Review: Valentine Sweetcase

Judul Buku: Valentine Sweetcase, Love Birds
Penulis: Astri Adhe
Penerbit: Terrant Books

Hahaha… tak saya duga saya memilih mengambil buku yang terserak di kumpulan chicklite ini daripada buku Mein Kampf-nya Adolf Hitler untuk mendampingi buku Ketika Cinta Bertasbih yang sudah masuk keranjang belanja duluan. Yah, siapa kira saya beli buku lagi kemarin. Inilah racun yang tak bisa ditahan waktu masuk Gramedia. Adaa… saja yang menarik untuk dibeli. Padahal, saya sangat sinis terhadap novel bergenre chicklit: terlalu ringan, sederhana, dan mudah ditebak. Tentu saja, lhawong target marketnya adalah cool teens, bukan yang sudah tua kayak saya. 😀 Tapi saya langsung ambil tanpa pikir panjang ketika ada kata-kata ini di sampul depannya yang berwarna pink lembut:

I love you not because of who you are but because of who I am when I am with you

Alamak…
Saya yang termasuk pengkhayal sejati saja tak pernah bisa bikin kata-kata seperti ini, dalam tingkat melankolis tertinggi sekalipun.

Ada dua cerita di sini, semuanya adalah kisah remaja yang sedang jatuh cinta. Kisah utama adalah kisah seorang secret admirer bernama Bali. Bali adalah seorang siswi yang cerdas yang bisa masuk ke sekolah elit (dalam konteks: sekolah yang didominasi orang-orang kaya) dengan beasiswa. Ia menyukai seorang bintang basket bernama Bas. Bas tampan, kaya, dan menjadi idola semua gadis di sekolah itu. Bali sadar, dunia mereka jauh berbeda. Ia memendam perasaan selama dua tahun dan menikmati cintanya lewat foto-foto Bas yang ia ambil dengan kamera tua miliknya dengan lensa tele pinjaman dari sekolah. Begitulah konflik bermula…

Membaca buku ini, saya serasa kembali ke sekitar tahun 1990-an, dimana ketika itu saya menyukai cerpen-cerpen remaja yang dimuat majalah Anita Cemerlang [Masih ada nggak ya majalah ini sekarang?]. Gaya bahasa, penceritaan, alur, manajemen konflik dan klimaks, teknik penyentuhan emosi pembaca, sangat mirip dengan cerpen-cerpen itu. Entah mungkin karena alur ceritanya yang mudah ditebak, ataukah emosi saya yang memirip-miripkan perjalanan kisah cinta saya dengan sang tokoh utama, saya rela melewatkan waktu kerja setengah hari di hari Minggu kemarin.

Mungkin memang seharusnya mimpi tetap menjadi mimpi. Terlalu sulit untuk dianggap nyata.
Hal. 147

Yeah… mungkin sebaiknya…
Mimpi memang tetap menjadi mimpi…

Published
Categorized as Review

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

6 comments

  1. Tuntasin dulu KCB 1 dan 2 Mas.
    Terus baca trilogi Syahadat Cinta.
    Saya juga sering kalap klo beli buku, ke Gramedia bawaannya mo beli ajah.

    Heren juga, kok Mas Galih mo beli buku Chicklit ya :p?

  2. #dhany:
    Malah belom dibuka plastiknya 😀

    #Nike:
    Jangankan Nike, saya sendiri aja heran kenapa saya ambil chiklit itu, hahaha… :)) tapi asik juga baca cerita cinta yang “teen banget” Romantis, menyentuh, memainkan emosi. wah… entahlah, hahaha… :))

  3. wekekeke… cak galih rupanya juga suka bacaan beginian ya… cinta… cinta… datang tak diundang, pulang tak diantar 😀

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *