Dialog Aneh tentang Masa Lalu

Biasanya kalau sebuah hubungan persahabatan itu sudah akrab, maka batas-batas akan mulai hilang. Seperti dialog di bawah ini,

“Nduk (Adik — red), kenapa dulu kamu menolak aku?” tanya saya,
“Karena dulu aku belum begitu mengenal sampean (kamu dalam arti yang sopan, bahasa jawa — red)” jawabnya pasti tanpa pikir-pikir.

“Jadi, mari kita berandai-andai. Andai sekarang kamu lagi jomblo, kamu masih nolak aku nggak kalau kamu aku lamar sekarang?” sambung saya dengan sedikit jahil bin usil.
“Karena aku sekarang udah kenal, aku akan mau!” jawabnya, lagi-lagi dengan tegas dan pasti.

Wah… mungkin juga ia bisa menjawab dengan begitu pasti karena beberapa bulan lagi ia akan menikah. Suasana hatinya memang sedang gembira, karena saya baru saja menyatakan diri bersedia untuk menjadi fotografer pre-wedd buatnya dan menjadi seksi sibuk di acara pernikahannya — setelah berkali-kali saya berkata tidak mau waktu ia minta.

Kemudian pembicaraan mengalir ke masa-masa lalu. Waktu masih zamannya Wartel. Waktu saya masih suka menelepon nomor berkepala 0274-562xxx itu lewat Wartel Sakinah (supermarket di lingkungan kampus ITS). Waktu saya menembaknya dan ia tolak, waktu ia kemudian berpacaran, lalu putus dan memiliki waktu jeda sebentar untuk sendirian.

“Dulu, waktu kamu lagi kosong beberapa bulan itu, andai aku masuk dan menyatakan cinta lagi, kamu mau nggak?” tanya saya lagi. Masih penasaran rupanya saya, hehe.
“Mau.” sahutnya pendek.
“Aaarggh….! Kenapa dulu aku nggak masuk yah??”
“Salah mas sendiri kenapa dulu nggak mendekati aku lagi, padahal aku kan nggak cari yang aneh-aneh, ” semburnya.
“Hah, iya yah… yah.. namanya… kalau nggak jodoh…” desah saya agak menyesal.

Begitulah, percakapan yang aneh. Kami sendiri heran, karena apa yang mendekatkan kami adalah hal yang akan membuat orang lain saling membenci: yaitu luka karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Kami telah beranjak beberapa tahun lebih tua. Terlalu banyak yang telah kami lalui bersama dalam persahabatan yang aneh. Dia menganggap saya kakak, tetapi saya tak pernah menganggapnya adik.

Pesan moral dari dialog tadi adalah: Nyatakanlah cintamu atau kamu akan menyesal. Ini adalah pesan moral dari guru Matematika SMA saya, Pak Priyo. Sakit karena ditolak ternyata memang tak seberapa dibandingkan dengan sakit karena tak sempat menyatakan cinta. Menjadi secret admirer itu ternyata lebih sakit. Sekarang saya baru sadar perbedaannya. Paling tidak, kita telah lega kalau sudah menyatakan cinta. Urusan kok ternyata setelah itu ditolak, ya.. itu salah satu risiko yang harus diambil. Seperti koin mata uang. Fifty-fifty. Tapi rasanya, mak plong, tanpa beban. Jadi, nyatakanlah cintamu sekarang kawan, sebelum keduluan ia diambil orang, hahaha… :))

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

11 comments

  1. Ada seseorang yang pernah tanya gini ke saya sebelum saya menikah, tapi sayang, terlambat.

    Hal ini bisa jadi hal yang ngangenin kayaknya 🙂

  2. dau hal mas,,

    pertama,, ini nduk yang mana ya? jangan2 nduk itu 😛 😛

    yang kedua mas,,

    bener kata sampean,, lebih baik diungkapkan,, pengalaman ku juga gtu,, plong,, yang penting dia dah tahu perasaanku ,,, meski akhirnya ya di-reject ,, hiks hikss :((

  3. lha aneh juga sampeyan ini cak, belum deket kok udah nembak? ya ditolak to…

    ah… tapi itu kan sudah terjadi, dan seperti kata sampeyan sendiri, sekarang dah plong meski gak jadian, malah dia akan menikah duluan..

    inget kata maria girgis: cinta dan keinginan untuk memiliki itu tidak sama

    jadi apa yang sampeyan rasakan sekarang?! 😛

  4. #Nike:
    wah, telah berapa hati ya yang telah Nike patahkan? 😀

    #Arif:
    bukan nduk yang itu, tapi nduk yang itu lagi. adik-adik ketemu gede-ku kan buanyak tuh nggak cuma satu 😛
    hayo semangat rif! welcome to the rejected club :))

    #det:
    namanya juga masih amatiran hehehe… amatir forever lah… rasanya sekarang? tanpa beban, siap menyambut esok hari yang cerah, hahaha…

  5. “Pesan moral dari dialog tadi adalah: Nyatakanlah cintamu atau kamu akan menyesal”

    akhirnya…. terjaga juga dirimu dari mimpi itu :p
    udah bangunkan sekarang…. ayo tancap gas, masih ada seribu kesempatan yang akan ditemui.
    klo ada kesempatan jangan dibuang lagi yah…
    Gak ada noda gak belajar :p

  6. wah mas galih, bukan perasaan yang salah, perasaan sering kali di luar kendali kita :),yang sering kali salah itu cara kita menyikapi perasaan itu :D, hihihii, peace.
    [akhirnya gak tahan kasih comment juga setelah senyum2 lek pas moco blog sampyan]
    recommended blog: http://menjemputbidadarisurga.blogspot.com/
    cerita tentang teman mulai taaruf sampai insyaaAllah nikah besok.

  7. “Pesan moral dari dialog tadi adalah: Nyatakanlah cintamu atau kamu akan menyesal”

    Aku cinta padamu lih :p ( minimal ada yg bilang itu padamu kawan ) hahaha berjuang trus pren sampe pulsa penghabisan 😀

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *