dan tidak sabar dalam kondisi seperti ini. Klakson dibunyikan sekencang-kencangnya jika ada pengguna lain yang melakukan sedikit kesalahan seperti pengklakson tidak pernah melakukan kesalahan. Semua orang mati rasa. Semua orang memandang pengguna jalan lain sebagai pengganggu. Orang bermobil benci setengah mati pada pengendara sepeda motor. Pengendara motor sinis kepada orang-orang kaya bermobil.

Sore kemarin, saya salah belok di daerah Senayan City yang kemilau diguyur ribuan megawatt lampu listrik. Saya tersesat masuk kompleks elit di daerah Simprug. Melalui rumah-rumah besar berpagar setinggi lima meter. Meskipun mewah, ada kesuraman yang begitu kentara di sana. Rumah-rumah itu sekilas memiliki garasi yang paling tidak berisi tiga mobil. Dengan pagar setinggi itu, apapun kejadian di rumah itu, tak seorang pun bisa tahu. Kalau ada orang dibunuh, mayatnya pasti ditemukan membusuk seminggu kemudian.

Kontradiktif dan ironis saya temui ketika saya berhasil keluar portal kompleks mewah itu. Saya memasuki perkampungan sempit, sesak, dan kumuh. Saya bahkan belum ada 500 m meninggalkan kompleks mewah tadi, tapi jurang pembeda yang saya lihat dalam redupnya lampu sepeda motor tua saya begitu lebar. Wajah-wajah muram tanpa senyum memandangi saya mengiringi saya menembus gang tikus yang kecil itu. Keangkuhan sepertinya sudah tidak pandang status ekonomi lagi. Baik kaya ataupun miskin memiliki keangkuhan akut yang sama.

Saya terus berusaha mencari jalan. Pom bensin adalah tujuan saya karena tangki motor saya sudah nyaris habis. Ngeri membayangkan kalau saya harus mendorong motor di tempat saya tersesat seperti ini. ITC Permata Hijau saya lewati. Rasanya semakin jauh saya meninggalkan Senayan. Saya harus berhenti dan bertanya kepada penjual kaki lima di pinggir jalan dimana ada pom bensin terdekat.

Beragam jawaban mereka,

“Lurus terus ke sana, lalu belok di situ, ” bahkan mata penjaja nasi goreng keliling itu tak memandang jalan apalagi memandang saya. Konsentrasi penuh ke nasi yang sedang digorengnya.

“Auk…” kata pejalan kaki setengah baya acuh tak acuh sambil berlalu.

“Lurus, lalu ketemu pertigaan ke kiri, lalu ke kanan, terus saja di kiri jalan ada pom, ” kata tukang ban tanpa membalas senyum sopan yang saya perlihatkan.

Setelah mengucapkan terima kasih, Saya coba ikuti petunjuk itu hingga ketemu papan penunjuk jalan yang bertuliskan Pondok Indah Mall. Hah? Bukan pom bensin yang saya temukan, tetapi malah tambah jauh tersasar hingga nyaris PIM. Navigasi darat yang saya kuasai tak ada artinya kalau malam hari. Akhirnya, saya ganti strategi. Saya belok lagi ke tukang kakilima dan membeli teh botol. Dua botol sekaligus habis dalam sekali tenggak. Sambil membayar, saya bertanya.

Ajaib, detail sekali penjelasan beliau si tukang teh botol. Semoga itu bukan karena saya membeli teh botol. Dan akhirnya saya bisa menemukan pom bensin dan kembali ke Senayan dengan lancar.

Sambil berjalan pelan-pelan, pikiran saya dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Kemana perginya keramahan dan kehangatan khas orang Indonesia? Kenapa semua orang menjadi gila dan egois? Dimana semua yang telah saya pelajari di buku PMP, PPKn, hingga Kewarganegaraan — bahwa Indonesia itu gemah ripah loh jinawi grapyak sumanak? Apakah buku itu hanya menjual mimpi dan inilah kenyataan yang sebenarnya? Kalau begitu, pantas saja Taufik Ismail menggerutu lewat puisinya: Malu Aku Jadi Orang Indonesia.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

14 comments

  1. mungkin salah satu orang yg ditanyai itu emang sok tau jakarta kali yakz.. hehehe

    yah memang fenomena kota besar selalu memberikan dampak buruk.
    hari ini sy membaca tulisan di baru di blogsphere membahas tentang kekecaman ibukota lho 😀

  2. Sing sabar lih urip nang Jakarta :D, ngomel2 tambah makan ati. Tp kok tetep di Jakarta lih ? Apakah galih (dan saya) adalah contoh dari korban2 orang indonesia yang ga punya pilihan lain untuk mengembangkan diri dan karier di Jakarta ?

  3. kesabaran adalah hal yg langka di jaman-jaman sekarang. apalagi di jakarta yg serba semrawut..

    @arul: loh, di sini kok mau komentar, di rumah baruku kok ndak mau?? dasar pilih kasih.. hehe..

  4. #aRuL:
    begitulah…

    #aris kumara:
    nah, itulah. meskipun semrawut, rasanya ada semacam kekuatan yang dimiliki Jakarta untuk tetap mengikat orang untuk berat meninggalkan Jakarta. Soal pilihan, kukira selalu ada pilihan ris. Cuma, apakah pilihan itu lebih baik, itu yang tergantung masing-masing orang.

    #ndop:
    setuju

  5. yach,,mosok sampean menyamakan jakarta dgn hometown tercinta,,yo gak iso mas,,
    secara orang jawa yang menjunjung tinggi gotongroyong dan kerjabakti, mengusung adab kesopanan dan berbakti pada orang tua, tentunya dengan kenaikan harga BBm akan sangat menambah kepedihan orang desa..istilahe back to nature..
    kembali mencari kayu untuk memasak dan menikmati kebahagiaan hidup yang serba apa adanya..

    *aduh gak iso nyambung

  6. Cara terakhir itu sering saya lakukan, selain suka teh botol tentunya :)) memang dengan menjadi pembeli, setidaknya kita juga jadi enteng untuk nanya2 sih, dan selama ini cara itu berhasil … kalau datang ke kota baru, itu juga yang saya lakukan. Kalau pedagang kan biasanya cukup ramah dan tidak punya niat jahat.

  7. hehehe… Ini Jakarta Bung!!!
    *selogan orang Medan yang terkanal itu 🙂

    Mengapa Jakarta macet, mengapa Jakarta menjadi daya pikat setiap orang (miskin, kaya, pengusaha, karyawan, tukang sapu, tukan angkot dkk)…
    karena Indonesia tidak pernah adil kawan,
    75% lebih perputaran uang di Indonesia berada di Jakarta… 🙂
    siapa coba yang tidak tergiur dengan keadaaan seperti itu… itulah penyebabnya Jakarta menjadi sebagai kota segala ‘kebrutalan’ 🙂

  8. bagaimana klo ibukota Indonesia pindah dari jakarta? well.. itu sebuah teori dan ide nyeleneh dr pitri si mengingat daya dukung kota ini sudah over the limit. walo ribet, namun sepertinya lbih mudah memindahkan pemerintahan ketimbang sentra bisnis yg sangat bergantung pada infrastruktur. stidaknya banyak orang dr bagian kota jakarta yang akan ikut pindah bersamanya. 😀

  9. #tukang foto keliling:
    analisa yang mantap, ndrak

    #pitri:
    sudah ada beberapa orang yang menggelindingkan wacana perpindahan ibukota ini, tapi masih sebatas wacana saja. perpindahan ibukota adalah hal yang sangat berat dilakukan.

  10. saya sudah lama entah kenapa tidak suka pada jakarta dan memilih kalau bisa tidak akan tinggal disana… saya tidak suka macet yang kalau menurut orang jakarta adalah hal yang biasa *saya memilih tidak terbiasa*… saya tidak suka dari pagi sekali di jalan dan berakhir malam hari lama di jalan…saya tidak suka tidak merasa aman dengan pandangan penuh curiga dan paranoia yang menjalar…saya tidak suka ketergesagesaan yang dibanggakan karena katanya waktu adalah uang…saya memilih tinggal di bandung yang katanya orangnya pemalas dan terlalu santai…ah…entah kapan saya akan bisa suka pada jakarta…saya memilih tidak perlu saja…

  11. klo menurut saya bukan pemindahan ibu kota yang dilakukan,
    tetapi bagaimana pengembangan ekonomi Indonesia dipindahkan dari Jakarta… klo Indonesia mau adil, Surabaya, Medan, Makasar dan Batam adalah kota-kota yang layak untuk dikembangkan. Mengingat kota-kota tersebut adalah kota-kota pelabuhan, dan telah mimiliki infrastruktur yang tidak kalah dengan Jakarta.
    Kita hanya bisa menunggu kebijakan pemerintah agar investasi2 yang masuk bisa disebar secara merata diseluruh tanah air.

    *ide iseng dari rakyat kecil 🙂

  12. saya mungkin termasuk orang yg sedikit anti utk tinggal di jakarta. meskipun utk karir saya (di bidang sound engineering / rekaman) seharusnya berada jkt, tetapi sy lebih memilih utk tdk ke jkt, krn bagi saya, kalau semua org berusaha utk ke jkt, kapan daerah akan bisa maju, jika bukan kita yg mengembangkan daerah kita sendiri. salam.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *