Preview: Why Men Can Only Do One Thing at One Time and Women Can’t Stop Talking

Saya mendapatkan pinjaman buku ini dari Mbak Wuwus. Kenapa saya tertarik terhadap buku yang berjudul panjang ini adalah gara-gara film Jumper yang saya tonton bersama teman-teman di Setiabudi 21 tadi malam. Dalam satu adegan diceritakan bahwa gadis pujaan sang tokoh sedang bekerja di kafe. Sang tokoh utama yang telah lama tidak bertemu duduk di salah satu sudut kafe dan memandanginya diam-diam tanpa sepengetahuan sang gadis. Ketika akan beranjak keluar kafe, sang gadis menghentikannya dan berkata kurang lebih, “Setelah memandang selama 45 menit, sekarang pergi tanpa berkata hai atau hello?”

Moral cerita: Wanita bisa mengetahui  pria yang sedang memperhatikan dia sehebat apapun pria berusaha menyembunyikannya. Dan Saya…. sudah mengalami hal ini berkali-kali.

Suatu ketika di dalam bus, perjalanan Tulungagung-Surabaya, dua baris di depan saya ada wanita cantik. Tipe-tipe saya. Saya perhatikan dia dari belakang mulai dari terminal Tulungagung hingga terminal Bungurasih Surabaya. Sudut yang tidak mungkin terlihat olehnya, kecuali kalau ia punya mata di belakang, atau punya spion rahasia, atau CCTV di balik kerudungnya yang terlipat rapi dan serasi dengan bajunya. Betapa terkejutnya saya ketika tiba-tiba saja, tanpa tanda-tanda sebelumnya, ia menoleh ke belakang, tanpa ragu menusuk mata saya dengan pandangan tajamnya. Benci sekali pandangannya.

Dulu, Int pernah sampai menjerit karena risi saya pandangi dalam-dalam. Waktu itu saya memang suka memandanginya dalam-dalam. Mumpung masih boleh dan masih bisa, begitu pikir saya. Kata Int, wanita tahu karena ada semacam indera ke-6 yang merasakan kehadiran sorot mata pria kepadanya.

Si Me pun pernah bercerita kalau ia bisa melihat dalam sudut 90 derajat tanpa menoleh. Padahal saya hanya bisa melihat dalam sudut sekitar 45 derajat saja.

Karena itulah buku ini jadi menarik buat saya. Paling tidak, struktur pemikiran seorang wanita sedikit banyak bisa saya ketahui dari sini. Saya tahu, mempelajari wanita tidak boleh secara logis struktural ala kode program. Saya duga, pemikiran wanita itu sangat tidak terstruktur dan tidak logis, karenanya jarang ada programmer yang berjenis kelamin wanita. Tapi boleh lah sedikit saya tahu? Halo teman-teman saya yang cewek, ada yang bisa bantu sayah? Hehe…

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

9 comments

  1. One suggestion dude:
    Stop reading, and start doing. Error here, mistake there, a slap in the face, a door slam, rejection, acceptance, and learn, become better and better.

  2. Saya pernah dapet email yg judulnya sama Mas Galih dengan buku itu dari milis. Malah tak kirain cuma artikel, ternyata dari buku toh.

    Jumper ya, nonton ah… 😀

  3. “ia menoleh ke belakang, tanpa ragu menusuk mata saya dengan pandangan tajamnya. Benci sekali pandangannya.” -> ah ini kan perasaan dek Galih aja 🙂
    Tapi emang bener kok, jangankan dipandangi, lagi dipikirin seseorang aja kita kerasa kok 😀
    Sering kan, awakmu lagi luwe, trus liwat ngarep kubikelku, tanpa takon aku langsung menyodori “nih Lih ada makanan..” 😀

  4. ya ampyuuuuuuunnnn…… :))
    mesti kok ulasan2 ini

    eniwei knapa siiiihhh semua orang pada nonton Jumper. Aku nonton aja kecewa bangeett. ceritanya jeleeeekkkk… woi woi kawan2 yang laen, jangan nonton jangan nontooonn.. rugiii..

    ups ko kesannnya marah2 di blog orang ;))
    mohon maap lahir batin kang Mbaurekso .. 🙂

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *