Review: Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki

Judul Buku: Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki
Penulis: Emha Ainun Nadjib
Penerbit: Kompas
Jumlah Halaman: 258 hal.

Buku ini sebenarnya merupakan kumpulan tulisan-tulisan Cak Nun yang cenderung eksentrik dan di luar mindset orang normal.  Meskipun menggunakan bahasa yang lugas dan datar, namun karena materi yang disampaikan oleh Cak Nun bukan merupakan tulisan yang biasa ditulis orang kebanyakan, seringkali perlu dua tiga kali membaca kalimat-kalimat Cak Nun.

Tulisan-tulisan Cak Nun menunjukkan keluasan berpikir dari berbagai sudut pandang (bahkan dari sudut pandang ekstrim) yang begitu tinggi. Khas budayawan, Cak Nun memandang suatu persoalan sosial budaya di masyarakat kita dari sudut yang terkadang membuat alis terangkat. Ada bagian-bagian yang filosofis, ada bagian yang menohok, ada yang datar, dan ada yang menampar wajah kita sebagai masyarakat Indonesia.

Ya, masyarakat Indonesia belumlah dewasa. Buku ini membuat kita trenyuh terhadap kondisi masyarakat kita. Masyarakat dimana kita terlibat di dalamnya dan ikut membentuk wajahnya. Jangan korupsi, kecuali saya kecipratan! [hal. 16 – Pantat Inul adalah Wajah kita Semua]. Kita pasti pernah teriak anti korupsi. Tetapi ketika kita mendapatkan bagian hasil korupsi itu, kita diam-diam menikmatinya. Penduduk Indonesia ada dua. Perampok dan pengemis. Kalau sedang berkuasa, merampok. Kalau tak berkuasa, mengemis, pindah parpol, pindah koalisi, pindah tema dan komitmen, atas nama dinamika demokrasi [hal. 18].

Di bagian lain, soal heboh Inul, Cak Nun mengutip pertanyaan Aa’ Gym kepada Inul, “Apakah Mbak Inul tidak pernah bepikir bahwa yang Mbak Inul lakukan itu bisa merusak moral generasi muda bangsa kita?”

Inul menjawab dengan penuh kejujuran: “Alhamdulillah enggak….” [hal. 18].

Meskipun menunjukkan keluasan wawasan dan sudut pandang, tulisan Cak Nun sangat jauh dari sikap sombong dan sok tahu. Justru, kesan rendah hati yang kentara dalam tulisan-tulisan ini. Jadi jika ada orang sinis yang menyindir “Ah, paling cuma omong doang.” Bukannya marah atau berdalih, Cak Nun justru akan mengakui hal itu. Banyak bagian-bagian yang menunjukkan kerendahan hati ini.

Buku ini merupakan cermin nyata kondisi sosial masyarakat kita. Kita. Kita. Bahkan saking jengkelnya, Cak Nun mempertanyakan, siapa kita itu? Meskipun kita sering menggunakan kata “kita” yang berarti pihak pertama terlibat, namun seringkali pula dalam penggunaan kata itu, kita melepaskan diri seolah-olah kita berada lingkup. Padahal, kita adalah kita. Kita adalah masyarakat Indonesia. Kalau kita sadar bahwa masyarakat Indonesia belum dewasa, maka kita pulalah yang ikut membentuk wajahnya. Kita tak bisa melepaskan diri. Mau tidak mau, suka tidak suka.

Sebuah kondisi yang membuat trenyuh. Jika mata Anda belum terlalu terbuka, mungkin Anda perlu membaca kado cinta dari Cak Nun ini. Siapkan waktu karena bacaan ini bukan bacaan yang ringan. Tetapi waktu yang Anda sisihkan tidak akan percuma karena Cak Nun akan menyapa dengan ramah lewat tulisan di buku ini.

PS: Sebagian besar posting ini adalah subjektivitas saya, bukan buku. Kutipan langsung dari buku saya tandai halamannya dengan tanda kurung siku. 

Published
Categorized as Review

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 comments

  1. soal korupsi, dari dulu makanya saya ga mau terlalu menghujat koruptor karena sapa tahu saya benci karena ga punya kesempatan untuk melakukannya.

Leave a Reply to Hedi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *