Bidadari dari Surga (2)

Versi paparan dari puisi yang ini ๐Ÿ˜€

Saya masih duduk di kelas 1 SMP ketika membaca novel Agatha Christie yang berjudul Three Act Tragedy (Tragedi Tiga Babak — Hercule Poirot series). Salah satu tokoh dalam novel tersebut, Hermione Lytton Gore (Egg), dideskripsikan sebagai wanita yang menarik, energik, penuh vitalitas, tetapi tidak cantik. Aura vitalitasnya yang membuat ia tampil begitu menarik. Ia membawa roh romantisme pada novel tersebut dengan hero worship (tergila-gila pada tokoh idola)-nya kepada sang tokoh utama, Sir Charles Cartwright yang tampan.

Waktu itu saya tidak mengerti, bagaimana bisa kecantikan dikonfrontasikan dengan ke-menarik-an. Di benak saya wanita cantik pasti menarik, dan wanita yang tidak cantik pasti tidak menarik. Tetapi kemarin, saya baru mengerti maksud Agatha Christie itu. Ternyata, wanita yang berwajah tidak terlalu cantik bisa sebegitu menariknya di mata saya, sampai saya spontan tergesa-gesa menuliskan draft puisi untuknya di ponsel saya.

Ia memakai jilbab — atau lebih tepatnya kerudung — berwarna merah jambu (bukan pink) berpotongan sederhana yang tidak perlu skill lipat-melipat kerudung. Karek nylobokne (Jawa: Tinggal memasukkan [kepala]), int pernah berkata begitu pada saya. Memakai baju santai untuk jalan-jalan berwarna pink yang serasi dengan kerudungnya. Tingginya mungkin sebatas telinga saya. Kalau Anda pernah melihat busana presenter acara Perjalanan Tiga Wanita di Trans TV, semacam itulah model pakaiannya.

Saya lihat lagi wajahnya dalam-dalam dari sudut mata saya. Wajah itu berkulit putih lembut. Berbentuk bulat karena ia berpostur agak gemuk. Weweg, mungkin kalau menurut istilah sastra Jawa. Tidak cantik. Tidak, saya tidak dapat mengatakan ia cantik. Biasa saja. Bukan cantik seperti ular yang dikampanyekan produk pemutih di televisi dan radio yang cenderung kurus kering.

Entah beruntung entah apa, saya sempat menangkap senyumannya. Saya selalu suka menikmati senyuman semacam itu. Manis sekali. Itulah yang menjadikan ia menarik. Ia memiliki salah satu senyuman terindah yang saya tahu hanya dimiliki beberapa orang saja. Senyuman yang bisa membangkitkan imajinasi saya untuk menulis draft puisi pada ponsel saya dan menyelesaikan seluruh bagiannya pagi tadi, dan jadilah puisi pendek itu.

Dan inilah saya…

Hanya duduk di sisi gelap dan menikmati indah senyumannya diam-diam. Saya yakin ia sendiri tahu bahwa saya memperhatikan dia. Tiwi pernah berkata kalau ia bisa melihat orang tanpa menoleh dalam sudut 90 derajat. Focal length lensa mata cewek memang lebih lebar daripada mata cowok. Kalau cowok yang lebih berani, mungkin sudah mendatanginya, berkenalan, ngobrol basa-basi ngalor-ngidul, tukar menukar nomor HP. Tapi saya, seperti di ujung akhir puisi, saya hanya mengikuti bayangannya yang menghilang pelan-pelan di sela-sela kesibukan bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng.

PS: Maaf, tidak ada foto. Saya ingin mengajak anda bermain-main dengan imajinasi dan membayangkan seperti apa wanita yang begitu istimewa-nya sampai saya membuatkan dua postingan khusus untuknya ๐Ÿ˜€

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

5 comments

  1. Ini sih kerudung merah jambu pada model dalam posting yg berjudul “After Shutter Click”, dibawah tu..sebelum posting ini….

  2. Dan inilah sayaรขโ‚ฌยฆ
    Hanya duduk di sisi gelap dan menikmati indah senyumannya diam-diam

    ckckckck…
    jangan gitu donk mas galih, sekali-sekali
    trade mark diamnya disimpan… jangan dipake terus.
    cobalah sesuatu yang lain…
    gak ada noda gak belajar ๐Ÿ˜€

    * ini juga menasehati diri sendiri ko’ ๐Ÿ™‚

Leave a Reply to xendro Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *