Proses Pemblokiran, Penjelasan Secara Awam

Dunia internet Indonesia sedang ribut-ribut gonjang-ganjing mengenai rencana pemblokiran beberapa situs yang dianggap kurang baik oleh pemerintah. Sebenarnya bagaimana sih proses pemblokiran tersebut? Saya akan mencoba menjelaskannya dalam kacamata awam se-awam mungkin yang saya bisa.

Untuk memahami jaringan internet yang rumit, mari kita bayangkan sebagai kompleks perumahan saja. Kita bayangkan komputer-komputer kita adalah rumah yang ada di dalam kompleks. Setiap rumah memiliki nomor rumah. Nah, untuk keluar dari kompleks, kita harus melalui gerbang utama yang dijaga oleh pak satpam.

Kegiatan mengakses sebuah situs di internet, kita seperti keluar dari kompleks, melalui gerbang utama, kemudian minta izin ke pak satpam dulu. Pak Satpam akan bertanya kita akan kemana. Kita jawab ke suatu rumah di kompleks lain dengan alamat ini. Pak Satpam akan mencocokkan dengan peraturan apakah kita memang diperbolehkan berkunjung ke sana. Jika tidak boleh, kita sama sekali tidak bisa keluar dari kompleks dan berkunjung ke rumah yang akan kita tuju, meskipun rumah itu adalah saudara kita sekalipun.

Hanya Menghambat, Tidak bisa Mencegah

Apakah kita memang tidak bisa berkunjung ke rumah itu kalau sudah dilarang pak satpam? Selama pak satpam membolehkan kita keluar, kita tetap bisa. Biasanya, pak satpam hanya membolehkan kita keluar jika kita akan menuju ke:

  • Perpustakaan (80, HTTP)
  • Kantor polisi  (443, HTTPS)
  • Pasar (21, FTP)
  • Kantor Pos (25, SMTP)

Pak Satpam biasanya akan melarang jika tujuan kita adalah:

  • Agen Pengiriman Paket (3128, 8080, Proxy Server)
  • Gedung Pertemuan (5050, Yahoo Messenger)
  • Rumah-rumah yang bernomor selain nomor tersebut di atas.

Pak Satpam yang lebih teliti akan melihat lebih detail lagi. Pak satpam akan melarang kita berkunjung ke perpustakaan tertentu seperti Youtube dan Multiply misalnya, karena mereka memiliki koleksi pornografi. Atau bahkan lebih detail lagi, kita boleh berkunjung ke perpustakaan Youtube tetapi tidak boleh masuk ke lantai 2 gedung tersebut karena di sana ada koleksi pornografi.

Pak Satpam juga manusia yang memiliki keterbatasan. Kita tetap bisa mengunjungi rumah-rumah yang dilarang pak satpam tanpa harus menyakitinya. Cukup yakinkan pak satpam bahwa kita akan berkunjung ke tempat yang menurutnya boleh.

Cara pertama

Kita bilang ke pak satpam, “Pak, saya akan ke kantor polisi mengurus SKKB.” Siapa yang akan melarang dengan niat mulia tersebut? Pak satpam tentu akan mengizinkan. Tetapi pak satpam tidak tahu kalau ternyata kita tidak berkunjung ke kantor polisi, tetapi ke agen pengiriman paket yang memiliki nomor pintu sama dengan kantor polisi, yaitu 443. Pak Satpam hanya bisa mengenali tujuan kita dengan nomor pintu yang kita tuju. Pak Satpam tidak bisa mengikuti kita dan ikut memeriksa apakah benar yang ada di balik pintu 443 benar-benar kantor polisi. Lha, karena kita telah berhasil keluar dari pak satpam dengan cara yang sah dan tiba ke agen pengiriman paket, kita bisa minta agen tersebut mengantarkan kita kemana saja yang kita mau, termasuk ke gedung pertemuan Yahoo Messenger yang bernomor 5050. Inilah yang dinamakan HTTP Tunneling. Contohnya adalah yang dilakukan Pak Harry Sufehmi ini. Semoga Allah memberikan amal jariyah buat bapak dengan layanan ini. Amin.

Cara kedua

Cara ini lebih mudah. Kita bilang ke pak satpam, “Pak, saya akan ke perpustakaan dengan alamat ini.” Karena alamat ini tidak masuk dalam daftar alamat “hitam” milik pak satpam, kita akan diizinkan keluar. Tetapi ternyata perpustakaan tersebut sama sekali tidak memiliki koleksi buku. Istimewanya, kita bisa minta ke petugas bahwa kita ingin koleksi dari perpustakaan lain yang bisa jadi dilarang oleh pak satpam. Perpustakaan macam begini jumlahnya sangat banyak. Inilah yang dinamakan Web Proxy. Contohnya, misalnya http://56st.com

Begitulah, pak satpam tetap memiliki keterbatasan. Untuk cara pertama, kalau mau, pak satpam bisa saja mengikuti kemana kita pergi dan memeriksa apakah kita benar-benar pergi ke tempat yang kita bilang ke pak satpam. Tetapi bayangkan berapa tenaga yang harus dikeluarkan pak satpam untuk mengurusi sekian banyak penghuni kompleks yang sama-sama sibuk.

Untuk cara kedua, pak satpam harus memiliki catatan perpustakaan mana saja yang tidak memiliki koleksi. Jumlahnya sangat banyak. Catatan pak satpam bisa membengkak menjadi beribu-ribu halaman. Dan tentunya memerlukan waktu yang lama untuk mencocokkan tujuan kita dengan ribuan halaman itu. Tenaga yang dibutuhkan tidak sebanding dengan hasil.

Solusi

Itulah kenapa, pengurus kompleks (Pak Menteri Kominfo) berkali-kali berkata bahwa pemblokiran hanyalah satu layer dari tiga layer yang direncanakan. Saat ini sedang disiapkan satpam yang bisa ditempatkan di masing-masing rumah. Satpam ini tidak memblokir, tetapi memberi tahu. “Ibu, situs ini kurang baik karena mengandung pornografi. Berbahaya bagi anak-anak Anda yang masih remaja.” Sehingga peran orang tua dan guru sangat diperlukan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat.

Published
Categorized as Internet

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

9 comments

  1. memang begitu harusnya, 3 layer tersebut harus bisa jalan..

    lha anehnya kan masyarakat kita ini kalo dilarang malah suka melanggar, malah dengan bangga menunjukkan cara baru untuk mengakses situs bokep..

    kreatifitas yang salah jurusan :mrgreen:

  2. nah… masa blog yang baru saya buat dan sama sekali tidak mengandung pornografi juga tidak bisa di akses???? kok semua blogspot di blog, tolong dong, gimana cara mengaksesnya?? padahal saya pengikut adsense

    kalau ada cara untuk mengaksesnya, tolong sampaikan dong pak Galih, bingung neh. pemerintah tak mampu ngurusin dunia nyata.. eh malah merambah dunia maya yang urusannya lebih rumit, payah dah.

    http://manahutanku.blogspot.com tidak dapat diakses, di blok sama pemerintah……, anggota dewan yang jelas2 main perempuan kok tak bisa di blok ya??? padahal jumlahnya juga tak banyak jika dibandingkan para netter

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *