Gambaran dan Konsep tentang Perempuan Ideal

Saya baru saja menyelesaikan bagian pertama dari buku roman Jepang karangan Eiji Yoshikawa, Musashi, yang menceritakan kelahiran Takezo menjadi seorang yang memilih Jalan Samurai sebagai jalan hidupnya. Takezo berganti nama menjadi Miyamoto Musashi.

Ada gambaran kecil yang menyentuh saya. Otsu. Otsu, menurut imajinasi saya adalah gadis dengan perawakan mungil, cantik, lembut dan setia. Ia setia pada janjinya untuk menunggu Takezo setiap hari di jembatan Hanada dan tiga tahun ia habiskan untuk menunggu cintanya. Kasihan Otsu, sebelumnya ia menunggu tunangannya Matahachi pulang dari perang. Akan tetapi tunangannya malah lari dan menikahi seorang janda yang menyelamatkannya dari perang. Singkat cerita, ia jatuh cinta pada Takezo alias Musashi yang masih menjadi penjahat. Dalam sebuah pelarian, sebelum berpisah ia dan Takezo mengucapkan janji setia bahwa ia akan menunggu setiap hari di jembatan Hanada. Menanti Takezo kembali.

*

Saya percaya bahwa konsep setiap orang mengenai prinsip hidupnya dipengaruhi oleh lingkungannya. Saya sendiri yakin kalau saya telah diracuni oleh buku-buku yang telah saya baca. Otak saya habis dicuci oleh buku-buku yang kebanyakan adalah novel. Saya sudah membaca habis hampir semua karya Agatha Christie, Sidney Sheldon, dan Sir Arthur Conan Doyle. Tak heran kalau saya jadi begitu melankolis seperti ini. Tanpa sadar saya kagum pada sosok Sir Charles Cartwright (Three Act Tragedy – Agatha Christie) yang mendramatisir kehidupannya. Dan masih banyak tokoh-tokoh novel yang saya kagumi yang begitu mempengaruhi saya: Jupiter Jones (Trio Detektif) dan Hercule Poirot yang sering dicela karena penampilan luarnya yang tidak menarik tapi memiliki otak yang sangat cerdas. Tokoh seperti Robert  Langdon (The Da Vinci Code, Angels and Demons – Dan Brown) meskipun juga cerdas agak kurang meracuni saya… mungkin karena Robert Langdon tampan dan menarik. Hahaha…

Mungkin hal yang sama juga terjadi pada konsep saya mengenai gambaran perempuan yang ideal dambaan itu. Saya menilai gambaran saya terlalu artistik dan tidak nyata. Kurang lebih seperti Otsu. Lemah lembut, bermata teduh, kecil mungil, dan setia. Atau kalau seperti yang digambarkan Agatha Christie dalam kisah Hercule Poirot di Tugas-Tugas Hercules (The Labors of Hercules), gadis seperti Otsu adalah tipe-tipe yang tanpa berusaha sedikitpun bisa membuat seorang pria melankolis berusaha menjadi seorang pahlawan baginya. Gambaran yang terlalu romantis. Tidak nyata.

Itulah mungkin salah satu sebab saya pernah mengalami patah hati begitu lama. Sekitar empat tahun. Saya menyadari ternyata saya jatuh cinta pada orang yang nyaris-nyaris memenuhi tokoh perempuan dalam novel-novel yang saya baca. Suaranya yang lemah lembut yang sering saya dengar via telepon menyihir saya. Waktu saya ditolak, saya begitu menikmati sakitnya patah hati. Ada kesempatan untuk melakukan seperti Sir Charles: mendramatisir diri sendiri. Puluhan posting dan puisi dibuat khusus untuk memujanya. Saya baru sadar kalau sebenarnya saya tidak jatuh cinta padanya, tetapi jatuh cinta pada kegilaan diri sendiri untuk melakukan dramatisasi dan menjadi tokoh cerita pada novel yang saya buat sendiri. Peran yang sangat menyenangkan: pria yang sakit karena patah hati.

Masih belum beberapa lama saya kembali ke dunia nyata. Mencoba benar-benar jatuh cinta pada orang saya cintai, bukan karena saya ingin mendramatisir kehidupan lagi. Akan masih sangat panjang perjalanan saya. Saya belajar untuk tidak terlalu kecewa dan patah hati ketika kegagalan demi kegagalan tiba. Kalau saya patah hati, artinya saya kembali melangkah mundur. Ada yang datang, ada pula yang pergi. Saya akan terus belajar untuk tidak mencari figur seorang Otsu, tetapi sesuatu yang jauh lebih nyata dan konkret.

Begitulah.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

11 comments

  1. oh wanita.. sejuta rasa penuh pesona. ia hadir dalam hayal nyata pria yg butuh dia spt apa yg diinginkan… kalu boleh jujur ga ada yg paling ideal kecuali hanya faktor kebetulan sahaja. kebetulan ketemu dan kayanya cocok. dan sedikit ada faktor aji mumpung. kalo ideal wah kita harus audisi sekian milyar perempuan.. trus nemuin satu yg terbaik. itu memilih populasi bukan sampel.. hahaha.. statistike metu.. halah… ayo lih berusaha… keluarkan puisi bak pujangga yg meluluhkan hati wanita pujaan, rangkaian bunga mawar semerbak mewangi… ah so swit..

  2. jadi inget pelajaran dari guru tajwid saya:

    cintai apa yang kamu cintai sekedarnya saja, mungkin suatu saat akan menjadi sebaliknya..

  3. Dalamm..dalam..

    tetapi jatuh cinta pada kegilaan diri sendiri untuk melakukan dramatisasi dan menjadi tokoh cerita pada novel yang saya buat sendiri

    tapi otsu-nya ntar balik lagi kok..

  4. seperti dulu mas yg pitri bilang mau bikin cerita based on your-true-broken-heart-story. yakni jika di ujung sakit hati yg didramatisasi seorang galih satriaji, si mbak int** bilang “iya, aku mencintaimu dan ingin jadi istrimu..”. jeng jenggg!!! dan di saat itulah si lakon menyadari bahwa dramatisasinya itu bukan cinta.. namun obsesi..

  5. Seperti kata orang bijak:
    Ketika aku mencintai Manusia aku kecewa karena cintanya yang tak sempurna… Dan ketika aku mencintai Alloh maka akupun kecewa karena cintaku yang tak sempurna

    Salim di bukunya blg:
    Cinta…..
    Ruh yang mengalir lembut,jernih, indah dan ceria
    Cinta….
    Luh yang mengalir lembut, menyesakkan, berderai jerih dan badai..

    Trus.. apa sebenarnya?????

  6. stlah mmbca smuany,sya mydari stu hal,trnyta sya jg tipe pndramatisir,bgtu mnikmti rs skit dr rumitny prcntaan,sprti otsu yg mnkmti kpdihan mngjar mushasi,gmn crany tu kmbli hdup normal?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *