Olah Digital, Menurut Saya

Waktu masih setia memakai kamera analog pinjaman (Nikon FM-10), saya termasuk dalam kubu yang menentang keras adanya olah digital dalam fotografi. Sindiran keras saya ada di sini.

Anda fotografer atau potosoper sih? 🙂

Bagi saya, seni fotografi adalah murni seni melukis dengan cahaya. Kepuasan dalam hobi fotografi terletak saat bagaimana sulitnya mengukur cahaya, mengira-ngira seberapa kombinasi bukaan diafragma, kecepatan rana (shutter speed), dengan ASA film kamera yang telah terpasang. Ingat, Anda hanya diberi jatah 36 kali jepret dalam satu rol film. Hasil yang tidak dapat dilihat langsung juga menambah tingkat kepuasan jika ternyata hasilnya bagus. Jika jelek, atau ternyata celakanya film telah terbakar sehingga tidak ada satupun hasil yang jadi, menangisnya bisa sampai semalaman.

Pernah saya dulu, memotret lingkungan mengkilap salah satu hotel berbintang lima di Kuta Bali dengan FM-10. Di perjalanan di tempat lain, waktu film sudah habis, saya coba gulung rol film dan menggantinya dengan yang baru. Celaka, saya lupa melepas kunci rol film sehingga waktu saya gulung film-nya putus. Jadilah menangis bombay semaleman. Jadi, ketika satu saja foto dari kamera analog berhasil, seperti foto ini, senangnya luar biasa.

Sampai datangnya era kamera digital di dunia saya. Berawal dari Canon Powershot A400 dan adiknya sekarang: Nikon D40. Perlahan, saya berganti pandangan 180 derajat seiring kemampuan olah digital yang semakin terasah. Dengan olah digital, kita bisa memberikan sentuhan yang kita inginkan dimana kamera kita tidak bisa melakukannya. Keterbatasan ini bisa jadi karena kemampuan kamera itu sendiri ataupun kondisi lingkungan yang kurang mendukung.

Efek biru dari filter Circular Polarizer (CPL) bisa didapat dengan mengatur Curve dan Color Balance. Efek filter Infra Red (IR) bisa didapat dengan mengatur Channel Mixer. Efek Depth of Field bisa didapat dengan mengatur seleksi dan melakukan proses Gaussian Blur atau Lens Blur (PS CS3+). Oh, Anda melakukan kesalahan pengaturan exposure? Gampang, pakai Exposure Adjustment, Contrast and Brightness. Warna kurang ngejreng? Pakai Saturation & Hue Adjustment.

Olah digital sampai batas ini, orang masih bisa menerima karena olah digital seperti ini bisa dilakukan di kamar gelap bagi film seluloid (analog) dan bukan merupakan manipulasi atau rekayasa digital. Lalu bagaimana dengan rekayasa digital dalam fotografi itu sendiri? Titik inilah yang menjadi perdebatan sengit di dunia fotografi digital.

Wajah pacar Anda kurang cantik karena pipinya ada dua titik jerawat? Anda tak perlu menyuruh make-up artist untuk menambah alas bedaknya. Cukup memakai Healing Brush Tool atau Patch Tool, jerawat pacar Anda hilang tanpa bekas. Anda merasa foto Anda akan jauh lebih bagus andai ada dua pohon, bukan hanya satu? Duplikasi layernya, geser pohon ke tempat yang Anda inginkan. Beres.

Sampai batas ini, saya setuju ini bukanlah fotografi lagi tetapi sudah masuk dunia digital imaging. Namun demikian, saya sangat tidak setuju dengan pernyataan,

Ah, sekarang mah gampang bikin foto bagus. Tinggal asal jepret, lakukan sisanya di Photosop.

Saya harus menarik ucapan saya yang dulu begitu meremehkan fotografer penganut olah digital. Memang zaman sekarang jauh lebih mudah membuat foto bagus, seiring perkembangan teknologi. Namun bagaimanapun juga, olah digital hanyalah sebuah alat bantu untuk menjadikan foto kita lebih sempurna lagi. Semakin bagus “foto mentah” hasil jepretan kamera, semakin mudah olah digitalnya, semakin bagus hasil akhirnya. Olah digital adalah sesuatu yang wajib di dunia fotografi digital. Tidak percaya? Apakah Anda kira kamera digital memproses gambar tidak secara digital? Mengubah ISO level dan white balance jelas proses yang melibatkan software internal kamera untuk mengisi sensor dengan pixel-pixel. Berawal dari titik inilah perlahan-lahan saya mulai menerima olah digital dengan software pengolah citra seperti Adobe Photoshop. Tentu saja, hingga batas-batas tertentu.

Mari saya tunjukkan bagaimana olah digital mengubah sebuah foto menjadi begitu eye-catching. It’s all about the magic of Adobe Photoshop. 😀

Asli dari kamera:

Setelah di-retouch:

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

18 comments

  1. Hardware (kamera) dan software (photoshop)sudah tersedia, skrg tinggal pinter2nya brainware (manusia) yg make aja hehe..

    Mas Galih, kapan2 bahas tutorial step by step buat retouch gambar pantai diatas dong. Trims 🙂

  2. Fotografi pada dasarnya tetep jualan gambar, olah digital apapun tak akan mengurangi dan menambah nilai asli obyek gambar tersebut, kecuali hanya untuk kosmetik. Beda lagi jika rekayasa, misalnya photo vector. Itu udah bukan lagi fotografi, tapi digital imagining/designing. CMIIW

  3. #Jie, huda, geblek:
    mmm.. kalau buka tutorial potosop blog ini jadi semakin gado-gado dong 😕

    #fahmi!:
    maklum mi, murid jebolan FN 😀

    #galih:
    salam kenal juga lih 🙂

    #Hedi:
    setuju!

  4. salam kenal semua..
    wah seru nih.. kebetulan saya masih mahasiswa dan sedang membuat makalah dengan judul “pengaruh olah digital trhadap fotografer amatir”.. saya sudah melakukan beberapa riset dan wawancara.. dan ketika saya cari di internet, muncul lah halaman ini, dan sangat sesuai dengan judul makalah saya..
    1. Saya setuju dengan mas galih ttg kemudahan2 era digital sekarang.. seperti menghilangkan jerawat, tidak ada masalah dengan roll film, dll.. Tapi apakah pengalaman pahit saja yg membuat mas galih memulai dengan fotografi digital?? atau khususnya karena “kepraktisan” olah digital?? Tapi saya setuju dengan “olah digital adalah alat bantu”.. Berarti bukan alat UTAMA yang menjadikan foto itu bagus..
    2. Maaf pertama-tama, tapi saya sangat tidak setuju dengan mas Hedi “Fotografi jualan gambar”.. Mungkin karena mas hedi basicnya adalah komersial.. Lalu bila fotografi itu jualan gambar, dimanakah nilai2 estetika yang ada di dalam sebuah karya fotografi?? Buat saya fotografi itu adalah komunikasi visual, dimana sebuah foto mempunyai pesan2 yang ingin disampaikan oleh si fotografer lewat hasil foto itu sendiri.. Bukan sekedar foto yang dramatis, dengan gambar yang dasyat, tapi dengan pesan yang dangkal, apalagi tanpa pesan yang ingin disampaikan..
    3. Dan mungkin masalah komen dari mas Hedi “olah digital apapun tak akan mengurangi dan menambah nilai asli obyek gambar”, itu sangat tergantung seberapa banyak olah digital yang dipakai di foto tersebut.. Foto perahu2 yang dilampirkan mas galih diatas, jelas nilainya berubah total. di foto asli suasananya kelam tapi berubah menjadi sore yang hangat.

    Disini saya tidak membeda-bedakan fotografer atau photoshoper, tapi yang saya ingin cari tahu adalah bagaimana mental fotografer dengan adanya era digital saat ini. Apakah sebuah gambar yang indah, dengan warna yg bagus, obyek yang sempurna tanpa cacat adalah inti dari sebuah karya fotografi??
    Mohon saran2 dan bantuannya.. Saya hanya mahasiswa biasa yang mempunyai rasa ingin tau.. Terimakasih.

  5. TT, baru sja berpikir juga….

    baru bljar photoshop, tp malah lemes…
    brarti ndak perlu skill camera atwpun manusia ketika motret….
    tinggal skill photoshop ….TT

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *