Tentang UU ITE

Waktu mengetahui pemerintah telah melakukan pemblokiran situs-situs dewasa via Indonesia Internet Exchange (IIX), saya tidak terlalu peduli dengan berita dan segala reaksi kehebohan yang terjadi. Apakah saya pembenci situs porno? Ah, kalau saya menjawab “iya”, berarti saya munafik dan mencitrakan diri saya sebagai orang baik di sini. :)) Sebaliknya, saya adalah salah satu fans berat dari Maria Ozawa dkk yang tergabung dalam MFC. Microsoft Foundation Class? Oh, bukan… tetapi Miyabi Fans Club (thanks to crew lab AJK yang menelurkan istilah ini). 😀

Kabar hot terbaru adalah beredarnya film Fitna yang isinya (lagi-lagi) merupakan penghinaan terhadap Islam. Film ini beredar di Youtube. Dengan payung hukum UU ITE yang baru, Depkominfo secara tegas (dan emosional?) membreidel Youtube dari Indonesia. Masyarakat Indonesia dilarang mengakses situs Youtube. Beredar kabar bahwa film ini juga ada di Google Video. Apakah Google akan dibreidel juga?

Saya bertanya-tanya. Youtube adalah situs web 2.0 yang basisnya adalah publik. Kalau ada content yang melanggar terms and condition, publik juga bisa mengirim protes. Salah satu contohnya adalah video-video liputan pertandingan Liga Inggris. Saya sering mendapati pemberitahuan dari pihak Youtube bahwa isi telah tidak ada lagi karena melanggar copyright. Biasanya karena ada laporan dari pihak pemegang copyright. Nah, pertanyaan saya, kenapa pemerintah via Depkominfo tidak melakukan hal yang sama? Youtube adalah situs yang sangat terbuka. Daripada melakukan boikot terhadap Youtube, kan rasanya lebih elegan dan bijaksana melaporkan isi tersebut kepada Youtube.

Kalau sudah begini, siapa berikutnya? Multiply, Friendster, Facebook, Myspace, Flickr, Yahoo!, WordPress, Blogger, dan akhirnya, Google. Tapi mungkin juga ada hikmah positif kalau semua layanan itu menghilang dari bumi Indonesia. Kita akan dituntut lebih kreatif lagi membuat content-content lokal yang bermanfaat sehingga menghemat biaya bandwidth luar negeri kita.

Internet, masih merupakan barang mewah dan mahal di negeri kita.

Published
Categorized as Opini

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

10 comments

  1. lho sebelumnya pemerintah kan sudah protes ke youtube dan tidak ditanggapi..

    saya usul nama roy suryo untuk dibekap mulutnya [dibreidel] juga ah!

  2. OOT : hahaha… MFC 🙂
    iyo lih… aku enek rencana kate gawe film tandingan Fitna, lagi mencari dukungan iki 🙂
    lek enek konco yo budal… lek gak yo gak budal 😀
    untung nang kene gak dblok MFC ne … eh salah,
    youtube dll. jadi sek iso nonton highligh sepakbola 🙂

  3. #Nike:
    Dulu, kami kru lab AJK (Arsitektur dan Jaringan Komputer) memiliki fans club lokal yang dinamakan MFC. Eksistensinya ditunjukkan dengan adanya folder bernama MFC di suatu tempat yang hanya anggota klub bisa mengaksesnya hehehe…

    #det:
    tapi kok Youtube cuma diberi waktu 2 hari? pakai ultimatum lagi. kesannya seperti tidak dengan cara baik-baik. mungkin youtube merasa kebebasannya diusik sehingga tidak menggubris ultimatum tersebut. ini menunjukkan siapa punya posisi tawar yang lebih tinggi.

    #tukang foto keliling:
    semangat!

    #cipluk:
    iso juga disingkat MFC: Mawar berduri Fans Club hehehehe 😛

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *